Setengah Tahun Tinggal di Sarang Kuntilanak


Fenomena gaib ini dialami Supriyanto, seorang teman Misteri. Waktu Supriyanto masih kuliah dan tinggal di tempat kos di daerah Kota, Jakarta. Suatu ketika, karena terlambat membayar uang kos, ibu kos mengusirnya dari kamar yang dia tempati. Akibat kejadian ini, mau tidak mau Supriyanto mencari tempat kos yang baru.

Di tengah kebingungannya mencari tempat kos, akhirnya dia bertamu dengan seorang Ibu paruh baya yang sangat baik hati. Si Ibu menyuruhnya menempati salah satu kamar di rumahnya yang memang besar. Bahkan, tanpa harus mengeluarkan uang untuk bayar sewa. Tentu saja Supri merasa seperti mendapatkan durian runtuh.

Namun, siapa sangka kalau ternyata rumah besar, khususnya kamar yang dia tempati itu adalah sarang Kuntilanak? Di tempat inilah dia mengalami teror gaib yang sangat mencekam. Berikut penuturan Supriyanto dalam tokoh “aku”, seputar pengalaman menegangkan yang dialaminya.

Aku berasal dari keluarga pas-pasan di kampung. Akan tetapi, kedua orang tuaku menginginanku maju dalam hal pendidikan. Sehingga aku bisa melanjutkan sekolah SMA, bahkan kemudian disuruhnya kuliah di Jakarta.

Karena aku tahu pasti bagaimana kondisi keuangan Ayahku, sekedar untuk meringankan tanggungannya, aku bekerja sambilan di sebuah bengkel. Gaji yang kuterima bisa untuk bayar kos, dan beli buku atau diktat.

Namun, suatu ketika sebuah peristiwa pahit terjadi. Uang gaji yang seharusnya untuk bayar kos hilang kecopetan di bis kota. Akibat peristiwa ini aku terlambat dibayar. Sedangkan kiriman dari kampung juga terlambat.

Akhirnya, hingga dua bulan itu aku tidak bisa bayar uang kos. Sementara ibu kos yang cerewet itu tidak mau tahu apa alasnku. Bahkan dengan tegas dia menyuruhku angkat kaki dari tempat kos yang dikelolanya. Mau tidak mau, akupun mengemasi barang-barangku dan berlalu dari tempat kos itu.

Aku mulai berjalan mengelilingi kawasan Kota Beos dan setiap tempat kos pun kudatangi. Disamping harga sewanya mahal, semuanya juga penuh. Aku sadar, mencari tempat kos baru, ternyata bukanlah satu pekerjaan mudah.

Aku hampir saja menyerah. Namun aku masih punya harapan saat bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang sepertinya sangat baik hati padaku. Ketika itu, kami bertemu di pelataran Stasiun Beos, persisnya saat aku istirahat karena lelah berjalan.

“Mau pergi ke mana, kan malam begini sudah tidak ada kereta yang jalan, Dik?” Sapa si ibu.

Akhirnya, kuceritakan kesulitan yang tengah kuhadapi. Ibu ini sepertinya sangat bersimpati padaku.

“Kalau kau mau, tinggal saja di rumah Ibu. Kebetulan ada beberapa kamar yang kosong. Bagaimana, kau bersedia bukan?”

Tentu saja aku menyambut baik tawarannya itu.

Singkat cerita, akhirnya aku tiba di sebuah rumah yang lumayan besar dan luas. Sejenak kupandangi rumah yang besar dan luas itu. Dari model arsitekturnya, terlihat rumah itu seperti bekas peninggalan zaman penjajahan Belanad. Tapi rumah itu terlihat senyap, seperti tak berpenghuni. Bahkan tak kulihat seorang pun dirumah itu, kecuali si Ibu yang baik hati itu. Tapi, beberapa saat lalu dia meninggalkanku di rumah tamu ini. Aneh, sudah lama juga dia pergi, kok tak muncul lagi?

Sepintas terpikir dalam benakku, mungkin rumah itu tak berpenghuni hingga terkesan senyap. Namun, tiba-tiba kurasakan hawa yang lain. Bulu kudukku meremang. Dan aku merasakan hembusan seperti dengus nafas di tengkukku.

“Ah, tidak mungkin rumah sebagus ini dihuni oleh bangsa hantu,” pikirku.

Belum hilang rasa penasaranku, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, hingga kulihat seorang wanita yang membuat jantungku berdebar kencang, keluar dari ruang dalam itu. Sepintas aku menebak, kalau umur wanita itu sekitar 25-an. Cara dia berjalan pun menandakan bahwa dia adalah orang terhormat.

Tatapannya yang tajam tapi indah, dan pakaian yang dikenakannya, sempat membuatku berdebar-debar tak menentu. Ketika sampai di depanku, dengan suara yang lembut ia menyapaku.

“Mas, mau tinggal di sini, ya?” Tanyanya

“Oh, eh, Iya Mbak…” jawabku tergagap karena terpesona pada wanita itu.

“Kebetulan, aku memang butuh teman buat ngobrol.” nada suaranya begitu lembut, menandakan bahwa dia adalah wanita yang ramah.

“Tapi, Mbak…”

“Kenapa? Mas ngggak usah takut tidak bisa bayar uang kosnya?”

Aku mengangguk lemah. Kemudian wanita yang mengaku bernama Rina itu menjelaskan semuanya. Mbak Rina ditinggal mati kedua orang tuanya akibat kecelakaan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbak Rina mengelola rumah peninggalan orang tuanya sebagai tempat kos.

Namun, sudah setengah tahun terakhir, tempat kosnya sepi. Tak ada yang berminat dengan tempatnya. Entah kenapa? Mungkin karena rumah itu besar dan megah, jadi mungkin mereka berpikir pasti ongkos bayar kos juga mahal.  Padahal, Mbak Rina tidak pernah pasang sewa mahal.

Kemudian, Mbak Rina juga menjelaskan bahwa aku tidak perlu bingung masalah bayar uang kos. Aku tidak perlu repot-repot cari makan di luar. Aku diperbolehkan makan gratis, bahkan untuk kebutuhan pribadiku, Mbak Rina menyanggupi untuk memenuhinya.

Aku jadi berpikir, kenapa Mbak Rina sebaik itu kepadaku? Sementara kami baru saling kenal.

“Mas, tidak perlu heran dengan semua ini. Disini aku sendirian, dan aku butuh teman. Tak ada salahnya aku menerima mas Anton. Tanpa harus membenani Mas Anto dengan masalah uang kos!” Tandas Mbak Rina sepertinya tahu yang sedang aku pikirkan. Anehnya, ketika itu aku lupa dengan ibu yang tadi membawaku ke rumah itu. Mungkin karena aku merasa sangat senang bisa mendapatkan fasilitas gratis. Memang, entah mimpi apa aku kala, sehingga aku mendapatkan rejeki nomplok yang tak pernah kupikirkan.

Singkat kata, setelah terjalin kesepakatan antara aku dan Mbak Rina, maka resmilah aku menjalani kehidupanku di rumah itu. Ya, aku semakin bersemangat menjalani kehidupanku. Bahkan, aku semakin giat belajar, karena Mbak Rina juga selalu mendorong semangatku.

Tanpa terasa, sudah lima bulan aku tinggal di rumah besar dan mewah itu. Anehnya, setelah lima bulan aku tinggal, aku merasakan perubahan yang sangat besar. Entahlah, tiba-tiba sering muncul perasaan aneh yang memaksaku untuk menuruti semua kehendak Mbak Rina. Perasaan aneh itu selalu muncul dalam benakku. Dan setiap aku memejamkan mata, entah kenapa aku sering membayangkan Mbak Rina.

Bahkan aku sempat berpikir, betapa untungnya andai aku bisa menjalin hubungan khusus dengannya. Namun, tak jarang pula ada perasaan aneh yang membuat bulu kudukku merinding.

Akhirnya kusadari, ternyata perasaan aneh itu hadir setiap aku sedang duduk bersama Mbak Rina. Sekali lagi aku merasa heran. Namun, sekarang terkesan lain. Mbak Rina terkesan lebih banyak diam, tak seperti dulu. Kadang wajahnya terlihat pucat pasi seperti orang sakit.

Setiap kutanya, apakah fia sakit? Mbak Rina selalu menggelengkan kepala. Tak jarang pula aku sering mencium aroma aneh seperti amis darah di rumah itu. Semakin lama aku tinggal dirumah itu, semakin sering pula aku menangkap hal-hal yang mencurigakan.

Aroma yang seperti amis darah dan bau busuk seperti bangkai pun sering aku rasakan. Sampai menyengat hidung. Belum hilang rasa heranku, tiap tengah malam, sering kudengar suara orang merintih dan mengerang. Anehnya, suara ini sepertinya berasa dari kamar Mbak Rina.

Yang tak kalau mengherankan, sejak aku tinggal, tidak pernah ada satu orang pun tamu atau sanak famili Mbak Rina yang datang ke rumah ini. Apakah dia benar-benar hidup sebatang kara? Pertanyaan ini memang kerap muncul di benakku. Anehnya, ketika bertemu atau sedang berduaan dengannya, niatku untuk bertanya hilang sama sekali.

Malam itu kejadian aneh kembali kualami. Di saat hendak kupejamkan mata, suara rintihan dan erangan itu jelas sekali terdengar di telingaku. Dan aku semakin yakin, kalau suara itu memang datangnya dari kamar Mbak Rina.

Walau ketakutan mendera seluruh jaringan syarafku, namun kali ini kupaksakan kakiku berjalan ke kamar Mbak Rina. Semakin aku mendekati kamar itu, semakin yakin pula aku bahwa suara itu adalah suara Mbak Rina.

Tiba-tiba lampu di rumah padam semua. Aku gelagapan tak tahu arah karena gelap. Dan tiba-tiba, aku merasakan menabrak sesuatu, kemudian kucium aroma wangi yang luar biasa. Seiring lampu yang kemudian hidup, kulihat Mbak Rina sudah berdiri di depanku dengan memakai gaun tidur putih yang tipis. Rambut sebahunya terurai menggairahkan.

“Ada apa, Mas?” Tanya Mbak Rina.

“Anu….anu…Mbak. Saya tadi dengar suara-suara rintihan…”

“Ah, mana mungkin, paling kamu salah dengar, Mas.”

“Tapi….”

Mbak Rina tertawa cekikan, sehingga memaksaku untuk berhenti berkata-kata. Lalu dengan gaya menggemaskan dia menjelaskan, bahwa tadi dirinya memang sedang memutar film blue di kamar, dengan suara agak keras. Jadi wajar, kalau aku mendengarnya.

Entah benar entah tidak alasan itu, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar. Namun, aku terkejut ketka jemari tangan Mbak Rina menarik lenganku.

“Mau kemana, Mas?” Tanyanya dengan suara lirih, dan tatapan yang sulit bagiku mengartikannya.

“Aku mau tidur, Mbak!” Jawabku.

Tiba-tiba Mbak Rina menggandeng tanganku menuju kamarnya. Herannya, aku hanya menurut saja saat dia mendorong tubuhku agar  duduk di sampingnya, diatas kasur yang indah itu. Herannya lagi, Mbak Rina duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, sambil menikmati acara televisi di kamar.

Sebenarnya, aku merasa risih dan tidak enak, karena Mbak Rina adalah pemilik rumah. Namun, aku hanya bisa terdiam saat jemari tangannya membelai lenganku, bahkan membelai sekujur tubuhku.

Perasaanku semakin berkecamuk tidak karuan dengan sikap Mbak Rina yang berani dan menantang itu. Hingga secara tak sadar, akupun membalas sentuhan-sentuhan itu. Bahkan Mbak Rina semakin agresif.

Tiba-tiba perasaan aneh dan aroma tidak sedap itu kembali muncul, disaat aku seperti diterbangkan oleh Mbak Rina dengan kehangatan tubuhnya. Bahkan, aku merasakan suhu tubuh Mbak Rina yang semula hangat penuh gelora berubah dingin seperti mayat.

Ketika aku berusaha mengontrol kesadaranku, Mbak Rina justeru semakin menerbangkanu. Dan, setiap aku bersemangat mengimbanginya, perasaan aneh dan aroma tak sedap itu semakin menyengat hidungku.

Aku terus dibuai Mbak Rina, hingga saat semuanya berakhir, aku mendapatkan tubuh Mbak Rina yang semakin dingin. Dan anehnya lagi, wajah Mbak Rina berubah seperti mayat nenek-nenek yang mengerikan, dengan rambut yang awut-awutan, sambil tertawa terkekeh-kekeh, penuh kemenangan.

Tanpa pikir panjang, dan tak kuhiraukan pakaianku yang tertinggal dikamar Mbak Rina, akupun berlari ke kamarku sendiri dan langsung menghambur ke tempat tidur. Kuraih selimut untuk menutupi wajah dan sekujur tubuhku. Pikiranku tidak karuan. Sulit melukiskan rasa takut yang kualami saat itu.

Keesokan paginya aku terbangun tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhku. Segera kukenakan pakaian dan kukemasi barang-barangku untuk segera pindah. Di saat aku keluar dari rumah itu, kulihat rumah yang kutempati berubah menjadi bangunan tua yang kotor dan mengerikan.  Sampah berserakan di setiap sudut. Kulihat beberapa orang menatap diriku dengan seribu tanya. Saat kujelaskan apa yang kualami, mereka justru bersyukur karena aku selamat dari perbuatan hantu kuntilanak yang sejak lama bersemayam di tempat itu.

Menurut mereka, tempat itu dulunya dipakai sebagai tempat penyiksaan wanita-wanita pribumi saat penjajahan Belanda. Ditempat itu, kaum perempuan pribumi disiksa dan diperkosa bergiliran sampai mati. Mungkin karena itulah arwah mereka gentayangan dan menuntut balas kepada setiap lelaki. Namun aku bersyukur, karena aku selamat dari perbuatan jahat Kuntilanak.

Peristiwa aheng ini merupakan satu pelajaran bagiku, agar dalam setiap usaha apapun, kita tidak boleh menyerah dan selalu ingat kepada Allah. Karena Allah selalu menguji setiap umatNya, apakah umatNya itu ingat dan tawakal kepadaNya atau tidak.

Sejak peristiwa mengerikan itu, aku selalu menyebut nama Allah sebelum aku memulai segala sesuatu. Karena aku yakin, Allah senantiasa mengawasi umatNya.

Percaya atau tidak, jika Anda kebetulan sedang berada di kawasan Kota Tua Jakarta, maka Anda akan dengan mudah melihat bangunan tua yang pernah memenjarakan kesadaranku hampir setengah tahun lamanya.

One comment on “Setengah Tahun Tinggal di Sarang Kuntilanak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s