Wanita Misterius itu Menularkan AIDS di tubuhku


MENJELANG tengah malam, diskotik mungil di pinggiran jalan kawasan Legian itu mendadak sesak dijejali pengunjung. Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang kulit putih. Mereka duduk berimpitan di atas kursi-kursi rotan, sebagian lain berdansa mengikuti irama disco yang dinamis dari lagu I Wanna Be Rich. Bau alkohol memenuhi udara. Asap rokok berputar mengikuti putaran lampu estetik membentuk fantasi khas pesta malam.

I Made Nuarta menyedot sigaretnya dalam-dalam sambil menenggelamkan punggungnya ke sandaran kursi yang terletak di sudut ruangan. Matanya menyipit memperlihatkan gerak-gerik seorang perempuan bule berambut pirang, bercelana jeans ketat, yang sedang asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya di lantai dansa

Berkali-kali Made Nuarta tersenyum lebar dengan wajah puas. Jeane mestinya memang menikmati seluruh waktu liburannya dengan cara begitu. Bergembira ria, hura-hura, lalu sedikit asap rokok dan minuman beralkohol, sebelum dia kembali ke negaranya dan tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya.

Made Nuarta masih asyik mengangguk-angguk kepalanya mengikuti irama musik ketika keningnya dikecup seseorang yang lalu duduk rapat di pelukannya

“Dari semula saya memang tidak percaya kalau kamu tidak bisa menikmati suasana seperti ini. Gerakan dansamu tidak terlalu jelek. Sudah?” kata Nuarta dengan senyum lebar, dengan bahasa Inggris, tentunya

Jeane tertawa lebar. Dia merapatkan tubuhnya lebih dalam ke pelukan Nuarta. “Sudah larut, Sayang. Apa tidak sebaiknya kita pulang sekarang?”

“Tak seorang pun bisa menahan keinginanmu!” Cewek bule berambut pirang itu tertawa lagi, lalu mengecup Nuarta dengan amat manja.

Sekitar jam satu dinihari Nuarta dan Jeane meninggalkan diskotik. Mereka berjalan kaki menuju Hotel New Lagoon sembari berpelukan. Sudah dua hari ini Jeane memang menginap di hotel kecil namun cukup mewah ini. Sebelumnya, selama lebih sepekan Jeane menginap di Putri Bali Hotel Nusa Dua, hotel para eksekutif

Nyoman Tua, pemilik hotel yang juga bertugas sebagai resepsionis malam itu menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Wayan mengantarkan pasangan muda yang berjalan bergandengan dengan agak sempoyongan itu sampai mereka hilang di balik pintu kamar

Di dalam kamar Jeane melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang dingin tanpa melepaskan pakaian maupun sepatunya. Nuarta berbuat hal yang sama. Mereka tertawa-tawa dalam kalimat-kalimat yang tak jelas. Makin lama komunikasi mereka lebih tak jelas lagi, sebab yang kemudian keluar dari masing-masing bibir mereka tak lagi berupa kalimat, melainkan sejenis teriakan kecil, erangan, rintihan dan nada yang sejenis dengan itu. Untuk selanjutnya ruangan sunyi senyap.

Selang satu jam kemudian, Made Nuarta tampak ke luar kamar hotel. Langkahnya agak tergesa. Kepada Nyoman dia tertawa menunjukkan barisan gemiginya yang rapi. Di ujung jalan Lawar, temannya, menjemputnya dengan sebuah sepeda motor dan membawanya ke sebuah pondok di pelosok perkampungan di Kuta

Di atas balai-balai di pondoknya, Made Nuarta membaringkan tubuhnya yang hanya di bungkus kain sarung. Asap kretek nyerebung dari bibirnya yang dibiarkan terbuka. Mata Nuarta menerawang, menatapi bayangan darinya yang berloncatan dari dalam ruangan sempit itu

Tahun ini I Made Nuarta genap berusia 30 tahun. Dalam usia ini Made Nuarta mencanangkan dirinya untuk mengubah menjadi Nuarta yang lain. Dan yang penting keputusan ini bukanlah lantaran desakan Bapak serta Bli-nya ketika dia pulang ke Tabanan dua minggu lalu. Keputusan ini adalah tekadnya sendiri yang keluar dari hati dan cita-citanya

I Made Nuarta lahir di Tabanan. Dia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya hanya petani, tetapi cukup kaya sehingga dia dan saudara-saudaranya mampu melanjutkan study sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Made Nuarta sendiri, selepas SMA melanjutkan study ke sebuah akademi pariwisata, sesuai dengan cita-citanya untuk menjadi guide. Bapaknya semula setuju bahkan bangga Nuarta berkeinginan menjadi guide. Tetpi tentuu saja bukan guide yang selama lima tahun ini dia jalani

Selepas Nuarta dari sekolah, dia memang bekerja sebagai guide, tetapi tidak resmi. Dalam kata lain, dia tidak bekerja pada perusahaan mana pun. Dia berjalan sendirian menjadi guide haram. Sehari-hari dia berkumpul dengan teman-temannya di Kuta dan Legian

Sekali dua, ada juga Nuarta bersedia mengantar rombongan turis mengunjungi daerah-daerah wisata, tetapi yang lebih sering dia lakukan, adalah menemani turis wanita yang datang ke Bali sendirian. Ada banyak turis seperti ini

Made Nuarta mendapatakan kepuasan sendiri dengan spesialisasi seperti ini. Sebab turis wanita seperti ini lebih terjamin keuangannya. Lagi tujuan rata-rata mereka datang ke Bali bukan semata ingin menikmati pemandangan alam Bali, melainkan semuanya, termasuk seks, dalam keadaan seperti ini, penampilan yang dimiliki Nuarta memang cukup memenuhi syarat

Sebagai seorang pria Bali, Nuarta memang termasuk spesial kalau tidak dibilang luar biasa. Tubuhnya tinggi dengan tulang tubuh yang tampak bagus dan kokoh,. Hidungnya yang mancung dengan rambut kritingnya kadang membuat dia tampak seperti seorang Italiano.

Lima tahun sudah Nuarta menekuni profesi spesialisasi menjadi guide sekaligus teman kencan dari turis-turis wanita bule. Selama lima tahun itu tak terbilang berapa banyak sudah wanita yang mengisi kehidupannya

Kalau saja Nuarta pandai mengatur pengeluaran keuangannya, barangkali sekarang dia sudah kaya raya. Paling tidak, dia sudah punya tanah, rumah bahkan kendaraan pribadi. Turis-turis yang dikencaninya umumnya tak sayang mengumbar dolar mereka untuk kepentingan Nuarta, tetapi, dasarnya Nuarta memang bukan type pemeras. Bila pun ada turis-turis yang memaksa Nuarta untuk menerima sisa dolar mereka, biasanya uang itu langsung ludes di warung-warung minum di tempat Nuarta dan segerombolan temannya biasa berkumpul

Dua minggu lalu, I Made Nuarta dipanggil bapaknya untuk pulang ke Tabanan. Bapak serta Bli Nuarta yang rupanya prihatin dan khawatir dengan apa yang dilakukan Nuarta, bermaksud menarik Nuarta dari kehidupan Kuta dan Legian. Sebagai kompensasinya, mereka menawari Nuarta untuk bekerja di sebuah hotel baru masih milik keluarga di Ubud

I Made Nuarta tidak memerlukan waktu banyak untuk menerima tawaran tersebut. Soalnya, dia sendiri memang sudah bosan dan jenuh dengan kegiatannya itu. Bila Nuarta sedang berbaring sendirian di pondoknya, seringkali dia berpikir tentang masa depannya, tentang keluarga, tentang anak, tentang pekerjaan yang agak terhormat. Dan semuanya itu mustahil diraihnya dengan cara bergelimang dosa seperti sekarang ini

Bila pada hari-hari belakangan itu Nuarta masih berada di pondoknya yang kecil di Seminyak, sesungguhnya  Nuarta ingin menganggap itu sebagai hari-hari yang terakhir di tanah ketidakpastian itu

Begitupun, perjumpaannya dengan Jeane, ingin dianggapnya sebagai kencananya yang terakhir sebelum dia memasuki sebuah bentuk kehidupan yang lebih pasti dan normal.

I Made Nuarta berjumpa pertama kali dengan Jeane, cewek Amerika yang kurus dan cantik itu di Ubud, yaitu ketika dia sedang mengurusi pekerjaannya di hotel milik pamannya itu. Pamannya ketika itu, menawari Nuarta menangani marketing. Dan bila di sepanjang perjalanan wajah Nuarta tampak girang, sebabnya bukan lantaran masalah pekerjaan itu, melainkan kenyataan bahwa Jeane tampak tertarik pada dirinya. Di dalam Colt butut yang mereka tumpangi, mereka tak habisnya bercakap-cakap. Jeane kegirangan mendapati teman seperjalanannya dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Waktu itu, Jeane mengutaran betapa inginya dia menyaksikan Ngaben dan mengunjungi Trunyan. Nuarta mennanggapi keinginan Jeane dengan tertawa kecil.

“Itu mudah. Saya bersedia menunjukkan Anda melihat apa yang Anda sebutkan tadi”, kata Nuarta

Dari Denpasar, Nuarta tidak langsung pulang ke Seminyak seperti yang direncanakannya, tetapi terus mendamping Jeane pulang ke hotelnya di Nusa Dua. Di hotel Jeane mengajak Nuarta berenang, makan malam dan berbincang-bincang di pantai. Larut malam Nuata pulang, dengan janji bahwa besok pagi dia akan menjemput Jeane ke Kintamani

Sudah selama dia pekan ini I Made Nuarta selalu berada bersama Jeane. Bersama Nuarta, Jeane tak hanya berhasil mengunjungi Trunyan dan melihat upacara Ngaben, upacara pembakaran mayat gaya Bali, yang kebetulan sedang diselenggarakan di Klungkung, tetapi juga mengunjungi tempat-tempat lain yang sebelumnya tak pernah di bayangkan Jeane. Misalnya, mereka mengunjungi pura-pura suci yang jarang dikunjungi turis. Akhirnya, Nuarta malah berhasil memindahkan Jeane dari hotel kelas mahal di kawasan Nusa Dua ke hotel di Legian

Dalam banyak hal, Nuarta berhasil mengubah gaya wisata Jeane yang tampat elite, kepada gaya wisata umumnya para turis asing. Bergerombol di sekitar pantai Kuta, memenuhi warung-warung dan berpergian dengan kendaraan butut. Bila semula Jeane selalu menolak bila diajak mengunjungi diskotik dan makan di pinggir jalan di sekitar Kuta dan Legian, belakangan Jeane malah mulai mau meneggak bir yang disodorkan Nuarta

Akan tetapi, sebegitu jauh perkembangan terjadi, satu hal masih menjadi teka-teki di benak Nuarta. Sejauh ini Jeane selalu menolak kehadiran Nuarta di tempat tidur

Seringkali Nuarta, oleh satu dan sebab lain, harus menginap di kamar Jeane. Tetapi Jeane tak pernah mengizinkan Nuarta naik ke tempat tidurnya. Dia selalu menyuruh Nuarta tidur di sofa. Atau kalau Nuarta memaksa naik ke ranjang. Jeane-lah yang mengalah, tidur di sofa atau pernah malah di lantai

Sebagai sebuah kesempatan terakhir, tentu sjaa Nuarta tidak akan melewatkan kesempatan kencannya itu berlalu tanggung-tanggung seperti itu. Kesempatannya bisa berkumpul bersama Jeane harus dinikatinya sepuas hati. Dia akan berikan semua yang bisa diberikannya. Namun sebaliknya, dia kan menikmatinya dari cewek Amerika yang bermata biru itu

Setelah Nuarta merasa pasti bahwa Jeane tetap menolaknya, sementara rasa penasarannya sudah lewat di ambang batas, Nuarta datang ke kamar Jeane dengan sebotol obat bius. Ketika buang air kecil, Nuarta menuangkan cairan ether itu pada selembar saputangan.

Jeane yang memang agak mabuk lantaran cukup banyak minum sore tadi, langsung tak sadarkan diri setelah Nuarta menjejalkan saputangan mengandung bius itu di hidunya. Dengan badan bergetar menahan gairah birahi, Nuarta mula melucuti seluruh pakaian Jeane, seluruhnya dan selanjutnya tak banyak yang bisa diceritakan dari apa yang dilakukan Nuarta

Semalaman Nuarta menginap di kamar Jeane. Sambil berbaring ia dtatapi waja Jeane yang cantik. Niatnya sudah bulat, begitu Jeane terbangun, segera dia akan minta maaf. Dia akan katakan bahwa semua dia lakukan semata-mata karena mencintainya. Jeane mungkin akan marah, marah besar, tetapi berdasarkan pengalaman, Nuarta merasa yakin bahwa sebesar-besarnya kobaran api kemarahan seorang wanita akan padam oleh secercah rayuan yang diuatarakan dengan sungguh-sungguh. Seandainya Jeane masih marah dan tak memaafkan pebuatannya, apa boleh buat. Segalanya telah terjadi, dan kencannya yang terakhir itu telah direguknya sepuas hati

Kobaran api kemarahan Jeane yang hampir sepanjang malam dibayangkan Nuarta, ternyata tak terjadi sewaktu Jeane bangun pagi itu. Ketika Jeane membuka matanya dan mendapatkan Nuarta masih berada di sampingnya dia malah tersenyum dengan pandangan sedikit aneh

Sebentar kemudian, Jeanelah yang dengan agresif dan penuh gairah menciumi dan memeluki Nuarta yang masih setengah telanjang. Nuarta pun membalas kemesraan itu.

Keengganan Nuarta maupun Jeane untuk mencemari perkenalan mereka dengan bumbu seks, malah menjadi semacam tumpukan kerinduan yang kian lama dibiarkan makin membumbung. Sekarang tumpukan kerinduan itu pecah sudah. Dan waktu demi waktu yang mereka lalui akhirnya hanya berisi kemesraan dan kemesraan

Hampir sepanjang waktu mereka mengurung diri di kamar dengan aroma cinta bertebaran memenuhi ruangan. Jeane tampak menikmati kemesraan itu

Bila mereka merasa lelah bercinta, mereka berjalan-jalan ke lobi, ke restoran ke kolam renang atau ke diskotik. Tengah malam mereka pulang dan memanasi ranjang mereka dengan cinta dan cinta lagi

Suatu hari Nuarta mendapat telepon dari pamannya agar dia segera ke Ubud untuk membicarakan masalah pekerjaannya. Pagi-pagi sekali Nuarta berangkat, langsung dari hotel. Sebelum berangkat dia cium pipi dan kening Jeane dengan kemesraan yang tidak dibuat-buat. Jeane membalas ciuman itu dengan kering dan sinar mata agak janggal

Sekitar jam sepuluh malam Nuarta kembali ke hotel. Tetapi sebelum Nuarta menuju kamarnya, ada seorang perempuan cantik, mirip Jeane, mengajak Nuarta menuju kolam renang. Sesampainya di sana, perempuan yang sepertinya masih gadis itu menyuruh Nuarta duduk di tepi kolam

Tak lama, gadis yang mengaku bernama Ni luh itu datang kembali membawa nampan berisi minuman dan stoples kue kering. Dia menundukkan tubuhnya yang sintal dalam menghidangkan suguhan. Pada saat menunduk itu mata Nuata tak sengaja tertuju pada sebentuk gunung kembar yang menyembul dari balik blusnya yang berleher rendah. Dua gunung salju itu begitu putih dan menonjol kencang, mendesirkan darah dalam dadanya. Rupanya gadis itu tidak menyadaria adanya pemandangan indah yang terbuka dari tubuhnya

Setelah menghidangakan minuman dan makanan, Ni Luh duduk di samping Nuarta. “Mas sudah punya istri?” Ni Luh memulai pembicaraan

Nuarta tergagap, karena baru saja matanya terpaku pada pemandangan menggiurkan di sampingnya, Nuarta mengangguk

Gadis itu mengurai senyumannya. “Saya jugah suda kepengin punya suami dan punya anak, Mas. Tapi sampai saat ini saya belum menemukan laku-laki yang tepat yang sesuai dengan keinginan saya”, kata Ni Luh lagi

“Ah, masak iya sih gadis secantik Dik Ni Luh belum juga mendapat calon suami. Kalau Dik Ni Luh punya niat, pasti banyak lelaki yang antri ingin menjadi suami,” ujar Nuarta

“Saya ingin punya suami seperti Mas Nuarta. Baik, tampan, dan sepertinya penyabar,” puji Ni Luh dengan nada merajuk

“Ah, Dik Ni Luh bisa saja. Belum tentu saya seperti itu. Dik Ni Luh kan baru saja mengenal saya,” Nuarta merendah

“Bagi saya tidak masalah. Saya pikir Mas orang tepat untuk menjadi suami saya,” omongannya makin mengejutkan Nuarta.

Gadis itu berdiri. Nuarta mulai tidak karuan. Apalagi saat Ni Luh hanya berdiri di hadapannya. Nuarta menatapnya. Dan saat itu dia temukan pemandangan yang membuat jantungnya semakin berdegup keras.

Tiba-tiba tangan gadis itu bergerak, menyibak gaunnya sampai pahanya yang putih mulus itu terbuka dengan jelas sekali. Kain itu teruis dipelorotkannya ke bawah hingga kini terlihat segitiga brwarna putih yang menutupi mahkota miliknya

“Sentulah aku, Mas!” gadis itu mendesah. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya yang montok, sedangkan kepalanya mendongak ke atas. Nuarta tidak tahan dibuatnya

Secara spontan dan alamiah tangannya mulai bergrilya, menjamah paha yang sudah tersingkap sampai ke taas. Perlahan namun pasti Nuarta mulai menbelai-belai paha putih mulus itu. Begitu juga dengan Ni Luh, sepertinya gadis itu pun tak mau kalah. Dengan jemari yang lentik, dia mengusap dada bidang Nuarta dengan rangsangan-rangsangan yang membuat gairah guide itu melesat naik ke ubun-ubun

Kini permainan terlarang itu semakin menggila. Nuarta telah menyentuh segunduk daging di bawah pusar gadis itu. Barang paling sensitive terhadap sentuhan birahi itu dielus dan dibelainya dengan penuh perasaan. Sentuhan maut itu tentu saja membuat Ni Luh menggeliat-geliat. Kepalanya mengdongak ke atas dan matanya terpejam rapat. Gadis itu kemudian duduk di atas pahanya. Pakaian yang tipis secara perlahan di bukanya dan dibiarkan berserakan begitu saja di sekitar kolam

Nuarta tidak membuang kesempatan emas itu, tangan dan bibirnya sudah beraksi memberikan rangsangan-rangsangan yang memabukkan. Gadis itu merintih keras. Rupanya dia sudah tak tahan. Di dorongnya Nuarta ke dalam kolam. Dengan sekali dorong tubuh Nuarta telah terjebur ke dalam kolam. Selanjutnya malam itu Nuarta merasa telah mendaki puncak kenikmatan, dan akhirnya terkapar dengan seribu kenikmatan yang tiada tara.

Tetapi, Nuarta terkejut bukan kepalang ketika dia terbangun pagi harinya. Tak ada wanita cantik disisinya. Bahkan kolam renang itu pun raib entah kemana. Nuarta terperanjat begitu mengetahui keadaan tubuhnya yang telanjang dan tertidur di atas kursi panjang. Saat itu bukan main panik dan takutnya Nuarta. Dengan cepat dia menyambar kaos, handuk kecil, celana dalam dan celana panjang untuk dikenakan kembali

Dengan kesadaran yang belum pulih, Nuarta membawa langkahnya untuk menemui Nyoman Tua

“Made!” teriak Nyoman Tua. “Miss Jeane check out siang kemarin. Ini, Miss Jeane titip surat buat Made,” kata Nyoman tua seraya mengacungkan sepucuk amplop

Made Nuarta mengambil surat yang disodorkan kepadanya. Dengan tergesa dia sobek sampul surat, dan dibacanya di kursi panjang yang terletak di lobi. Inilah isi surat Jeane

“I Made Nuarta tersayang. Saya amat berbahagia bahwa akhirnya saya berkesempatan menyaksikan keajaiban pulau Bali. Tapi kegembiraan itu masih belum apa-apa di banding dengan kebahagian bahwa di pulau yang indah ini saya berjumpa dengan pria yang sangat baik.

Semenjak perjumpaan kita di Ubud, saya tahu bahwa saya akan jatuh cinta kepada Made. Dan itu menjadi kenyataan. Saya bahagia. Kenyataan bahwa semakin lama kita bergaul makin sayang saya kepada Made, telah memaksa saya untuk lebih hati-hati menjaga diri. Kita boleh saling menciantai, tapi kita tak boleh saling bersentuhan, apalagi sampai naik ranjang. Saya tidak ingin Made menanggung sengsara karena itu. Kalau saya harus berterus terang, saya katakan kepada Made di dalam darah saya telah bersarang human unmudodeficiency virus. Ya, saya penderita AIDS!

Sebelumnya saya merasa cukup yakin bahwa saya dapat menjaga hubungan kita untuk tidak berkembang hingga sejauh itu. Tapi tampaknya Hyang Widi Wasa berkehendak lain dari diri Made. Meskipun begitu, saya ingin minta maaf  kepada Made. Kedatangan saya ke Bali pun sebenarnya bukan hanya sekedar untuk berlibur, melainkan untuk menambah pengetahuan saya tentang tata cara kematian manusia. Untuk itulah bila pertama kali kita kenal saya mengajak Made melihat Ngaben dan mengunjungi Trunyan. Untuk kepentingan itu pula, sebelumnya saya sudah ke Toraja, Samarinda, Irian, Tibet dan India.

Ketika Made sedang membaca surat ini, saya sedang mengenangkan Made dalam perjalanan ke Afrika Akhirnya saya harus mengucapkan selama tinggal. Selamat tinggal untuk selama-lamanya….”

I Made Nuarta menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba serasa lunglai. Matanya menyipit menerawang jauh. Jari-jarinya tiba-tiba tidak cukup kuat untuk menahan surat di genggamannya

“Made, kamu bersedih Made?” terika Nyoman Tua dari balik meja resepsionis. “Sudahlah, lupakan Miss Jeane. Esok pagi Nyoman dapat tamu lagi. Sendirian dari Jepang. Nanti Nyoman kenalkan pada Made.”

I Made Nuarta tetap diam. Otaknya dipenuhi bayangan mengeringan tentang AIDS yang akan menggerotogi tubuhnya, untuk kemudian merenggut jiwanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s