Kenangan bersama dina


Perkenalkan, namaku Ryan, umur 21 tahun, tinggi badan 166, berat badan 56 kg. Kisah ini berawal ketika aku lagi kurang kerjaan malam Minggu. Mau ke kos Desi pacarku malesnya minta ampun. Ya sudah aku ke Warnet saja untuk menghilangkan kebosananku.

Lalu aku iseng-iseng Chatting di mIRC, dengan menggunakan nick ryan_kurang_kerjaan, tidak beberapa lama kemudian masuklah seorang cewek dengan nick Dina20. Lalu kamipun berkenalan, ternyata dia adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, umurnya masih 20 tahun, baru semester 4, sama juga denganku. Perbincangan kami mulai dari hal-hal positif sampai hal-hal yang jorok sekalipun. Lalu kamipun terlibat perbincangan yang berbau sex.

“Emang kurang kerjaan apa nih?”
“Nggak Papa, males nih, mau ngapain males, mau belajar malesnya minta ampun”
“Emang kamu nggak malam mingguan?”
“Nggak, nggak ada yang mau diajak jalan-jalan”
“Emang kenapa” kataku.
“Nanya aja, kamu dah punya cewek?”
“Belum”
“Eh ngomong-ngomong, kamu mau nggak dikerjain nih”
“Maksudnya”
“Ya ngerjain kamu, kuperkosa gitu.. Hee hehee”

Aku terkejut minta ampun, ternyata dia hipersex juga, mumpung sudah lama nih, spermaku belum tersalurkan ke dalam vagina wanita..

“Boleh.. Kapan maunya?”
“Gimana kalau malam ini” balasku.
“Jangan malam ini dong, kan aku masih haid, biasa lagi terima tamu bulanan”
“Jadi kapan donk tuh mensnya selesai?”
“Mungkin besok, gimana kalau kita ketemuan besok malam, mungkin aku besok sudah nggak haid lagi”
“Jangan besok, lusanya lagi banyak tugas, gimana kalau malam Rabu”
“Lalu kalau ketemuannya dimana nih Din?” timpalku.
“Ntar lah, kan bisa diatur” balasnya.
“O ya, kamu punya HP, boleh tau nomornya nggak? Kan kita bias berhubungan”
“081794xx, kalau kamu?”
“081578xx”
“Eh.. Ngomong-ngomong kamu dah punya cowok” tanyaku.
“Belum, males punya pacar, kan nggak bisa menikmati kontol yang lain, bosen kalau cuman satu kontol aja.. Hee.. Hehee”
“O.. Ya, kamu udah gak Virgin umur berapa tuh?”
“19 sama pacarku, setelah itu dia pergi ninggalin aku, ya sudah kita putus deh”
“Aku mau koq jadi pacar kamu”
“Bener nih?”
“Tapi ada syaratnya”
“Apa donk?” timpalnya.
“Kamu harus memuaskan ‘adek kecil’ku ini setiap hari, mau nggak”
“Ntar kupikir-pikir dulu”
“O ya, kamu punya pic?”
“Ada, mau dikirimin yah, o ya email kamu”
“Iya tunggu ya, ntar kukirimin deh”

Tidak beberapa saat kemudian masuklah emailnya di emailku, kubuka, lumayan juga mukanya, walaupun nggak cantik-cantik amat. Mungkin kalau kuberi nilai paling cuman 6,5, beda sama Desi yang nilainya 7,5.. Hee.. Hee.. Nggak papa lah, yang penting penisku bisa terpuaskan oleh memeknya yang masih sempit, yang katanya ‘baru’ dimasukin oleh 3 penis.

“Masih mau sama aku?” katanya melanjutkan perbincangan kami
“Ya.. Maulah.. Kan yang penting ‘adek’ku puas”
“Dah ya, aku mau pulang, sudah jam 12 malam nih”
“Ya sudah, hati-hati di jalan yah”
“Muachh”
“Muachh juga”

Saat itu kamipun berpisah, aku masih chatting sampe jam 2 pagi, sambil membuka kisah-kisah di situs 17Tahun baru ini.

Balik lagi ke kisahku, aku masih menunggu kapan pertempuranku dengan Dina, mahasiswi yang masih muda, yang katanya masih hot, katanya lagi dia itu hipersex, setiap hari dia itu harus menyalurkan libidonya, entah dengan masturbasi atau maen dengan teman-temannya. Sebagai pemberitahuan, aku juga mungkin punya libido tinggi, setiap hari aku juga minimal harus menyalurkan spermaku, entah itu dengan melakukan hubungan sex atau hanya onani, kalau tidak perasaanku kayak orang sakit aja, nggak bisa berpikir dengan baik, Hee.. Hee.

Lalu tepat hari Selasa, malam ini aku sudah berjanji dengan Dina untuk memuaskannya. Saat kulihat dia pertama kalinya tak beda jauh dengan pic yang dia kirim, walaupun nggak terlalu cantik, tapi bodynya sexy, rambut hitam sampai bahunya dan tingginya 155 cm, aku tingginya 166 cm. Kami janjian bertemu di Mall Malioboro, dan kami awali dengan mengobrol.

Ternyata dia ngga malu-malu dia santai aja kaya ketemu teman akrab, kuberanikan untuk menggandeng tangannya dan dia tak keberatan, tangannya halus banget, dan wajahnya bikin aku horny dengan matanya yang sedikit sipit dan bibirnya yang mungil. Akhirnya aku mengajaknya untuk mencari hotel yang murah untuk mengobrol biar enak, karena kalau di kos nggak enak sama teman-teman yang lain, juga sama ibu kos.

Dia nggak keberatan kuboncengkan di atas motorku. Dia datang ke mall dengan taksi. Kami mengobrol tentang apa saja baik di selama di mall atau selama perjalanan ke hotel itu. Sesampainya di hotel langgananku itu aku langsung memesan 1 kamar dengan single bed saja. Lalu kamipun menuju kamar hotel itu bergandengan tangan kayak sepasang kekasih saja.

Sesampainya di kamar, kami duduk bersebelahan dan kuberanikan untuk merangkulnya. Dia nggak marah. Duduk kami pun layaknya dua sejoli yang telah berhubungan lama, aroma tubuhnya sangat menggoda, dan terus terang aku sangat suka pheromone wanita (bau tubuh asli wanita), aroma tubuhnya bercampur dengan parfum yang dia pakai, menggoda sekali.

Dian bertanya soal aku berhubungan dengan wanita, dari pacaran hingga pengalaman ML. Aku bercerita sambil mengelus-mengelus rambutnya dan tiduran dengan kepalanya di pangkuanku. Dina mendengarnya penuh perhatian. Aku berbicara terus terang padanya tentang pengalaman pacaranku dan pengalaman ML-ku ketika masih mahasiswa baru. Dina menunjukkan sikap yang baik padaku, lalu dia berkata padaku bahwa dia sangat suka padaku dan dia ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan denganku.

Dengan tiba-tiba dia mengajakku mandi bersama. Aku langsung setuju, “Aku sangat mau”, kataku dalam batin.

Dia menggandengku masuk ke kamar mandi, lalu dia menanggalkan pakaiannya. Aku mematung melihatnya, sexy sekali, sangat sesuai dengan impianku. Nipplesnya berwarna coklat muda, sebesar jagung dengan toket 34 yang sexy, tetapi vaginanya masih cukut lebat, semuanya membuat “adek kecilku” langsung melek. Dia menegurku..

“Ryan, kenapa kamu. Kok diem aja?”
“Nggak” jawabku.
“Kamu sexy banget Dina, kamu adalah impianku”, padahal ujarku dalam hati nggak cantik-cantik amat, tapi yang penting bodynya itu lo, bikin aku tegang terus. Dina pun tersenyum padaku.
“Masa” ujarnya sambil mendekatiku.

Dian pun melucuti pakaianku, dan sebelum dia melepaskan CD-ku, dia mengelus-mengelus penisku

“Keras banget, Ryan udah ga tahan ya”
“He eh” jawabku.

Setelah bugil, kupeluk dia dan kucium bibirnya, lembut sekali, tak henti-hentinya kupeluk dan kucium bibirnya.

“Dina, kamu mau kucukurkan rambut vaginanya nggak?”
“Buat apa, Ryan?”
“Biar vaginamu ngga bau and makin sexy. Kaya penisku, aku rajin mencukur rambut penisku dan kusisakan hanya bagian atasnya”.
“Pantas kedua bolamu mulus banget, Ann.. Menggoda banget”, ujarnya.
“Jadi kamu mau?”
“OK, tapi pakai cukuran apa?”
“Pake pisau cukur rambut ya” Aku sengaja membawa pisau cukur.
“OK”

Dina duduk di kloset dan kucukur pelan-pelan.

“Liat nich, sexy khan?” Kuambil cermin dan kuperlihatkan vaginanya.
“Iya, Ann. Dina suka. Jadi begitu ya biar sexy and sehat, gak bau gitu vaginanya?” Aku mengangguk.
“Coba kucium vaginamu sekarang” kataku dan kucium vaginanya perlahan dan lembut.

Dari atas turun ke bibir vaginanya lalu ke klitorisnya, kukecupi dan sesekali kumainkan lidahku perlahan tapi mantap. Sudah kumainkan klitorisnya, kubuka bibir vaginanya dengan jari dan tampak klitoris dan vaginanya yang masih merah. Kulanjutkan permainan lidahku bergerak di klitoris dan bibir vagina bagian dalamnya.

“Ohh, terus Ann, enak banget jilatan kamu” lenguh Dina dengan kedua tangannya memegang kepalaku dan mengacak-mengacak rambutku.

Kulanjutkan jilatanku dan sesekali kusedot klitnya dengan lembut. Dina makin menggeliat menggerakkan pinggulnya dan menekan kepalaku ke vaginanya. Kutangkupkan mulutku ke vaginanya, sehingga lubang senggamanya tert
utupi oleh mulutku. Lalu kusedot lembut dan kugerakkan lidahku di klitnya hingga cairan vaginanya makin deras dan tertelan olehku, enak sekali bagiku. Ke dua tanganku memainkan toketnya, kuremas-remas lembut, kupelintir-pelintir nipple-nya. Dina makin menggila, pinggulnya bergoyang kanan kiri dan makin kencang lenguhannya..

“Ohh Ohh terus Ann.. Ohh Ann.. Enak banget”

Tempo agak kupercepat hingga Dina makin horny. Dia menjepit dan menekan-menekan kepalaku, lalu tubuhnya agak mengejang dan denyut vaginanya semakin terasa dan cairannya semakin membanjir hingga akhirnya..

“Ah, Ann, aku sampe”, teriaknya penuh kepuasan dan lalu kujilati cairan itu sambil merasakan denyutan vaginanya.

Kupeluk dia keluar dari kamar mandi lalu kubaringkan Dina di tempat tidur, lalu aku duduk di sampingnya dan memulai foreplay kembali. Kumulai dengan ciuman di dahinya turun ke bibirnya. Perlahan kunikmati bibirnya yang mungil, dan kumulai permainan lidahku. Sesekali kusedot-sedot bibirnya. Lidah kami pun saling beradu dan semakin ganas.

Kulakukan itu sambil meremas-meremas boobs-nya, kenyal sekali dan nipples-nya pun mulai mengeras lagi. Kumainkan ke duanya dengan jari-jari tangan perlahan. Ciumanku turun ke lehernya yang putih. Kujilati, kukecup dan kedua tanganku tak henti-hentinya meremas toketnya, kepalaku pun di peluknya. Ciumanku turun lagi ke dadanya. Kuciumi dadanya secara melingkar, belum menyentuh nipplesnya. Kenyal sekali terasa di bibirku, dan tangannya tak lepas memeluk kepalaku serta desahannya semakin terdengar terutama saat aku mengecup putingnya..

“Mh, Ann.. Terusin”

Kukecup kedua putingnya. Lembut sekali rasanya di bibirku. Kujulurkan lidah dan kumulai mengusapnya dengan ujung lidahku, Dina mengeliat dan mendesah..

“Ohh.. Ohh..”

Bergantian kujilati putingnya, kiri kanan. Kugerakkan lidahku ke atas, bawah, kiri, kanan, dan melingkar. Desahannya semakin kencang, Dina mulai mengacak-mengacak rambutku walaupun pendek dan sesekali menekan-menekan ke dadanya. Nikmat sekali putingnya untukku, seperti cream yang lumer di dalam mulutku, terasa sekali saat kusedot-sedot nipple-nya tersebut.

Kusedot-sedot nip-nya perlahan dan lembut, sesekali kugigit kecil nip-nya. Dina sangat menikmatinya, dia sungguh santai. Kuhentikan sebentar permainan ini. Kusuruh dia untuk mengangkat tangannya di atas kepalanya hingga tampaklah ketiak yang mulus. Kuelus, kubisiki Dina di telinganya.

“Dina, aku suka ketiakmu” wajah Dina agak memerah, tak menyangka kubisiki hal itu. Kucium dan kujilati perlahan kiri dan kanan.
“Geli, Ann, tapi asyik”, katanya.
“Dina, vaginamu sudah basah ya?”, tanyaku sambil memegang selangkangannya.
“Iya, horny banget nich. Terusin donk”

Kumulai lagi dengan menjilati bibir, leher dan telinganya. Lalu turun lagi ke dada. Kujilati nip-nya dan sesekali kusedot. Gerakan lidahku kupercepat. Salah satu tanganku turun ke selangkanganya, mengusap-mengusap paha, bibir vagina, lalu klit-nya perlahan. Dina menggeliat dan mendesah-mendesah keenakan sambil memejamkan matanya.

“Ohh.. Mmh..”

Desahannya membuatku makin terangsang, pemainanku makin gila sehingga putingnya menjadi lebih memerah dan kucupang toketnya, kiri kanan. Lalu aku turun ke perutnya menuju vaginanya. Kujilati perutnya dan ‘belly button’-nya. Kubuka selangkangannya dan kuciumi vaginanya sambil menghisap cairan vaginanya, nikmat sekali rasanya. Vaginanya terasa hangat, kujulurkan lidahku lalu membelah vaginanya dari bawah ke atas perlahan. Dina makin menggeliat dan mendesah liar.

“Engh.. Ohh..”

Kugarap klit-nya. Kujilati perlahan, kugerakkan lidahku naik-turun, kiri-kanan, dan melingkar. Sesekali kusedot-sedot klit-nya, lembut sekali dan seperti ada sesuatu yang lumer dalam mulutku. Cairan vaginanya makin deras dan denyut vaginanya semakin terasa. Kutangkupkan lagi mulutku di vaginanya, dan kakinya menjepit kepalaku. Tanganku yang bebas mengerjai boobs-nya kembali, kuberi pijatan di toketnya. Kucoba menusuk lubang vaginanya hingga Dina berteriak kesakitan..

“Auw, sakit”

Kuurungkan niatku dan kembali mengelus klit-nya dan menyedot-menyedot vaginanya. Desahan terdengar kembali dari mulutnya, tak lama tubuhnya mengejang dan vaginanya makin berkedut dan..

“Ach..”

Dina dapat lagi, dan langsung kujilati. Lalu aku berbaring di sampingnya. Tubuh kami lumayan banyak berkeringat. Kucium bibirnya.

“Dina, tubuh kamu koq enak banget ya?” kataku sambil meremas-meremas dada nya.
“Ryann, masukin penismu donk. Aku udah nggak tahan lagi”
“Baik sayang”, kubisiki dia sambil bersiap mengambil posisi.

Wajahnya memerah kembali. Kubaringkan dia di tepi spring bed, dan aku berdiri. Kubuka selangkangannya. Kugesekkan kepala penisku di klit-nya, Dina memejamkan matanya dan tersenyum santai. Kupaskan penisku lalu aku berbisik padanya..

“Siap, sayang?”
“Iya” jawabnya sambil memelukku.

Perlahan kumasukkan penisku, vaginanya cukup sempit tapi basah, aku juga bingung, aneh, masa sudah pernah dimasuki oleh 3 penis, vaginanya masih sempit, apa dia sering mengkonsumsi jamu sari rapet, pikirku.

“Auw”, Dina berteriak kesakitan.
“Tenang, sayang. Kamu pasti akan merasakan kenikmatan” Dina kembali tenang.

Sodokan yang perlahan dan pasti akhirnya masuk ke vaginanya. Hangat sekali, kudiamkan penisku sebentar dan kuciumi bibirnya.

“Gimana, Dina?”
“Sakit, tapi sekarang nggak. Eng, Ann.. Penis kamu enak juga, pas. Kayak nggarukin vaginaku”
“Suka, ya?” Dina mengangguk.

Kumulai gerakanku perlahan, maju-mundur. Mm, nikmat sekali vaginanya memijat penisku. Dina memejamkan matanya dan tersenyum santai menikmati penisku. Desahan mulai terdengar dari mulutnya.

“Mh..”

Sodokan sedikit kupercepat, dan tanganku memijat toketnya serta memainkan nip-nya. Vaginanya makin basah, dan terdengar suara decakan dari vaginanya. Kucoba menggendongnya. Kakinya menjepit pinggangku kuat dan sodokanku semakin terasa hingga terdengar suara di antara vagina dan sodokan penisku. Kami berkeringat, dan aroma pheromone Dina semakin tercium, sexy sekali.

“Ann, Dina suka banget. Enak..”
“Aku juga suka, Din”, ujarku.

Beberapa menit kemudian, denyut vaginanya semakin terasa di penisku, mulai dari kepala hingga batangnya.

“Ryan, aku mo sampe lagi nich.. Ach”

Tubuhnya mengejang sehingga Dina mendongakkan kepalanya. Cairan vaginanya membasahi penisku dan semakin licin. Ini makin membuatku mau keluar ditambah aroma pheromonenya yang sexy.

“Din, aku juga mo keluar nich..” Dina yang masih keasyikan memelukku dan menjawab..
“Di dalem aja..” Denyut vaginanya makin membuatku cepat keluar dan..
“Argh..”

Penisku memancarkan spermanya di dalam vaginanya. Aku duduk, Dina masih kugendong. Kami berpelukan erat beberapa saat, lalu kucium dia.

“Ann, trims ya. Enak banget. Ntar lagi ya”
“OK, sayang”

Lalu kami beristirahat sebentar kira-kira 15 menit sambil aku memegangi payudaranya, eh ternyata nafsunya bangkit lagi.

“Lagi Yuk”, ajakku.
“Yuk” timpalnya.
“Gimana kalau kamu yang menjilat penisku, mau kan?”
“OK”

Lalu dia pun mulai memegang penisku, rupanya penisku sudah mulai bangkit setelah mengeluarkan lahar panasnya. Dia jilat, sambil dikocoknya. Ohh enak banget, nggak sampai 15 menit rupanya aku sudah mau mengeluarkan sperma lagi.

“Dina, aku mo keluar nich..”

Kocokannya dipelankan dan Dina memegangi penisku lalu mulutnya menutupi kepala penisku. Lalu crot.. Aku keluarkan spermaku. Nikmat sekali, Dina menelannya dan menjilati sisa spermak tanpa sisa.

“Kamu telen ya” pintaku.
“Iya, abis enak sih” jawabnya sambil masih menjilati penisku.
“Gimana, suka?”
“Suka banget, kalau setiap hari gini sih, kayak di sorga aja” Aku tersenyum.
“Aku juga suka ngoralin cewe”, sahutku.
“Dina sudah ngasih dua lubang yang membuatku nikmat”, kataku.
“Tapi aku masih mau lubang yang ketiga”
“Yang mana?” tanyanya.
“Anusmu”
“Maksudmu anal sex?”
“Yup, mo coba?” sahutku.
“Boleh, tapi gimana?”
“Kamu bawa jelly?” tanyaku.
“Buat apa?”
“Biar jadi pelumas di analmu, khan beda dari vagina. Kalo anal sex, harus pake pelumas biar gak sakit”
“Ada, tuch di dalam tasku. Kuambil ya”

Benar-benar aku menikmati Dina. Dia kembali dengan jelly. Kusuruh dia menungging lalu kujilati anusnya dan kubasahi penisku dengan jelly. Kusodokkan penisku ke analnya. Perlahan. Dina kesakitan pada awalnya, baru setelah 1/2 penisku masuk dia mulai santai.

“Ayo Ann, goyang”

Kugerakkan penisku maju mundur sambil kupegangi pundaknya untuk lebih memantapkan sodokanku. Tanganku yang lain memainkan klit-nya dan sesek
ali kuremas-remas dadanya. Jepitan analnya kencang sekali hingga sesekali kutambah pelumasnya. Ketika kutidurkan Dina di atas meja, dia sangat menikmatinya. Dan aku pun menjilati nipples-nya, serta memainkan klit-nya dengan tanganku. Cairan yang keluar dari vaginanya turun ke bawah menjadi pelumas. Licin sekali.

“Ann, kamu.. Gila yaa.. Tapi aku.. Suka”

Kupercepat kocokanku dan aku merasakan denyut di penisku. Aku mau keluar, cepat-cepat kucabut dan kumasukkan ke dalam mulut Dina. Dina telah siap dan crot.. Spermaku muncrat kembali, lagi-lagi Dina membersihkan perlahan. Kugendong dia ke tempat tidur. Kami berbaring berpelukan, lalu kumasukan penisku lagi ke dalam vaginanya.

“Mau lagi ya Ann, tapi aku masih cape, abis 3 lubangku kamu pake semua sih”
“Nggak, aku juga masih cape, nggak apa-apa kan, biar enak aja penisku dalam vagina kamu”
“Iya deh”, ujarnya.
“Ryan.. Sayang.. Terimakasih..”, ujarnya lagi.
“Aku juga Dina”, balasku sambil membelai rambutnya lalu kami tertidur.

*****

Demikianlah pembaca, mungkin cerita ini tidak terlalu merangsang nafsu seks anda, tapi kisahku ini adalah pengalaman apa adanya.

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s