Dua Tahun Hidup dalam Cengkeraman Santet Istri Muda


Malam itu udara terasa sangat dingin dan lembab. Karena beberapa menit yang lalu hujan turun cukup deras. Menyebabkan kondisi pada jalan jalan utama di sekitar kota pontianak, yang tadinya kering dan berdebu, kini tampak basah dan tergenang oleh air. Sementara jam di tanganku sudah menunjukan pukul. 01.00 dini hari. Waktu dimana seharusnya aku sudah melabuhkan tubuhku di atas ranjang dan kemudian berlayar menelusuri samudra mimpi yang tiada bertepi. Namun kenyataannya aku sendiri masih on the way, berputar putar dari sudut ke sudut yang lain dalam kota itu, guna memantau situasi. Maklumlah sebagai seorang wartawan kriminal yang ditempatkan pada desk kriminal, hal tersebut sudah menjadi kebiasaanku, biasanya seusai deadline dan evaluasi di kantor. Karena pikirku yang namanya kriminal, kapan dan dimana saja bisa terjadi, bahkan tak kenal waktu. Apalagi dalam bulan bulan ini tingkat kejahatan naik signifikan, jadi memang harus selalu waspada. Tak lama handpone dalam sakuku bergetatar, menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. “ Mudah mudahan ada informasi hangat mengenai suatu peristiwa yang terjadi malam ini,” ucapku dalam hati sambil merogohkan tanganku ke dalam saku celana.

Ternyata bukan, melainkan Herlin keponakanku yang berada di Bandung. Dia memberitahukan bahwa ibunya yang tak lain adalah bibiku, tepatnya adik abahku menderita sakit parah. Meskipun sudah sering berobat medis, namun panyakitnya tak kunjung sembuh. “ Oke, sekarang keadaan bibi gimana dan berada di mana?” tanyaku memastikan.

“ Mamah sekarang aku rawat di rumah dan kondisinya sudah parah,” jawab Herlin menangis.

“ Memang sudah berapa lama bibi sakit?” aku bertanya.

“ Sebenarnya sudah lama, bisa dikatakan sudah hampir dua tahun, namun parah parahnya baru baru ini. Aku minta maaf baru bisa memberi kabar. Aku harap kamu dan abahmu mau turun ke Bandung,” jelas Herlin yang kemudian mengakhiri pembicaraannya malam itu.

Tak ingin buang waktu, aku pun segera balik arah menuju pulang. Karena informasi sakitnya bibiku harus secepatnya ku sampaikan pada ayahku. Mengingat kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat memerlukan perhatian dari orang orang terdekatnya yang tak lain adalah abahku sendiri.

Sesampainya di rumah, aku pun bergegas menuju kamar tidur kedua orang tuaku dan hendak membangunkannya. Namun melihat keduanya tidur dengan pulasnya, aku pun mengurungkan niat dan mencoba menunggu sampai mereka terbangun. Karena aku yakin sebentar lagi abah juga akan terjaga untuk melakukan kebiasaannya mendirikan shalat malam. Sementara aku memutuskan untuk menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, tepat pukul. 03.00 pagi, abah pun bangun dari tidurnya. Tanpa membuang waktu lagi, aku segera menghampirinya, kemudian menceritakan prihal musibah yang tengah menimpa bibi pada abahku itu. Abahku spontan kaget dan setengah tak percaya dengan apa yang ku katakan barusan.

“ Yang benar saja. Kamu dapat informasi tersebut dari mana?” tanya abahku.

“ Tadi Herlin mendadak nelpon aku, bahkan sambil menangis. Dia mengharapkan agar abah segera turun ke sana,” jelasku.

Abah tampak bingung dan sedih mendengar berita tersebut. Maklum saja bibiku itu adalah adik satu satunya yang dimiliki dan abahku begitu sayang padanya. Karena setelah kakek meninggal dunia beberapa puluh tahun lalu, abahkulah yang merawat bibi sampai dirinya menikah, sebelum akhirnya merantau ke ranah Borneo. Meskipun ada abang tertuanya di sana, namun tidaklah begitu dekat. Sehingga bila ada permasalahan permasalahan, abahkulah yang selalu menjadi tempat mengadu.

“ Memang beberapa hari ini, perasaan abah tidak enak. Selalu teringat akan bibimu dan keluarganya. Informasi apalagi yang kamu dapatkan dari herlin?” tanya abahku perlahan. “ Hanya itu saja yang aku dapatkan, bah,” jawabku.

“ Apa sudah dibawa berobat ke rumah sakit?” abah bertanya lagi.

“ Menurut Herlin sudah. Namun sama sekali tak ada perubahan yang berarti. Malah semakin parah,” aku menjelaskan.

Abahku menarik nafas panjang kemudian menyandarkan tubuhnya di atas sofa. Kedua matanya menatap kosong lengit langit ruang tamu.

“ Apa Herlin menjelaskan ciri ciri penyakit yang diderita bibimu?” tanya abahku.

“ Sepertinya dirinya sangat panik, sehingga tak sempat memberitahukannya. Memangnya kenapa bah?” tanyaku kembali.

“ Firasat abah mengatakan kalau penyakit yang diderita bibimu itu bukanlah penyakit sembarangan melainkan akibat ilmu hitam,” tutur abah.

“ Maksud abah santet gitu?” aku memperjelasnya dan abahku pun menganggukan kepalanya.

Perlu diketahui sebenarnya abahku berasal dari kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebuah daerah yang memang terkenal dengan dukun dukun ilmu hitamnya. Sehingga yang namanya santet bukanlah suatu hal yang mengherankan dan dianggap tabu bagi masyarakatnya. Karena hampir setiap hari ada saja orang yang sakit bahkan meninggal akibat dari ulah orang orang tak bertanggung jawab. Makanya sudah menjadi kewajaran bila abahku berfirasat demikian.

“ Kalau memang keadaannya sudah mengkhawatirkan, sebaiknya abah turun saja ke sana. Mungkin dengan kehadiran abah, adikmu bisa agak tenang,” ucap ibu yang tiba tiba muncul dari ruang tengah, yang ternyata sudah mendengar percakapanku sedari tadi dengan abah.

Tiga hari kemudian, setelah mendapat kabar bahwa keadaan bibiku semakin parah dan sedang dirawat di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Bandung, aku pun segera mengurus cuti beberapa hari dan ikut terbang bersama abahku ke kota Phariyangan itu. Maksud kedatang kami ke sana, selain ingin menjenguk bibi, kami pun berencana akan membawa bibi berobat ke Kalimantan, tanah kelahiranku.

Sesampainya di sana, kami tak mampir ke rumah sakit, melainkan langsung menuju ke rumah herlin dan berniat menjenguk bibi pada keesokan harinya. Namun belum lama kami menunggu, sebuah mobil kijang berwarna biru mendadak masuk ke halaman rumah tersebut. Ternyata Herlin dan suaminya. Namun tak hanya mereka, tampak pula seorang wanita setengah baya keluar dari dalam mobil. Dengan tertatih tatih dirinya berjalan sambil kedua tangannya dipimpin oleh anak dan menantunya tersebut.

“ Lho, itukan bibi, bah?” tanyaku pada abah setengah tak percaya.

Abah tak menjawab pertanyaanku. Dirinya pun ternyata merasakan hal yang sama denganku. Mengingat baru tiga hari kemaren dirinya ditelpone kalau adik kesayangannya masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh dan semakin parah, namun kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Ada pemandangan mengharukan terjadi saat itu ketika bibiku melihat kehadiran abah. Kedua matanya berlinang. Meskipun kondisinya sangat lemah, namun dirinya tetap berusaha mempercepat langkahnya. Pastinya dirinya sudah tak sabar lagi ingin segera merangkul abah. Mungkin karena dorongan rasa rindu yang tersimpan sejak lama telah meledak ledak dalam dadanya. Sehingga dirinya tak mampu lagi hasrat tersebut untuk segera dicurahkan. Meskipun saat itu tubuhnya sedang diserang penyakit.

Ketika mereka saling berpelukan melepaskan kerinduan itu, air mata pun tak dapat terbendung pada kaduanya. Tak heran suasana yang tadinya diselimuti ketegangan dan kekhawatiran berubah menjadi suasana mengharukan. Wajarlah bila hal itu terjadi, karena sudah hampir dua puluh tahun abah dan bibiku tak pernah bertemu. Aku sendiri mengenal wajah bibi dan anak anaknya hanya dari photo photo yang sempat dikirim mereka beberapa waktu silam.

Setelah melepaskan kangen sebentar dan tak lupa abah pun mengenalkan aku pada mereka, bibi menjelaskan prihal penyakit yang dideritanya. Awalnya penyakitnya hanya berupa gatal gatal di sekujur tubuh. Namun bagitu diperiksa, bibi tak menemukan bentolan atau sejenisnya yang menjadi penyebab rasa gatal itu muncul. Anehnya setiap kali bibiku akan dibawa berobat, rasa gatal tersebut mendadak hilang. Karena selalu begitu, lama kelamaan bibiku pun akhirnya menjadi terbiasa dengan hal tersebut, bahkan tak pernah dipikirkannya lagi. Namun seiring berjalannya waktu, tiba tiba penyakit yang menyebabkan sekujur tubuhnya merunyam itu menghilang. Bibi pun berpikir kalau dirinya sudah sembuh total dan juga merasa sangat senang karena telah terlepas dari penderitaan yang selama beberapa waktu menyulitkannya beraktifitas. Namun dua bulan kemudian sesuatu kembali terjadi pada bibiku. Tiba tiba sekujur tubuhnya mendadak panas seperti terpanggang api. Anehnya rasa panas tersebut pandai berpindah pindah dan kemudian berkumpul di sekitar perut. Membuat perut bibiku membengkak dan tak jarang dari mulutnya seringkali memuntahkan darah segar.

“ Namun rasa sakit itu selalu datang menjelang maghrib. Biasanya diawali suara gaduh di atas loteng rumah,” tutur bibiku terbatah batah.

Meskipun telah menempuh berbagai cara penyembuhan namun tak ada tanda tanda kalau bibiku akan sembuh. Hanya hilang sebentar kemudian datang kembali sampai terakhir ini dibawa ke rumah sakit. Anehnya saat dilakukan general check up, pihak dokter tak menemukan penyakit apa pun di dalam tubuh bibiku. Karena itulah bibiku diperbolehkan keluar dan disarankan untuk menempuh pengobatan alternatif. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar itu, kami pun memutuskan untuk membawa bibiku ke Kalimantan.

“ Dari pertama uak mendengar mama kamu sakit, uak sudah berfirasat kalau mama kamu dikerjai seseorang. Untuk itu mungkin mamah kamu akan uak bawa sementara waktu ke kalimantan. Kebetulan uak punya kenalan seorang spiritualis yang Insyaallah dapat menyembuhkan penyakit yang diderita mamahmu,” terang abah.

Setelah menemukan kesepakatan, dua hari kemudian kami pun segera terbang ke kampung halaman dan untuk memudahkan perawatan bibi nantinya, Herlin pun diikutsertakan.

Sesampainya di rumah, tepatnya menjelang Maghrib, hal yang tak diinginkan pun kembali terjadi pada bibiku. Entah apa penyebabnya, tiba tiba saja dirinya berteriak kemudian mengaduh aduh kesakitan. Kami yang ketika itu sedang bersiap siap akan mendirikan shalat berjamaah sentak kaget dan segera menghambur ke dalam kamar guna memastikan keadaannya. Betapa terkejutnya aku, begitu pula dengan yang lain, saat m,elihat bibi menggelepar di atas pembaringan. Wajahnya tampak sangat pucat. Sambil merintih, kedua tangannya mendekap perut yang mulai membengkak kembali.

“ Aduh……., adu……., sakit….., sakit……, panas kang…….,” rintih bibiku sambil sesekali memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.

Melihat kondisin adiknya yang semakin mengkhawatirkan itu, abahku pun tak tinggal diam. Tanpa banyak komentar, dirinya segera menghubungi spiritualis sahabatnya itu via telpon agar secepatnya bertandang ke rumah untuk memeriksa penyakit yang menyerang bibiku. Aku sendiri tak dapat berbuat banyak, hanya diam membisu sambil kedua mataku khusuk memandangi sang bibi yang tengah bersusah payah melawan rasa sakitnya dengan hati yang pilu. Sementara suasana di dalam kamar tempat dimana bibiku terbaring telah penuh dengan isak tangis.

Beberapa jam kemudian abah yang spiritualis, yang memang kehadirannya telah ditunggu tunggu sedari tadi akhirnya datang juga. Tanpa menunggu lama, abah pun segera mempersilahkan lelaki tua yang biasa disapa dengan nama Aki Sapiudin itu masuk ke dalam dan langsung menceritakan duduk permasalahannya. Setelah mendengar penjelasan dari abah, aki meminta agar abahku menyiapkan beberapa keperluan sebagai bahan ritual. Seperti daun sirih tujuh lembar tanpa cacat, mangkok dan air putih.

Awalnya abah agak ragu bisa mendapatkan daun sirih dengan cepat, mengingat hari sudah malam. Tapi untung saja salah satu dari tetangga kami ada yang menanam tumbuhan tersebut, jadi tak perlu jauh jauh lagi mencarinya. Setelah semua keperluan telah siap, aki pun meminta izin untuk melihat kondisi bibiku ke dalam kamar. Alangkah terkejutnya Aki menyaksikan kondisi bibiku saat itu, bahkan dirinya pun terlihat meneteskan air mata.

“ Di mana tempat berwudlu? Tolong antarkan saya,” pinta Aki pada abah.

Namun sebelum itu dirinya terlebih dahulu mengisi mangkok dengan segelas air putih dan kemudian memasukan tiga lembar daun sirih ke dalamnya.

“ Kalaulah nanti air ini warnanya berubah memerah, berarti penyakit tersebut diakibatkan oleh santet. Jika tidak berubah berarti hanya penyakit medis biasa,” jelas Aki.

Setelah berwudlu, dirinya langsung mendirikan shalat sunah dua rakaat. Kemudian duduk menghadap pada mengkok yang terletak di depan kami yang ketika itu sedang duduk melingkar bersandar pada dinding kamar. Kurang lebih satu menit mulut aki terlihat komat kamit membaca ayat ayat al quran. Selanjutnya membuka lembar demi lembar daun sirih yang mengampung di atas air dalam mangkok tersebut.

“ Astaghfirullah…..,” ucap Aki kaget.

Bagaimana tidak yang tadinya airnya berwarna putih bening telah berubah warna menjadi merah darah. Tak hanya Aki, kami semua pun yang sempat melihat keanehan itu terkejut bukan main.

“ Apa maksudnya ini ki?” Tanya Herlin.

“ Mamahnu terkena santet. Aki tak dapat mengobatinya sekarang karena Aki memerlukan beras yang sehari hari di makan oleh mamahmu,” terang Aki.

“ Maksud aki beras yang ada dir rumah mamahmu di kampong?” Tanya Herlin.

“ Ya dan tidak banyak, hanya sejumlah orang yang tinggal di rumah tersebut. Misalnya dua orang, ya dua butir saja yang aki minta,” Aki menjelaskan.

“ Baiklah Ki kalau memang itu jalan atau perantara yang dapat menyembuhkan orang tuaku,” Herlin menyanggupi.

“ Sambil menunggu beras itu, tolong minumkan ini dan sisakan sedikit untuk disapukan ke wajah dan tubuh mamahmu. Besok aki akan mencoba melakukan penerawangan terhadap mamahmu tentang penyakitnya,” ucap Aki.

Malam itu juga Herlin pun segera menghubungi adiknya yang tinggal di Cijulang. Dengan nada mendesak, Herlin meminta agar adiknya itu mengambil beberapa butir beras di rumah sang bibi dan secepatnya pula meminta mengirimkannya ke Kalimantan. Tiga hari kemudian kiriman pun sampai dan aki pun dapat segera melanjutkan ritualnya. Seperti biasa sebelum memulai ritualnya, Aki terlebih dahulu mendirikan shalat sunah dua rakaat. Kemudian duduk bersila di samping pembaringan dimana bibi saat itu berbaring sambil menahan sakitnya.

“ Tolong ambilkan mangkok dan air putih,” pinta Aki Saipudin.

Tak lama Herlin pun datang membawa apa yang dipinta barusan. Setelah air tersbut dimasukan ke dalam mangkok, Aki mengambil tiga lembar daun sirih dari dalam saku jubahnya yang memang telah dipersiapkannya. Dengan sangat hati hati dirinya pun menuliskan kalimah kalimah pada tiap tiap lembar daun dengan sebilah pisau lalu merendamnya dalam mangkok yang telah terisi air tersebut. Mulut lelaki tua itu pun mulai komat kamit dengan kedua mata terpejam. Kemudian dirinya menyuruh bibi untuk bangun dan duduk membelakanginya. Sambil membaca ayat ayat suci Aki pun mengambil sehelai daun sirih dan menempalkan daun tersebut ke tengkuk bibiku.

Setelah pengobatan bagian belakang selesai, Aki meminta bibi berbaring pada posisi semula. Keanehan pun terjadi, saat daun sirih tersebut menempel di bagian perut bibiku. Tiba tiba wanita berhidung mancung itu berteriak teriak kesakitan. Tubuhnya mengejang dan dari lubang porinya tampak keringat dingin berkeluaran membasahi kulit tubuhnya yang mulai keriput itu. Meskipun demikian Aki terus menekankan sehelai daun sirih tersebut ke perut bibi yang membesarnya tak wajar itu sehingga beberapa menit kemudian bibi pun pingsan tak sadarkan diri. Selanjutnya Aki menyipratkan air yang telah didoakannya keseluruh tubuh bibiku. Setelah kemudian normal, aki menanyakan sesuatu yang penting kepada Herlin.

“ Apa benar ayah kamu menikah lagi?” Tanya Aki.

Herlin pun tersentak mendengarnya. Dirinya tak menyangka lelaki tua berjenggot itu tahu masalah yang tengah dihadapi orang tuanya itu.

“ Maksud aki istri kedua bapak?” Herlin bertanya.

Aki hanya melempar senyum pada herlin.

“ Siapa pun dia, yang jelas dukunya bukan orang setempat. tapi Aki sarankan, jangan menaruh dendam. Insyaallah mamahmu akan segera sembuh. Oya, mana beras yang dikrim tadi?” pinta Aki.

“ Ini berasnya Ki,” Herlin memberikannya.

“ Beras ini Aki bawa dulu untuk diberi mantra terlebih dahulu. Besok Aki akan datang lagi ke sini,” ucap Aki.

Esok siangnya aki pun bertandang kembali ke rumahku untuk memberikan beras yang sudah diberi doa doa pada Herlin.

“ Beras ini harus segera ditaburkan ke dalam rumah mamahmu paling lambat tiga hari dari sekarang. Nanti setelah ditaburkan, kalau kamu melihat dan mendengar yang aneh aneh biarkan saja. Karena beras ini untuk menghilangkan pengaruh santet yang senbgaja ditanam di kolong rumah mamahmu,” terang Aki.

Karena tak punya waktu, esok harinya Herlin pun terbang ke rumahnya di Cijulang seorang diri. Benar saja saat beras tersebut ditaburkan, terdengar suara suara aneh di atas rumah bibiku. Mulai dari suara gaduh, orang berteriak dan lain lain. Setelah itu lenyap seperti tersapu angin.

Hari demi hari terus bergulir, meskipun kondisinya masih lemah, namun kesehatan bibiku berangsur angsur membaik, terutama perutnya yang sebelumnya membesar, kini telah kembali normal seperti sediakala. Dan untuk terakhir kalinya Aki pun berpesan kepada bibiku agar senantiasa menjaga shalat lima waktunya.

Sebulan kemudian kondisi kesehatan bibiku telah smbuh total dan tak lama kemudian Herlin pun datang menjemput untuk membawa bibi kembali ke kampong halamannya. Seminggu kemudian mereka menelpon kami membawa kabar duka, bahwa suami bibiku yang tak lain adalah ayah Herlin yang telah lama meninggalkan bibi dan hidup bersama istri barunya itu meninggal dunia. Apakah ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa bibiku….hanya Allah yang lebih tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s