Ribuan Ekor Belatung Keluar Dari Dalam Vagina Jenazah


Sudah dua pekan ini Rukemi tergeletak di balai bambu di dalam kamarnya. Tubuhnya yang sudah renta itu, tidak bisa digerakkan dengan leluasa. Meski pagi hari dia terlihat keluar rumah, namun pada malam hari tubuhnya pasti menggigil kedinginan.

Seperti pada malam Jum’at itu. Rukemi merarasakan keadaan lain dari hari-hari sebelumnya. Semilir angin laut yang menerobos dinding kamarnya, membuat dia tak kuat menahan rasa dingin. Padahal, sudah belasan tahun angin laut menerobos dinding rumahnya yang hanya terbuat dari bambu itu. Sudah belasan tahun pula angin laut itu menemani mimpi-mimpinya.

Karena tidak tahan oleh terpaan angin malam, Rukemi terpaksa memanggil Jumilah. Kebetulan malam itu, anak pertamanya yang sudah menikah dan berumah tangga di lain desa itu menginap di rumahnya.

“Jumilah, tolong Ibu. Ambilkan aku kain di lemari depan. Aku tidak kuat kedinginan,” pekik Rukemi dari dalam kamarnya.

“Iya, sebentar aku ambilkan, Bu!” Jawab Jumilah. Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar ibunya. Di bawah cahaya bohlam lima wat yang remang-remang itu, Jumilah melihat  ibunya yang menggigil kedinginan.

“Ibu kenapa kok bisa begini? Katanya sudah periksa ke Puskesmas, tapi kok tidak sembuh. Diminum apa tidak obatnya?” Tanya Jumilah dengan perasaan was-was. Maklum saja, wajah ibunya saat itu tampak semakin pucat. Selain itu, dia juga melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.

Dengan cemas dia kembali bertanya, “Ada apa sebenarnya, Bu. Ibu terlihat ketakutan dan menyimpan rahasia. Ceritakanlah pada saya, biar Ibu lega dan tidak dicekam ketakutan seperti ini!”

Bujukan Jumilah tidak membuat Rukemi segera memberi tahukan apa yang disembunyikannya. Dia tampak ragu untuk membicarakan rahasia pribadinya pada anak sulungnya itu.

“Percayalah, Bu! Saya akan menyimpan rahasia itu. Ibu tidak usah khawatir,” bujuk Jumilah lagi berusaha meyakkinkan.

Rukemi menatap anaknya. Dia memang tidak punya pilihan lain, sebab tak mungkin dia akan terus menerus menyimpan rahasia itu seorang diri. Dengan suara bergetar, perempuan di ambang senja ini mulau mengungkap sesuatu yang selama ini dia sembunyikan sangat rapat.

“Sejujurnya, Nak! Sebetulnya sakit Ibu ini karena tekanan batin. Ibu tertekan oleh ucapan Pak Kerto tempo hari. Kata-katanya sangat menakutkan. Oleh karena itulah Ibu menyimpan rahasia ini. Termasuk juga pada kamu dan adik-adikmu,” ungkap Rukemi mengawali ceritanya.

Jumilah hanya diam seribu bahasa. Dia memilih untuk setiap mendengarkan rahasia apa yang disimpan oleh ibunya, sehingga membuat sang ibu sampai sakit sekian lamanya.

Kepada putri sulungnya, Rukemi menuturkan bahwa tekanan batin itu berawal sejak kematian  Lasmini, seorang wanita cantik, yang  dikenal kaya raya. Beginilah kisah yang terjadi beberapa minggu silam itu…:

Sore itu Desa Tireman terlihat ramai, tidak seperti hari-hari biasanya. Keramaian desa di pinggiran Kota Rembang ini disebabkan oleh berita tentang kematian seorang warga yang sangat mendadak. Dia adalah Lasmini. Perempuan cantik berumur empat puluhan  tahunan itu tiba-tiba saja meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya secara pasti. Padahal, sehari sebelum meninggal, Lasmini masih terlihat jalan-jalan bersama Pak Kerto, suaminya.

Seperti biasanya, setiap ada kematian warga masyarakat, maka para tetangga di kanan kiri rumah yang sedang berduka akan ikut begotong royong menyiapkan segalanya untuk pengurusan prosesi pemakaman. Ada yang mengusung keranda  dari masjid, ada juga yang menyiapkan kursi untuk para tamu yang bertakziah, sampai mereka yang sibuk mempersiapkan liang lahat.

Karena di desa itu keluarga Lasmini termasuk orang terpandang, selain kaya juga banyak kerabatnya yang menjadi pegawai di pemerintahan baik yang ada di desa, maupun di kabupaten, maka tak heran bila kesibukan prosesi pemakaman pun terasa amat berbeda dari warga yang lain. Banyak mobil mentereng yang diparkir di pinggir jalan dekat rumah duka.

Sebagai tetangga dekat, Rukemi, juga terlihat sibuk ikut membantu kelurga yang tertimpa kemalangan itu. Selama ini, Rukemi memang dikenal sebagai seorang penghulu wanita, yang biasanya bertindak dalam urusan prosesi pemandian jenazah. Setiap ada wanita di desanya yang meninggal dunia, maka dia selalu diberi tugas memandikan jenazahnya. Uang pengganti lelah setiap habis memandikan jenazah kerap dia dapatkan, dari keluarga yang meninggal dunia. Meski dia bermaksud menolong, namun dia tetap tidak mampu menolak pemberian atas jasanya itu.

Begitu juga saat Lasmini meninggal dunia, Rukemi pula yang memandikannya. Dengan dibantu beberapa wanita yang masih kerabat dekat Lasmini, Rukemi menyiram seluruh jenazah Lasmini untuk dibersihkan. Sesuai dengan ketentuan syareat, Rukemi juga tidak lupa membersihkan dubur dan kemaluan jenazah. Dengan sabun dan kapas, tempat-tempat yang kotor itu dibersihkan, agar tidak ada kotoran yang menempel pada jenazag tersebut.

Namun, sesuatu yang ganjil dihadapi oleh Rukemi. Btapa terkejutnya dia saat bermaksud membersihkan kemaluan Lasmini, sebab disana ada puluhan, bahkan mungkin rausan ekor belatung yang masih hidup. Ulat-ulat putih menjijikan itu sebagian berjatuhan saat tersiram air yang diguyur Rukemi dengan gayung di tangannya.

Rukemi sempat tertegun. Namun sebagai seorang juru memandikan mayat yang sudah professional, sedapat mungkin dia berusaha menyembunyikan aib itu. Walau dengan perut terasa amat mual dan nyaris muntah,  dengan sigap dia segera menyiram ulat-ulat kecil. Berulang-ulang hal ini dilakukannya, hingga belatung-belatung itu terusir dari sarangny, yakni di liang garba jenaxah Lasmini..

Meski Rukemi bertindak sangat cepat, namun tak urung adalah salah seorang kerabat Lasmini yang mengetahui hal itu. Kendati demikian, Rukmini berusaha untuk pura-pura tidak mengetahui. Dia terus saja memandikan jenazah, seakan-akan tidak ada sesuatu aib apapun yang terjadi.

Namun, entah mengapa rasa was-was selalu tertanam dalam benaknya sejak menyaksikan peristiwa yang amat menjijikan ini. Dia sulit menghapus bayangan ulat-ulat putih yang bersijingkat di dalam (maaf) mulut vagina Lasmini yang semasa hidupnya dikenal sebagai perempuan tercantik di desanya itu. Kendati demikian, Rukemi tak bisa menduga-duga mengapa keanehan yang amat menjijikan tersebut bisa terjadi pada jenazah Lasmini yang mati secara mendadak dan tanpa sebab yang jelas itu.

Sore hari setelah memandikan jenazah Lasmini, sehabis solat Maghrib, Rukemi duduk di balai-balai bambu di depan beranda rumahnya. Deburan ombak terdengar amat berirama. Namun kali, suaranya terdengar lebih keras lantaran musim barat selalu membawa angin yang cukup kencang. Sementara langit juga tetap seperti biasanya, memerah berpadu warna hitam kelam, pertanda malam mulai datang.

Sebelum Rukemi menyaksikan seluruh warna merah di langit senja berubah menjadi hitam pekat, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seorang laki-laki, yang nampaknya ingin bertamu ke rumahnya.

“Assalamu‘alaikum, Yu Rukemi!” Ucap laki-laki itu. Suaranya memecah keheningan dan menyentakkan Rukemi dari kecamuk batinnya.

“Wa’alaikummsalam!” Balas Rukemi sambil menengok ke belakang. “Eh, Pak Kerto. Mari silahkan duduk, Pak! Ada apa ya, kok sore-sore ke sini?” Tanya Rukemi begitu telah melihat siapa yang datang.

“Terima kasih, Yu!” Jawab Pak Kerto. Dia lalu melanjutkan, “Kedatanganku kemari cuma mau mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan Yu Rukemi pada keluarga saya. Dan ini ada sedikit uang pengganti lelah.”

Pak Kerto meletakkan sebuah amplop uang di balai-balai bambu. Sementara Rukemi hanya memandang penuh perasaan heran. Maklum saja, dia sudah bisa menduga amplop itu pasti berisi uang yang lumayan banyak. Padahal, uang sebanyak itu tidak pernah dia dapatkan selama dia menemuki pekerjaan sebagai penghulu memandikan mayat. Biasanya untuk memandikan mayat, dia mendaptkan puluhan ribu rupiah saja. Oleh karena itulah Rukemi agak rikuh untuk menerimanya.

“Uang ini untuk tutup mulut atas kejadian yang terjadi pada jenazah istriku. Ingat, jangan sampai ada seorang pun yang tahu kejadian itu!” Tandas Pak Kerto dengan nada keras, seakan mengancam Rukemi. Setelah itu, tanpa berkata-kata lagi dia langsung pergi.

Rukemi hanya diam. Matanya menerawang kejadian menjijikan itu. Ya, saat dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ratusan belatung bergumpal-gumpal dan saling bersijingkar dalam mulut vagina jenazah Lasmini. Membayangkan hal ini, bulu kuduknya langsung berdiri, sekaligus merasa jijik. Bahkan, gara-gara peristiwa ini selera makan Rukemi nyaris hilang.

Rukemi memang tidak tahu asal usal Lasmini, wanita yang kemudian diperistri oleh Pak Kerto beberapa tahun yang lalu itu. Yang dia tahu bahwa Pak Kerto menikahi Lasmini setelah istrinya meninggal dunia lantaran kecelakaan. Namun Rukemi masih ingat rumor yang beredar di lingkungan masyarakat desanhya beberapa waktu sebelum Pak Karto menyunting Lasmini. Katanya, Pak Kerto menikahi wanita mantan Pekerja Sek Komersial (PSK) dari luar kota.

Dulu, Rukemi tidak pernah mempedulikan rumor ini. Namun setelah kejadian yang dia alami sendiri di saat memandikan jenazah Lasmini, akhirnya dia menaruh curiga juga: “Jangan-jangan memang benar isu yang berkembang dulu. Isteri Pak Kerto itu bekas pelacur? Tapi apa seberat itu hukumannya?”

Entah mengapa, hari demi hari Rukemi dicekam perasaan takut. Dia kuatir tidak akan mampu menyimpan rahasia besar itu. Ya, rahasia yang berisi tentang aib Lasmini, isteri Pak Kerto. Oleh karena itulah dia selalu merasa was-was. Karena tekanan batinnya akhirnya dia jatuh sakit.

Karena tak kuat memikul tekanan batinnya, malam itu Lasmini terpaksa menceritakan kejadian aneh yang dialaminya itu pada Jumilah. Dan memang benar, setelah menceritakan rahasia yang tersimpan beberapa minggu itu, Rukemi merasakan ketenangan. Dia bisa berpesan pada anaknya agar jangan sekali-kali berbuat zina.

Malam itu Rukemi dapat tidur pulas. Dan pagi harinya, Desa Tireman kembali ramai karena salah seorang warganya meninggal dunia. Hari itu Rukemi meninggal dunia setelah menyampaikan sebuah pesan pada anaknya, yakni agar jangan sekali-kali anaknya melakukan perzinahan. Dia mungkin takut jenazah anaknya akan mendapatkan kutuk seperti yang terjadi pada jenazah Lasmini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s