Nilai Sebuah Keperjakaan


Terik sinar mentari jam 11 siang di kota Medan membuat saya terkantuk-kantuk di lantai 3 kelas 1 salah satu SMA yang cukup terkemuka di kota ini. Di depan, guru Kimia yang sudah ubanan sedang menjelaskan rumus-rumus yang rumit. Saya pura-pura memperhatikan dan mendengarkan ocehannya.

Duduk di baris terakhir, dengan leluasa saya bisa memperhatikan teman-teman saya di depan. Di meja di depan saya duduk mahluk yang sangat manis, teman main saya sejak kecil. Namanya Kayla, panggilannya Lala. Di meja tersebut dia duduk di sisi sebelah kiri dan saya sendiri duduk di sebelah kanan. Persis di depan saya duduk Jane, teman akrabnya Kayla. Kayla kelihatannya juga lagi terkantuk-kantuk, dia menyender ke tembok dengan tubuh menghadap ke samping. Memang guru Kimia yang satu ini sangat baik, kami bisa mengobrol atau duduk seenaknya tanpa diomelin.

Lala, mempunyai sifat yang sangat aktif. Saat itu dia duduk dengan mengangkat salah satu pahanya ke kursi. Rok abu-abunya yang cukup pendek untuk ukuran anak SMA tersingkap memperlihatkan pahanya yang langsing, putih dan mulus. Pemandangan ini tentu saja menghilangkan kantuk saya dan perhatian saya langsung tertuju ke paha tersebut.

Pikiran saya melayang ke lika-liku persahabatan saya dengan Lala..
Saya mengenalnya sejak kelas 3 SD dan dulunya kami les privat bersama. Hampir setiap hari saya nongkrong di rumahnya, mengobrol dan bermain bersama kakak-kakak perempuan dan adiknya. Saya sudah dianggap anggota sendiri oleh keluarganya.

Sebenarnya diam-diam saya menaruh hati pada Lala, saya sangat mengagumi hidungnya yang mancung dan mulutnya yang kecil mungil. Entah kenapa saya tidak pernah berani mengungkapkan cinta saya padanya. Padahal saya sendiri termasuk cowok yang tampan. Sebagai buktinya, banyak juga cewek satu sekolahan yang naksir saya, mulai dari Ling-ling, Vina, Ita, Sally, dsbnya (hihi..). Mungkin karena saya terlalu pemalu atau karena dia yang sangat pintar bergaul. Banyak diantara teman kakaknya yang naksir dia dan umumnya lebih dewasa dari saya. Lala sendiri pernah mengatakan bahwa dia lebih menyukai cowok yang matang, jadi ya cerita indah berpacaran bersama Lala harus saya buang jauh-jauh dari kepala saya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun sejak kami saling mengenal. Tanpa terasa kami sudah memasuki masa remaja. Tinggi badan saya sudah mencapai 170 cm dan saat itu berat badan saya hanya sekitar 57 cm, cukup kurus memang. Saya berubah menjadi seorang kutu buku dan sejak kelas 1 SMA juara umum tidak pernah lepas dari genggaman saya. Satu-satunya hobby saya selain belajar adalah olah raga Tae Kwon Do yang mana saya sudah mencapai ban merah (dua level menuju ban hitam).

Keinginan normal pria dewasa juga sudah berkembang di dalam diri saya. Beberapa teman saya sudah pernah merasakan kenikmatan bercinta dan sering membagi pengalaman mereka.

Lala sendiri berubah menjadi seorang gadis yang rupawan. Rambut panjang sebahu, tinggi 160 cm dan berat 45 kg. Bentuk tubuhnya sangat ideal dan proporsional, terbentuk dari les ballet yang ia tekuni. Sayangnya, Lala terbawa pergaulan teman-teman kakaknya yang sering keluar masuk diskotek. Sekolah merupakan hal yang sangat dibencinya. Banyak isu miring telah saya dengar mengenai Lala, tentang gaya hidupnya yang selalu pulang malam dan berganti cowok. Tetapi bagi saya dia tetap Lala yang lama, Lala yang manis, manja dan polos. Lala yang saya sayangi, itulah sebabnya saya selalu membantu dia mengerjakan tugas dan memberi contekan waktu ujian. Kapanpun dan karena alasan apapun dia membutuhkan saya, saya selalu siap untuknya.

Part II: Kayla yang dewasa

Saya memperhatikan jam tangan saya. Hmm.. jam 11:30, masih satu jam sebelum bel pertanda bubaran berbunyi. Pikiran saya kemudian melayang ke peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Kejadian yang menyadarkan saya bahwa Lala sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.

Minggu, jam 4 siang, saya masuk ke rumah Lala dengan menggunakan kunci saya (saya mempunyai kunci rumah mereka). Rumahnya Lala berbentuk Ruko dan terletak di jalan utama di kota Medan.Lantai dasar rumahnya yang biasa terisi dua mobil terlihat kosong, sepertinya tidak ada orangdi rumahnya. Kondisi rumahnya yang gelap mengharuskan saya melangkah dengan hati-hati. Saya melanjutkan langkah kaki saya ke lantai pertama yang juga gelap dan kosong. Di ruang tamu lantai pertama, saya memperhatikan sejenak akuarium yang berisi ikan arwana merah.

Hampir saja saya memutuskan untuk pulang ketika sayup-sayup telinga saya menangkap suara radio dari lantai dua. Di lantai ini terdapat dua kamar tidur, yaitu kamar tidur Lala dan kamar tidur kakaknya. Timbul keisengan saya untuk mengejutkan Lala ataupun kakaknya yang mungkin berada di lantai dua tersebut.

Dengan mengendap-endap saya menuju lantai dua. Tiba di atas, saya melihat tirai jendela kamar Lala sedikit tersingkap dan saya mengintip dari celah-celah tersebut. Alangkah kagetnya saya ketika menyadari apa yang sedang terjadi. Jantung saya berdegup kencang.

Di dalam kamar, Lala sedang berbaring di kasurnya dengan kaos dan bra putih tersingkap. Tangan kirinya sedang meremas-remas buah dada kanannya dan tangan kiri terlihat menyusup ke celana pendeknya. Matanya tertutup dan terlihat gerakan tangannya di balik celana pendeknya. Karena bra dan kaosnya yang tersingkap, saya bisa melihat buah dadanya yang lumayan montok denganpuncaknya yang kecil dan berwarna merah muda. Saya bisa merasakan kaki semakin gemetar. Gerakan tangan kirinya yang menyusup ke dalam celana pendeknya semakin cepat sampai akhirnya tubuhnya mengejang dan berkelonjotan.

Dengan nafas memburu dan kaki lemas karena menahan adik saya yang sudah membesar (hehe..), saya turun ke lantai pertama tanpa suara sedikitpun. Di bawah, saya berusaha menenangkan diri. Cukup lama saya mondar-mandir di ruang tamunya. Karena tidak ingin mengganggu Lala, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah.

“Gus.. Gus..” bisik Lala.
“Eh.. Eh.. yyaa..” Jawab saya sedikit tergagap karena terkejut. Buyar dech lamunan indah saya.
“Malam ini kita barengan ngerjain tugas Fisika ya,” bisik Lala perlahan sambil melirik ke guru Kimia di depan.
“Iya.. ya, jam 7 malam gua ke tempat loe,” bisik saya kembali.
Memang kami sering mengerjakan tugas dan belajar bersama tanpa guru les lagi sejak satu tahunterakhir. Kadang saya berpikir bahwa beruntung juga saya dikarunia otak yang encer, buktinya banyak cewek yang minta belajar bareng.
“Loe makan di tempat gua aja, ok? Soalnya semua keluarga gua lagi menjenguk oma gua,” kata Lala.
“OK.. OK..” jawabku.

Part II: Keperjakaanku

Malam itu, sehabis makan malam, kami mengerjakan tugas Fisika di meja belajar Lala yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Jam dinding masih menunjukkan pukul 8 malam.

“Gus.. gua ada satu pertanyaan buat kamu, tetapi kamu harus jawab yang jujur ya,” tiba-tiba Lala berkata dan membuyarkan konsentrasi saya.
“Kapan gua pernah berbohong ke loe? tanya aja!” jawab saya ringan.
“Hmm.. kamu mencintai saya bukan?” tanya Lala.
Seperti mendengar suara guntur di langit yang cerah, saya hampir melompat karena kaget dengan pertanyaan yang tidak saya sangka-sangka tersebut.
“Appaa?” tanya saya kembali sambil berpura-pura tidak mendengar pertanyaannya, berharap dia tidak mengulangi pertanyaan tersebut.
“Kamu mencintai saya kan?” Dia mengulang pertanyaannya. Memang dia ini orangnya sangat terbuka.
“Hmm..” saya mau mengaku tetapi entah mengapa lidah saya tidak mau bergerak.
“Jujur saja, saya bisa merasakannya. Kamu begitu baik, begitu memperhatikan saya. Tidak mungkin kamu melakukan semua itu kalau kamu tidak mencintai saya,” lanjutnya lagi melihat keragu-raguan saya.

Saya merasakan wajah saya yang panas dan pasti memerah. Saya merasa sangat malu.
“Iya..” akhirnya saya menjawab secara perlahan.
“Ohh, itu yang saya takutin. Saya tidak kepengen menyakiti kamu. Saya tidak mau melihat kamu bersedih,” kata Lala dengan suara rendah.
“Nggak, kamu nggak pernah menyakiti saya. Saya berbahagia kalo kamunya bahagia,” jawab saya tulus.(Cinta yang sejati tidak pernah meminta, hanya memberi).

“Tahun ini saya akan ke Australia bersama Koko dan melanjutkan sekolah saya di sana. Kamu akan selalu mengingat saya khan?” tanya Lala.
Koko itu adalah pacarnya Lala yang akan lulus SMA tahun itu.
Oh, dia akan pergi! Lala ku tersayang akan pergi! Saya termenung.
“Saya tidak pernah..” Sebelum saya menyelesaikan kata-kata saya, Lala sudah menutup mulut saya dengan bibirnya. Inilah pertama kalinya saya mencium seorang wanita. Jantung saya berdegup kencang. Kepolosan dan kehijauan membuat saya mencium bibirnya tanpa lumatan, tanpa gerakan lidah sama sekali.

“Saya akan memberi kamu kenang-kenangan yang tidak pernah kamu lupakan!” bisik Lala di sela-sela ciuman kami.
Tangan saya membelai rambut dan pipinya. Keindahan ciuman membuat saya tidak berniat menghentikan ciuman tersebut. Selanjutnya semuanya berjalan begitu cepat. Cinta mengalahkan segalanya. Tanpa saya sadari, kami sudah berbaring di kasurnya. Saya berada di bawah dan Lala di atas saya. Segala ajaran teman saya mengenai bercinta seakan-akan hilang dari ingatan saya, saya bahkan tidak berani menyentuhnya. Saya cuma menutup mata saya dan menikmati ciuman tersebut

Hampir 10 menit kami berciuman, selanjutnya Lala memegang tangan saya menuju dadanya. Badan saya seakan-akan kehilangan jiwanya. Saya meremas dadanya, dan ciuman Lala semakin bergelora. Insting saya mengajarkan saya untuk memasukkan tangan saya melalui kaosnya, menyusup ke branya dan mencari-cari puting susunya.

Lala mendesah, dengan satu tarikan ke atas, dia melepas kaosnya dan dengan ahli tangannya membuka branya yang berwarna putih.

Mata saya melotot ketika dadanya tersingkap. Dadanya yang montok dengan ujungnya yang kecil berwarna coklat muda membuat jantung saya semakin cepat memompa aliran darah ke seluruh tubuh saya. Lala menjulurkan buah dadanya ke mulut saya, yang segera disambut bibir dan lidah saya.

“Di jiilat.. di iisap.. Gus!” desah Lala disela-sela nafasnya yang semakin cepat. Saya hanya menuruti ajarannya. Tangan Lala yang cekatan mulai membuka kaos saya, dilanjutkan dengan ikat pinggang saya, dan akhirnya celana dalam saya! Kaget, malu, terangsang, takut, membuat saya hanya berbaring seperti mayat di kasur tersebut.

Lala mulai menjilati leher saya, berlanjut ke puting susu saya, perut saya dan akhirnya dia memasukkan ujung kemaluan saya ke dalam mulutnya.

Kegelian dan kenikmatan membuat mata saya tertutup dan tubuh saya gemetar. Pada saat bersamaan, tangan kanannya mempermainkan batang kemaluan saya dan mulutnya mempermainkan ujungnya yang sensitif. Alangkah nikmatnya, sekitar dua menit kemudian, jebollah pertahanan saya. Untuk pertama kalinya saya mencapai orgasme di mulut seorang cewek. (Selama ini hanya tangan saya yang beruntung melakukannya.. haha..).

Merasakan adanya cairan hangat yang melesat keluar, Lala segera melepas batang kemaluan saya dari mulutnya tetapi gerakan tangan tetap berlanjut. Cairan hangat berwarna putih tersebut muncrat dengan dashyatnya melampaui kepala saya, sebagian diantaranya jatuh membasahi dada saya. Segera Lala mengambil tissue dan mengusapnya. Dia tersenyum, penuh kemenangan!

Ketika Lala mengelap kemaluan saya dengan tissue, dia sedikit kaget karena batang kemaluan saya masih tegang dan keras. Dengan perlahan, lidahnya kembali bermain di ujungnya yang sensitif. Saya cuma bisa membelai rambutnya dan mendesah menikmati segala kenikmatan dan hangatnya gerakan lidahnya.

Lala kemudian menghentikan jilatannya dan merangkak ke atas tubuh saya. Perlahan dia menurunkan celana dalam putihnya. Mata saya dengan nanar menatap sedikitnya rumput di padang kemaluannya. Kemudian dia berjongkok, berusaha memasukkan batang kemaluan saya ke goa kenikmatannya. Cukup lama dia berusaha, sedangkan saya hanya berbaring diam tanpa berani bergerak. Tiba-tiba saya merasa adanya jepitan di kepala kemaluan saya. Pada saat bersamaan Lala mendesah. Jepitan di kemaluan saya semakin terasa ketika Lala menurunkan pinggulnya, saya merasakan sedikit sakitpada kemaluan saya tetapi gelora nafsu mengalahkan perasaan apapun juga. Nafas saya kian memacu.

Baru dua tiga kali pinggul Lala naik turun, batang kemaluan saya sudah keluar kembali. Kami mencoba beberapa kali, tetapi karena belum berpengalaman hanya dengan satu dua goyangan kemaluan kami terpisah kembali.

Akhirnya Lala membaringkan tubuhnya di samping saya dan berbisik, “Kamu di atas ya, Gus.”
Mana bisa saya tolak permintaannya, saya menggerakkan tubuh saya ke atas tubuhnya. Tangan saya menggeser pahanya sehingga terbuka menonjolkan kemaluannya yang merah dan basah. Yang langsung menangkap perhatian saya adalah halus dan jarangnya pepohonan di rimba kemaluannya.

“Masukkin Gus! Ayo.. cepetan..” Pinta si Lala menyadarkan saya.
Saya merangkak ke atas tubuhnya dan menciuminya. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Akhirnya Lala menjulurkan tangannya, memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya menuju goa kenikmatannya.
“Dorong.. Gus,” kata Lala.
Saya menekan pinggul saya ke bawah dan mulai melakukan gerakan naik turun. Aneh, tidak terasa apa-apa..
“Gus.. belon masuk tuh..” bisik Lala.
Aduh, malunya saya.. Hihi..
Kembali tangan Lala menuntun batang kemaluan (seperti menuntun orang buta aja). Ketika dia meminta saya menekan, kali ini secara perlahan saya menekan pinggul saya dan saya merasakan jepitan otot kemaluannya pada kepala kemaluan saya.

Saya menutup mata dan menikmati nikmatnya jepitan dan gesekan yang ditimbulkan. Ah.. alangkah enaknya. Ketika batang kemaluan saya menyusuri goa kenikmatan Lala dan mencapai ujungnya, Lala berbisik, “Ditarik dan dimasukkin kembali..” Saya menuruti ajarannya. Saya tarik dan saya masukkan kembali.
“Pelan-pelan.. Gus, keluar lagi tuh..” kata Lala.
Ah, susah amat sich pikir saya. Lebih gampang mengerjakan tugas Fisika.. hihi..

Untuk ketiga kalinya tangannya menuntun batang kemaluan saya. Kali ini saya berhasil memasukkan dan mengeluarkannya beberapa kali. Rasanya sungguh tidak terceritakan. Wajah Lala sudah merah padam menahan nafsu yang sudah menguasai dirinya. Kenikmatan saya bertambah ketika dia ikut menggoyang pinggulnya.

Tiba-tiba saya merasakan seluruh darah di tubuh saya terkonsentrasi di satu titik. Ah, cairan putih tersebut keluar untuk kedua kalinya. Karena terkejut, Lala menarik pinggulnya sehingga batang kemaluan saya keluar dari persembunyiannya yang hangat dan nikmat. Sebagian cairan hangat menyembur membasahi bulu kemaluan dan perutnya.

“Gus, jangan dimasukkin didalam..” kata Lala.
“Gua nggak bisa menahan.. Sorry..” jawab saya.
Tubuh saya masih gemetar menahan kepuasan yang baru saya rasakan. Segala beban seakan-akan terangkat dari tubuh saya. Saya merasa tubuh saya sangat ringan dan semua bagian tubuh seakan-akan bernafas lega.
Dia tersenyum dan berbisik, “Dua kosong!”

Part IV: Darah Perjaka

Setelah itu saya memeluk erat tubuhnya. Menghindari udara AC yang dingin, saya menutup tubuh kami dengan selimut. Terlihat tonjolan batang kemaluan saya yang walau sudah dua kali merasakan kenikmatan namun masih menunjukkan kekerasannya. Saya menggosokkan pipi saya ke pipi Lala.

Pintu kamar Lala tiba-tiba terbuka.
“La!” Panggil suara tersebut yang ternyata adalah Koko, pacar Lala! Matanya melotot melihat saya dan Lala yang berpelukan dan berciuman.
Saya dan Lala jauh lebih terkejut dibandingkan dia. Wajah kami memucat. Saya tidak berani bersuara, perasaan malu dan bersalah membuat saya hanya berdiam diri.

“Brukk!” Koko membanting pintu dengan kencangnya.
“Ko!” Panggil Lala.
Kami langsung berdiri dan mencari pakaian kami. Ketika saya baru saja mengenakan celana panjang, Koko kembali masuk ke kamar. Terlihat kobaran api amarah di matanya, dia memandang saya dengan perasaan dendam.

Saya bersiap-siap menyambut segala kemungkinan yang mungkin timbul. Perasaan saya mengatakan sesuatu yang jelek akan terjadi. Memasang kuda-kuda, saya memikirkan bagaimana caranya menjaga diri saya. Pada prinsipnya saya tidak mempunyai sifat yang agresif, itu sebabnya saya selalu gagal di kompetisi Tae Kwon Do. Apalagi sekarang perasaan salah dan berdosa membuat segala keinginan menyerang menjadi hilang. Saya hanya akan melakukan tendangan Balchagi ataupunYapchagi untuk menahan serangan Koko.

Ternyata sasaran Koko bukan saya, dia berlari menuju Lala yang menangis dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Plakk..” tamparan yang keras mengenai pipi dan kepala Lala. Tubuh Lala terdorong akibat tamparan tersebut dan kepalanya membentur lemari pakaian.
“Hentikan!” bentak saya sambil melompat melampaui ranjang menuju Lala yang berbaring di lantai. Saya memeluk Lala.

“Lala.. Lala!” panggilku. Dia cuma menangis.
Saya bermaksud mengangkat tubuh Lala ke kasur. Insting saya tiba-tiba mengatakan bahwa saya harus memperhatikan Koko. Namun terlambat, ketika saya memalingkan wajah saya melihat ke arah Koko, saya merasakan pukulan telak di kepala saya. Seketika dunia menjadi hitam. Rupanya Koko menggunakan balok kayu yang digunakan untuk memperbaiki jendela kamar Lala untuk menghantam kepala saya.

Saya mengejap-ngejap mata saya. Amarah saya akhirnya menggelora. “Saya harus mempertahankan diri saya dan Lala!” pikir saya dan akhirnya saya berdiri. Anehnya, mata kanan tidak bisa melihat apa-apa. Saya mengusap mata kanan saya, “Ah.. pukulan tersebut pasti mengenai mata saya..” pikir saya sedikit ketakutan. Akibat usapan tangan saya, saya bisa melihat kembali.Namun ketika saya melihat tangan saya yang berlumuran darah, saya segera menyadari apa yang terjadi. Kepala saya berdarah! Ketika saya menunduk, dan melihat ke bawah, saya melihat lantai yang biasanya putih ternoda oleh ceceran darah saya yang terus menetes.

Jahaman! Saya bermaksud menyerang Koko yang sedang berlari keluar.
“Jangan Gus!” terdengar suara Lala. Suaranya yang lirih membuat saya mengalihkan perhatiansaya. Kembali saya memeluknya.
“Ah, kamu berdarah.. kamu berdarah..” kata Lala dengan histeris ketika melihat kepala saya.

Part V: Dendam dan Maaf

Berbaring lemah di rumah sakit Methodist, Lala memegang tangan saya.
“Gus, maafin Koko ya?” pinta Lala. Saya cuma berdiam diri. Saya masih merasa sakitnya kening saya yang baru dijahit 13 jahitan.
“Maafin dia, ya?” pinta Lala kembali. Saat itu teman-teman saya sedang mencari-cari Koko. An Eye for an Eye, A Tooth for a Tooth. Kepala harus dibalas dengan kepala, itulah prinsip kami! Dia juga harus merasakan 13 jahitan di kepalanya!

Lala menangis sesunggukan, “Saya memohon, maafin dia ya?”
Perang berkecamuk di pikiran saya.
“Koko tidak bersalah! Kamu yang salah!” bisik satu suara.
“Dia tidak sepantasnya melukai kamu, semua bisa diselesaikan baik-baik. Karena dia memilih jalan keras, kamu juga harus memilih jalan tersebut!” bisik suara lainnya.
Air mata Lala mengalahkan segalanya. Akhirnya saya berjanji akan melupakan masalah tersebut dan menyimpan rahasia ini diantara kami bertiga.

Bekas luka di kening saya terlihat jelas sampai sekarang! Saya kemudian kehilangan contact dengan Lala, saya merantau ke Bandung, Jakarta, akhirnya ke Eropa.

Oh Lala, saya tidak akan pernah melupakan kamu. Kamulah yang pertama kali menghidupkan api nafsu ini dan saya masih berhutang dua kali ke kamu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s