Dia Merebut Isteriku Dengan Guna-Guna


Tak ada seorang pun suami yang rela hidup jauh dari anak dan isterinya kecuali karena terpaksa. Ya, karena keterpaksaan itulah aku harus jauh dari isteri dan anak semata wayangku yang masih kecil. Aku terpaksa meninggalkan mereka demi menyambung nafkah keluarga. Karena sulit mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan layak di Tanah Air, aku memilih mengadu nasib ke negeri orang. Negara yang jadi tujuanku adalah Saudi Arabia. Di negeri petro dolar inilah aku mengadu nasib sebagai seorang sopir di sebuah keluarga kaya-raya.

Tiga bulan bekerja di tanah rantau, syukur Alhamdulillah aku sudah bisa mengirimi anak isteriku uang dengan jumlah yang bagiku lumayan besar. Aku memang tidak bisa melihat keceriaan mereka saat menerima uang itu. Namun, bisa kubayangkan bagaimana bangganya isteriku karena ternyata suami yang dicintainya sudah berhasil mendapatkan pekerjaan, setelah menempuh pengorbanan yang relatif berat. Sekarang, isteriku tentu tak perlu merasa malu lagi kepada kedua orang tuanya, sebab ternyata suami pilihannya sudah bisa menunjukkan baktinya kepada keluarga.

Maklum saja, selama ini aku memang kurang begitu harmonis dengan kedua orang tua isteriku, atau ayah dan ibu mertuaku. Semenjak aku pacaran dengan Nuraini, isteriku, kedua orang tuanya memang tidak pernah menyukaiku. Bahkan, mereka juga tidak pernah merestui pernikahan kami kecuali karena terpaksa. Ya, waktu itu Aini sudah berbadan dua akibat perbuatanku. Demi menutupi aib keluarga, ayah dan ibunya terpaksa menikahkan kami.

Setelah menikah, hari-hari yang kujalani memang teramat pahit. Keluarga Aini, khususnya ayah serta ibunya, sama sekali tidak memandangku sebagai bagian dari keluarga mereka. Aku bagaikan orang asing yang ikut menumpang di rumah mereka yang besar dan mewah, sebab ayah Aini memang dikenal sebagai orang paling kaya di lingkungan tempatnya tinggal.

Karena tak tahan diasingkan, memasuki usia dua bulan perkawinan, sengaja kuboyong Aini ke rumah orang tuaku. Walau ayah dan ibunya keberatan, namun tak ada alasan bagi mereka untuk menghalangi keinginanku, apalagi Aini juga tidak merasa keberatan.

Di rumah orang tuaku yang kecil dan sederhana, kami coba merajut kebahagiaan baru. Kehadiran Aini cukup menyemarakkan suasana rumah, sebab dia bisa lekas akrab dengan ibu dan kedua orang adikku yang masih kecil-kecil. Walau harus hidup dalam keprihatinan, namun canda dan tawa selalu menghiasai hari-hari kami.

Tetapi, di tengah keceriaan itu kesedihan sering kali menyelinap dalam lubuk hatiku. Betapa kusadari sepenuhnya bahwa kehadiranku dengan isteri kian menambah beban perekenomian keluarga. Padahal, aku tahu pasti kalau selama ini ibu telah banyak menderita. Sejak kemangkatan ayah dua tahun lalu, ibu harus menanggung beban keluarga seorang diri. Mulai dari kebutuhan dapur, sampai kebutuhan sekolah kedua adikku yang masih duduk di SD dan SLTP itu. Padahal, aku tahu persis berapa besar gaji ibu yang hanya bekerja sebagai buruh di pabrik kasur itu.

Sebagai anak terbesar, terlebih anak lelaki, sepantasnya aku ikut memikul beban yang ditanggung oleh ibu. Tapi apa daya arus kehidupan telah menggelincirkanku. Ayah meninggal dalam usia muda karena kecelakaan. Kepergiannya merubah jalan hidupku. Aku terpaksa berhenti kuliah. Untuk sekedar membantu ibu mengasapi dapur, kujalani pekerjaan sebagai sopir serep mobil angkutan kota. Celakanya, di tengah badai ini aku malah jatuh cinta pada seorang gadis yang berasal dari keluarga kaya.

Hakikat cinta adalah keinginan untuk merenggut. Cinta juga amat dekat dengan kemurkaan. Dan cintaku kepada Ana Nuraini adalah perpaduan dari keduanya. Aku tak hanya mengagumi kecantikan dan mendambakan bisa memiliki cintanya, tapi lebih dari itu aku juga berharap bisa merubah jalan hidupku setelah menyunting gadis dari keluarga kaya ini. Tapi apa daya, mimpi indah tak selamanya bisa menjelma menjadi kenyataan yang sama.

Aku memang bisa memiliki hati Aini, tapi tidak keluarga dan orang tuanya. Mereka justeru amat membenciku, sebab mereka menganggapku memang tak pantas dengan Aini. Lebih dari itu, mereka juga menganggapku sebagai batu sandungan bagi kelangsungan proses perjodohan antara Aini dengan Abdul Majid.

“Berapa pun yang Nak Heri minta, Ibu pasti akan berikan asalkan Nak Heri mau meninggalkan Aini!” Itulah tawaran ibunda Aini setelah dia tahu bahwa hubunganku dengan anak gadisnya sudah sedemikian dekat dan mesra. Siang itu, dia sengaja menemuiku di terminal angkutan kota Tasikmalaya.

Masih kuingat bagaimana ketika itu aku tergugu mendengar tantangan tersebut, sehingga aku tak bisa memberikan jawaban apapun. Apalagi aku menganggap tak ada yang salah dalam hubunganku dengan Aini. Bukankah cinta tak pernah memandang kasta, atau kaya dan miskin? Lantas, bagaimana mungkin ada tawar menawar untuk hal ini? Bukankah aku selalu mencoba tulus mencintai gadis kuning langsat itu?

“Ibu mohon, jauhi Aini, Nak Heri! Jangan merusak masa depannya, sebab dia sudah kami jodohkan dengan lelaki lain yang jauh lebih pantas,” mohon perempuan paruh baya itu dengan suaranya yang lembut. Tetapi sejujurnya, kata-katanya itu amat menyakiti perasaanku. Dari kalimatnya, jelas sekali bahwa dia amat meremehkanku, dan tak memandang sebelah mata pun pada diriku. Hal ini juga yang menimbulkan murka dalam hatiku, yang kemudian membulatkan tekadku untuk memiliki Aini, walau apapun yang terjadi dan harus kuhadapi.

Bak gayung bersambut, Aini pun ternyata amat mencintaiku. “Aku mencintaimu lebih dari segalanya yang ada di dunia ini,” bisik gadis berbibir tipis itu di telingaku, ketika kami berduaan di kamar sebuah hotel melati yang ada di pinggiran kota.

“Tapi, mungkinkah kita bisa menyatu, Aini? Bukankah kedua orang tuamu, juga seluruh keluargamu tidak merestui hubungan kita?” Balasku sambil membelai rambutnya yang hitam.

Aini terisak. “Aku tidak peduli dengan mereka! Bukankah aku yang akan menjalani kehidupanku sendiri. Apa pun yang terjadi, kau akan tetap milikku.” Dia membelai wajahku dengan lembut, seraya merapatkan tubuhnya. Aku mendekapnya dengan mesra. Kami pun sama-sama meresapi kehangatan cinta.

Sensasi di kala senja berbalut gerimis itu pada akhirnya telah membuat kami sepenuhnya tenggelam dalam kebutaan cinta. Ya, kala itu, untuk pertama kalinya kami melakukan hubungan seperti layaknya pasangan suami isteri. Namun, karena cinta kami sama sekali tidak menyesali perbuatan nista ini.

Karena cinta pula Aini tidak menyesali kehamilannya. Dia juga tak pernah menyesal ketika ayahnya murka dan nyaris mengusirnya dari rumah, bahkan mencabut statusnya sebagai anak. Masih untung ada sang ibu yang mendinginkan keadaan. Sebagai seorang perempuan yang telah melahirkan dan merawatnya hingga tumbuh dewasa, sang ibu tentu mempunyai nalar yang lebih jernih. Dia coba memaafkan kesalahan anaknya. Bahkan, dia juga yang kemudian memberi ide agar segera menikahkan Aini dengan diriku….

Begitulah jalan terjal cintaku dengan Aini. Betapa banyak hinaan yang kuhadapi, betapa banyak caci maki yang kuterima, dan entah berapa kali aku harus menangisi keadaan, sampai akhirnya aku bisa memiliki Aini seutuhnya. Bercermin pada kenyataan tersebut, maka aku bersumpuh untuk tidak menyia-nyiakan Aini. Dan Aini pun bersumpah untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan cintaku padanya. Walau bagaimanapun, pengorbanan yang dilakukan oleh Aini juga sama besarnya dengan diriku.

“Her…berat sekali aku melepas kepergianmu. Tapi sejujurnya, aku bangga dengan pilihanmu, sebab walau bagaimana pun kau harus menunjukkan bahwa kau mampu membahagiakanku,” bisik Aini, di malam terakhir sebelum keberangkatanku ke tempat penampungan TKI di Jakarta, sebelum akhirnya aku diberangkatkan ke Saudi Arabia.

“Aku pasti akan merasakan kehilangan yang amat besar, Sayang! Tapi, aku janji akan selalu tabah dan setia padamu,” jawabku sambil membelai wajahnya yang halus.

“Aku berjanji akan merawat cinta kita sebaik-baiknya,” dia memelukku sambil terisak.

Perpisahan selalu saja menyesakkan dada. Tapi, itu memang harus terjadi dan tak bisa dihindari. Setelah berada di penampungan TKI di Jakarta, pada hari yang telah ditentukan, akhirnya aku harus diterbangkan ke negeri tujuan. Sebelum lepas landas di bandara Sukarno-Hatta, aku masih sempat menelepon belahan hati dan jiwaku. Nun jauh di sana, kudengar Aini terisak demi mendengar suaraku.

“Aku tak ingin kau lepas kepergianku dengan tangismu, Sayang! Percayalah, perpisahan ini adalah proses untuk perjalanan cinta kita yang agung dan suci. Tabahlah, Sayang! Pesanku, jaga baik-baik buah hati kita, sebab dia adalah ikatan cinta kita yang sesungguhnya,” kataku sambil mencoba tetap tabah, walau sesungguhnya aku tak kuasa menahan derai air mata.

“Aku berjanji, takkan pernah sedikitpun menodai cinta kita. Pergilah, Sayang! Kudoakan agar kau tabah dan tawakal,” jawab Aini sambil berusaha menahan isak tangisnya.

Pilihan menjadi TKI ke Saudi Arabia memang harus kulakukan demi memperbaiki kondisi perekenomian keluarga. Dan, syukur Alhamdulillah proses ini berjalan hampir tanpa hambatan, kecuali dalam sisi biaya. Untuk biaya, ibu terpaksa menjual 20 gram kalung mas kawin peninggalan almarhum ayah, dan Aini pun harus melepas seluruh perhiasannya.

Semua sepertinya akan berjalan lancar. Sekitar seminggu setelah kukirimkan seluruh gaji pertamaku selepas masa tiga bulan aku bekerja di Arab Saudi, aku kembali menelepon Aini yang masih tinggal bersama ibu dan adik-adikku. Sama seperti ibuku yang begitu senang mendapat kiriman uang dan kabar baik dariku, maka Aini pun berbicara dengan penuh suka cita.

“Aku sudah belikan si kecil cincin dan boneka yang pandai menangis, Sayang! Dia senang sekali. Dia pasti tahu kalau ayahnya sudah berhasil dalam perjuangan. Ah, aku senang sekali mendengar kau baik-baik selalu. Insya Allah, keadaan keluarga di sini juga tidak kekurangan sesuatu apapun.” Begitu tuturnya dengan penuh antusiasme, sehingga aku pun merasakan hal ini sebagai pengobat rindu yang berkarat dalam dadaku.

Sepintas, kebahagiaan sepertinya akan terus menaungi hari-hariku, juga hari-hari isteri, anak, ibu dan semua orang yang aku cintai. Tapi, bayangan ini sepenuhnya musnah, punah bagai debu terbadai oleh sang angin. Ketika masa kerjaku di Saudi Arabia memasuki bulan kesembilan, dan aku telah mengirimkan kembali uang gajiku ke tanah air, tiba-tiba kudenger kabar yang teramat buruk itu. Ya, Nuraini, isteri yang sangat kusayangi, hilang. Dia tak pernah kembali ke rumah setelah mengambil kiriman uangku di sebuah bank pemerintah yang ada di pusat kota Tasikmalaya.

“Ibu harap kamu tabah dengan kenyataan ini, Nak! Semua keluarga, termasuk ayah dan saudara-saudara Aini sudah mencarinya, tapi sejauh ini belum bisa kami temukan,” cerita ibuku di balik corong telepon. Pada saat aku menelepon, Aini sudah seminggu hilang. Memang, sepertinya biasanya, aku pasti akan menelepon setelah seminggu mengirimkan uang yang kutransfer lewat rekening Aini.

“Bagaimana kabar Syifa, Bu? Apa dia baik-baik saja?” Tanyaku kemudian sambil mencoba untuk tetap tabah. Syifa adalah nama anakku yang baru berusia satu tahun lebih.

“Alhamdulillah, dia sehat-sehat saja, Nak!” Jawab ibuku. Sambil menahan tangisnya, dia lalu mengingatkanku, “Ingat, kamu harus tetap tabah, Her! Baik-baik selalu di negeri orang. Doakan saja agar kami yang ada di sini bisa segera menemukan isterimu.”

“Insya Allah, Bu! Saya akan mencobanya sekuat mungkin,” jawabku dengan air mata yang jatuh menitik.

Sulit kubayangkan, bagaimana mungkin Aini bisa hilang. Apakah ada seseorang atau segermbolan orang yang telah merampoknya, sebab waktu itu dia baru saja menarik uang dengan jumlah sekitar 10 juta rupiah? Atau mungkin dia menjadi korban kasus tabrak lari dan mayatnya tersimpan di kamar mayat rumah sakit? Atau mungkin ada hal buruk lainnya yang telah menimpa isteriku?

Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam benakku, yang pada akhirnya membuatku hampir senewen memikirkan apa jawabannya. Aku pun kian nelangsa demi menyadari kalau diriku berada di negeri yang sangat jauh. Andai aku berada di Medan, atau bahkan Papua, tentu saja aku akan segera pulang walau dengan cara apapun, untuk mencari di mana sesungguhnya Aini berada. Lebih sulit lagi, aku telah terikat kontrak kerja selama 2 tahun.

Setelah siangnya mendengar kabar yang membuat batinku hancur lebur ini, malamnya berulang kali kulakukan sholat sunnah Istikhoroh, Tahajjud, dan Hajat. Doa-doa panjang pun kupanjatkan, sampai akhirnya kuperoleh kebulatan tekad bahwa aku harus segera pulang ke Tanah Air. Lalu, bagaimana caranya?

Syukur Alhamdulillah, aku pernah kuliah lima semester di sebuah akadami bahasa asing dengan program studi Bahasa Inggris. Dan aku tahu persis, kedua orang majikanku yang semuanya berprofesi sebagai dokter itu pastilah amat pandai berbahasa Inggris. Kucoba memberanikan diri menggunakan peluang ini.

Selepas sholat Subuh, segera kutemui kedua majikanku yang sedang melakukan olah raga pagi. Mulanya mereka nampak heran mendengar aku yang ternyata pandai berbahasa Inggris. Setelah kukatakan bahwa aku mempunyai persoalan yang amat serius, dengan sungguh-sungguh mereka menyimak apa yang kuutarakan. Sengaja kuceritakan hal yang amat dramatis. Kukatakan bahwa aku baru saja mendengar kabar tentang isteriku yang telah diculik oleh segerombolan pelaku kriminal, dan mereka dengan sadis telah membunuhnya. Karena itulah aku harus segera pulang ke tanah air.

Melihat kesungguhanku yang bercerita dengan bercucuran air mata, hati kedua orang majikanku sepertinya amat tersentuh. Aku juga tahu selama ini mereka amat respek padaku, karena aku memang selalu patuh dan rajin bekerja. Agaknya, karena kedua hal ini mereka akhirnya bersedia memberi cuti sebulan padaku, namun dengan catatan biaya tiket pulang pergi ditanggung separuh-separuh. Aku tentu saja menyambutnya dengan penuh suka cita. Kucium jemari mereka dengan penuh rasa takzim dan syukur tiada terhingga.

Ringkas cerita, aku akhirnya pulang ke Tanah Air. Setibanya di rumah yang disambut dengan rasa heran dan penuh suka cita, barulah aku tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Menurut cerita ibuku, hampir sebulan lamanya sebelum Aini hilang, sang menantu sering kali menunjukkan sikap yang aneh. Misalnya saja, ibu sering kali melihat Aini duduk seorang diri di ruang tengah rumah.

“Saya tidak bisa tidur, Bu! Hati saya gelisah, jantung saya berdebar-debar tak menentu.” Begitu jawaban Aini bila ibu bertanya padanya.

Yang tak kalau aneh, beberapa malam sebelum Aini hilang, ibu sering mendengar Aini menangis seorang diri di tengah malam buta. Herannya, ketika ibu mengintip ke dalam kamarnya, ternyata Aini tampak tertidur pulas. Saat ibu membangunkannya, Aini terjaga dan langsung memeluk ibu sambil menangis.

“Saya takut, Bu! Orang itu ingin mengajak saya pergi. Dia memaksa, dia menyeret saya.” Geragap Aini di antara isak tangisnya, seperti yang diceritakan ibu padaku.

“Kalau Ibu tahu mental Aini sedang labil, kenapa Ibu membiarkan dia pergi ke Bank sendirian untuk mengambil uang?” Sesalku.

Dengan sabar, ibu menjelaskan bahwa yang sebenarnya Aini tidak sendirian pergi ke Bank. Karena ibu harus bekerja, maka dia menyuruh Maya, adikku yang duduk di kelas 3 SMP untuk menemaninya. Kalau begitu, Maya tahu detik-detik terakhir kakaknya hilang?

Ya, benar! Menurut Maya, sepulang dari Bank dia dan kakaknya berdiri di tepi jalan untuk menunggu angkutan kota. Ketika itulah tiba-tiba ada sebuah Toyota Kijang berhenti di depan mereka. Seorang pria berkaca mata hitam lalu turun dan menghampiri mereka.

“Herannya, orang itu sepertinya sudah kenal dekat dengan Teh Aini. Setelah menyapa si Teteh, dia langsung memeluknya, dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Yang membuat saya heran, si Teteh diam saja. Dia seperti terkena hipnotis.” Begitulah cerita Maya.

“Kamu tidak berusaha mencegahnya?” Protesku.

Sambil terisak maya melanjutkan, “Saya sudah berusaha, Kang! Sewaktu orang itu membukakan pintu mobilnya untuk Teh Aini, saya berusaha menarik tangan si Teteh. Orang itu membentak saya. Dia bahkan mendorong tubuh saya sampai saya terjatuh ke aspal. Waktu saya jatuh, Teh Aini bukannya menolong malah dia langsung masuk ke mobil. Setelah itu, mobil itu pergi dengan kecepatan tinggi.”

Kutelan kegetiran dengan satu tanya besar; “Siapa sesungguhnya pria berkaca mata hitam yang telah menjemput Aini itu?”

Setelah mendengar dan menyimak ciri-ciri yang dikemukakan oleh Maya, maka aku amat yakin kalau lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Abdul Majid. Dia adalah pemuda perlente yang telah dijodohkan dengan Aini. Bahkan, jauh sebelum aku mengenal Aini, Abdul Majid telah menjalin hubungan dengannya. Sayangnya, Aini tidak mudah jatuh hati dengan gaya hidup mewah pemuda ini. Bahkan, sejak mengenalku, Aini nyaris tak pernah mau bertemu dengan Abdul Majid.

Apakah Abdul Majid menaruh dendam karena aku telah merebut Aini? Jelas, dia amat sakit hati. Bahkan, hanya selang sebulan sebelum kehamilan Aini terbongkar, kedua orang tua Aini telah resmi menerima pinangan Abdul Majid, meski tanpa sepengetahuan Aini sendiri. Sebulan setelah kehamilannya terbongkar, Aini kemudian resmi menikah denganku. Ini sama artinya dengan dua bulan setelah Abdul Majid resmi melamarnya. Dan ini sama pula artinya dengan mempermalukan Abdul Majid dan keluarganya.

Amat beralasan bila Abdul Majid menaruh dendan dan kebencian dengan apa yang telah terjadi. Dan, amat beralasan pula jika aku mencurigai pria berkaca mata hitam itu sebagai sosoknya. Bukankah menurut cerita Maya lelaki itu sepertinya telah kenal dekat dengan Aini?

Ada satu hal yang kemudian muncul dalam ingatanku, yakni ancaman Abdul Majid di dalam kado “istimewa” yang diberikannya kepada Aini di saat kami menikah dulu. Kukatakan “istiemwa” sebab kado tersebut memang amat jauh dari kelaziman. Bayangkan saja! Abdul Majid memberi kado berupa lembaran kapas yang dibuat dalam bentuk daun waru, yang di atasnya penuh dengan ceceran darah. Entah darah hewan, atau mungkin pula darahnya sendiri. Yang jelas, kadonya itu pasti melambang sebuah pesan tentang betapa hatinya telah terluka sakit. Buktinya, di bawah lembaran kapas berbentuk hati yang penuh dengan ceceran darah itu, Abdul Majid juga menyelipkan secarik kertas berisi: “SELAMAT BERBAHAGIA. JANGAN SALAHKAN AKU BILA SUATU SAAT KAN KURENGGUT KEBAHAGIAANMU (DARI SEORANG YANG TERLUKA).”

Dulu, saat berduaan membuka kado konyol dari Abdul Majid, aku sempat menertawakannya. Tak sedikit pun kuanggap ancamannya itu serius. Waktu itu, aku menganggapnya hanya sebagai ekspresi cengeng dari seorang lelaki yang patah hati. Tak dinyana kalau ternyata Abdul Majid telah serius dengan ancamannya.

Tanpa mengenal belas kasihan, Abdul Majid telah merebut Aini dari sisiku. Betapa menyakitkan kenyataan ini. Yang jauh lebih menyakit, tindakan Abdul Majid itu telah pula memisahkan anakku dari ibunya. Padahal, Syifa yang belum lagi genap dua tahun masih amat membutuhkan kasih sayang dan ASI dari ibunya. Kalau Abdul Majid merebut Aini dari sisiku dengan alasan dendam, tentu saja dia masih punya segudang alasan yang barangkali bisa menolerir tindakannya. Namun dia sama sekali tak punya sepotong alasan untuk memisahkan Aini dengan anaknya. Bukankan si kecil Syifa tak mengerti apa-apa? Dia tak pernah tahu akan dosa-dosa yang telah diperbuat oleh kedua orang tuanya?

Air mataku sering kali jatuh menitik tanpa bisa tertahankan bila kudengar Syifa menangis sambil memanggil-manggil mamanya. Terlebih bila dia bangun di malam hari. Kadang kala, tangisnya itu begitu seru dan perih, hingga aku, ibu dan Maya tak bisa menenangkannya.

Melihat kenyataan ini, aku tak tahan untuk hanya berdiam diri dan berpangku tangan menunggu Aini pulang dengan sendirinya. Karena itulah kemudian kuputuskan untuk melacak jejak Aini. Sesuai dengan naluriku, tempat pertama yang kukunjungi adalah rumah orang tua Abdul Majid yang terletak di pusat kota Bandung. Sialnya, saat menyambangi rumah besar dan mewah itu yang menerima kedatanganku hanyalah seorang pria tua yang rupanya adalah seorang tukang kebun.

“Tuan dan Nyonya sudah lama tinggal di luar negeri, Den!” Kata pria tua itu.

“Anak-anaknya kemana, Pak?” Tanyaku.

“Wah, Tuan dan Nyonya kan cuma punya tiga orang anak. Mereka sudah besar-besar. Yang paling besar tinggal di Yogya bersama suaminya, yang nomor dua juga sudah berumah tangga dan tinggal di Palangkaraya. Yang terakhir jarang pulang….”

“Maksudnya Abdul Majid, Pak?” Potongku.

“Ya, siapa lagi?” Tegas Pak Tua. Melihat kebingunganku, dia melanjutkan, “Katanya, Aden ini temannya, kok malah bingung sih. Sudah hampir tiga bulan Den Majid tidak pulang. Katanya sih di Jakarta!”

Kutelan ludahku yang terasa getir. Jika benar sudah tiga bulan Abdul Majid tidak pulang, berarti dia memang pergi bersama Aini. Bisa di Jakarta, atau mungkin juga di tempat lainnya.

“Kalau di Jakarta, Majid biasa tinggal di mana, Pak?” Tanyaku sambil berusaha menyembunyikan perasaan.

Lelaki tua itu nyengir kuda. Katanya, “Wah, mana saya tahu. Dia itu kan orang banyak duit. Jadi, bisa tinggal di mana saja, Den. Ngomong-ngomong, apa Aden tidak pernah coba menghubungi HP-nya?”

“Memangnya Bapak tahu nomornya?” Kejarku, merasa mendapat secercah titik terang.

Lelaki itu mengeluarkan dompet usangnya. Dia membuka secarik kertas yang sudah lecek, lalu memberikannya padaku. Di sana tertulis sederet angka yang sudah tentu adalah nomor HP Abdul Majid.

Pak tua tukang kebun yang tidak mengerti persoalan antara aku dan Abdul Majid itu memang telah memberikan secercah harapan bagiku. Deretan nomor yang diberikannya sungguh-sungguh merupakan nomor HP milik Abdul Majid. Saat kucoba menghungi nomor itu, di sebarang sana, memang kudengar suara seorang lelaki yang berat berwibawa. Sungguh, dia adalah Abdul Majid sendiri!

“Kumohon, kembalikanlah Aini. Bukan untukku, tapi untuk seorang bayi yang amat membutuhkan kasih sayangnya,” mohonku lewat sambungan ponsel.

Mendengar permohonanku, bagai orang kesetanan Abdul Majid malah menertawakannya. Lalu, dia berkata dengan nada sinis, “Hai kawan, dengar ya! Aku pasti akan mengembalikan isterimu. Tapi, tunggulah sampai aku puas membalaskan dendamku.”

“Bunuh saja aku, Majid!” Sambarku dengan tangan mengepal.

Tetapi, tak ada jawaban dari seberang sana. Abdul Majid memutuskan sambungan. Bahkan, sejak hari itu nomor HP-nya tak pernah bisa dihubungi lagi. Tiap kali dihubungi yang menjawab selalu saja mesin operator dengan sebaris kalimat yang amat menjemukkan: “ANDA TERHUBUNGAN DENGAN PELANGGAN NOMOR VOICE MAIL 08118998XXX.”

Walau hanya sempat sekali berbicara dengan Abdul Majid lewat hubungan telepon, namun dari kata-katanya amat jelas menyiratkan bahwa Aini sungguh-sungguh berada dalam genggaman tangannya. Ah, betapa menyakitkan membayangkan hal ini. Isteriku yang cantik dan lembut itu tentu saja bisa diperlakukan oleh Abdul Majid dengan sesuka hatinya. Dadaku serasa meledak saat di dalam pelupuk mataku muncul bayangan bagaimana Abdul Majid mengoyak-ngoyak kehormatan isteriku. Sungguh, betapa menyakitkan batinku. Hanya suami kurang waras saja yang rela tubuh isterinya dijamah oleh pria lain.

Aku amat yakin bahwa Abdul Majid telah melancarkan ilmu guna-guna untuk mempermainkan kesadaran isteriku, sehingga Aini mau saja mengikuti segala kemauannya. Aku ingat bagaimana cerita ibu tentang keanehan sikap Nuraini beberapa waktu sebelum dia hilang. Bukankah dia sering duduk sendirian di tengah malam? Bukankah dia juga sering menangis dalam tidurnya, lalu saat terjaga dia bercerita bahwa ada seseorang yang memaksa ingin mengajaknya pergi?

Tak hanya itu, berdasarkan keterangan beberapa orang pandai yang sempat kuhubungi dalam usaha melacak jejak Nuraini, kuperoleh informasi bahwa wanita yang sangat kucintai itu memang berada dalam pengaruh ilmu gaib berupa guna-guna yang sangat kuat. Bahkan, kata seorang di antara mereka, Nuraini kini benar-benar telah lupa pada anak dan keluarga, apalagi terhadap aku, suaminya.

Saat kutulis “catatan hitam” hidupku ini, sudah hampir 4 bulan lamanya Nuraini pergi. Kecuali pembicaraanku dengan Abdul Majid lewat sambungan telepon tempo hari, maka tak ada kabar apa pun yang bisa kuketahui tentang diri ibu dari anakku itu. Entah di mana dia berada, aku tak tahu. Menurut beberapa orang pintar yang kuhubungi, Nuraini masih ada di sekitar Jawa Barat dan Jakarta. Benarkah demikian? Tak seorang pun yang bisa memastikannya.

Aku juga telah melaporkan kasus hilangnya Aini kepada pihak berwajib. Namun sejauh ini tak ada kabar menggembirakan yang pernah kudengar.

Di tengah keeping-keping harapan, kuputuskan untuk menuliskan kisah hidupku ini kepada majalah kesayangan ini. Harapanku, semoga saja pengasuh rubrik Catatan Hitam ini bisa memberikan suatu obat penawar untuk mengobati kerinduanku pada Aini. Kalau pun aku tak bisa merebutnya kembali dari tangan Abdul Majid, setidaknya aku bisa tahu bagaimana keadaan Aini saat ini. Ya, semoga saja Tuhan mengabulkan pengharapanku…!

Heri – Tasikmalaya

Tanggapan:

SAIPUDIN (AHLI ILMU HIKMAH)

Kehilangan seorang yang amat dicintai memang sungguh menyakitkan perasaan. Apalagi kehilangan tersebut disertai dengan hal yang berbau mistis dan misterius. Tapi, percayalah! Semua ini tentu ada hikmahnya, sebab seburuk apapun suatu peristiwa, selalu ada cermin kebaikan di dalamnya. Karena itu, janganlah berputus asa, sebab keputusasaan hanyalah milik orang-orang yang tidak memiliki iman dalam dadanya.

Menyimak kesaksian yang Anda tuturkan, memang amat mungkin isteri Anda saat ini berada di bawah pengaruh kekuatan ilmu hitam yang mempermainkan kesadaran normalnya. Untuk mengetahuinya lebih jelas lagi, saya membutuhkan foto diri isteri Anda. Mudah-mudahan, Allah memberikan jalan keluar agar kiranya saya bisa membantu menyadarkannya.

Yang terpenting, ada harus yakin sepenuhnya bahwa perbuatan sosok pria yang Anda sebut sebagai Abdul Majid itu pasti akan mendapat balasan setimpal di kelak kemudian hari.

Sesuai dengan keinginan yang Anda tulis di again akhir kesaksian, berikut ini saya berikan sebuah amalan penerawangan, yang bila anda amalkan dengan benar Insya Allah Anda akan mendapatkan gambaran atau penglihatan gaib tentu keadaan isteri Anda saat ini. Berikut amalan dimaksud:

“ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM QODIA HAAJATIL GOIBU, WA ALIMUL GOIBU WAS SYAHADATIL KHOBIIRUL MUTA’AL. ALLAAHUMMA MAN KHOLAQ. WA HUAL LATIIFUL KHOBIIR.

Syarat dan lakunya:

1. Puasa 3 hari dimulai pas hari Selasa Kliwon.

2. Selama puasa amalan di atas dibaca sebanyak 13 kali, kemudian diteruskan dengan mewiridkan YA KHOBIIR sebanyak 812 kali.

3. Selama berpuasa harus mendirikan sholat hajat di tengah malam. Selesai sholat dua rakaat mewiridkan Istigfar sebanyak 1000 kali, dilanjutkan dengan membaca Sholawat sebanyak 100 kali, serta membaca amalan di atas sebanyak 13 kali, lalu ditutup dengan wirid YA KHOBIIR sebanyak 812 kali.

Demikianlah sekedar solusi yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan Anda bisa menyisihkan waktu untuk menjalankan amalan ini. Semoga Allah SWT merdhoinya. Insya Allah saya akan membantu dengan doa yang tulus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s