BUASNYA NAFSU TEMAN LAMA


Suasana department store yang demikian ramai, dipenuhi orang sedang berbelanja, tiba-tiba seorang wanita menyapa dari belakang. Ternyata temanku saat masih SMP bernama Gemini yang biasa dipanggil Gemi. Tapi sekarang penampilannya sangat aduhai, ia mempunyai tubuh yang indah meski umurnya sama denganku 35 tahun. Lain sekali dengan dulu, kurus, rambutnya pecah2 agak kemerah merahan, mungkin tidak pernah kena shampoo karena faktor keuangan yang minim. Payudaranya juga sangat ranum dan besar membusung, mungkin ukurannya 38DD, sehingga terlihat sangat menonjol karena ia menggunakan kaos ketat terusan sampai dengkul.

Kami minum di kafe sambil berbicara dari barat ke timur sehingga aku mengetahui bahwa ia sekarang menjadi wanita panggilan tingkat atas dengan tarif 2 juta/malam. Wow.. mahal juga.

Ia bercerita tentang masa lalu bahwa ia sebenarnya telah menaruh hati padaku saat SMP. Karena SMA-nya terpisah maka ia sulit untuk bertemu aku lagi. Tapi ia selalu mencariku sekedar untuk melihat dan sepulangnya ia selalu membayangkan diriku dalam khayalannya mencumbu diriku. Ia menceritakan ini tanpa terlihat canggung, mungkin karena kita sudah sama2 dewasa. Ia bilang bahwa aku pernah menolak cintanya ketika ia mengatakan terus terang bahwa ia suka padaku tapi katanya aku tidak suka cewe yang BD (buah dada) nya kecil kaya dia. Eh setelah 10 tahun lebih tidak bertemu, sekali bertemu ia sudah berubah total menjadi wanita idamanku.

Ia ingin mewujudkan impiannya bersamaku meski sebentar, maka ia menawarkan diri padaku untuk malam ini, karena ia tidak ada janji dengan orang karena sudah sebulan ini ia istirahat dan kebetulan aku baru mencairkan uang dalam jumlah besar atas project besar yang kupegang dan sudah selesai sehingga harga tersebut tidak membuatku terkejut, hanya sepermil dari pendapatan yang ku terima. Langsung aku menyetujui.

Ternyata ia bawa mobil sendiri dan kebetulan aku tidak bawa mobil saat ini, jadi bisa ikut mobilnya menuju suatu tempat yang ternyata rumah tersebut adalah miliknya sendiri di luar kota, di gunung.

Kami memasuki rumah yang berhalaman cukup luas, dengan gerbang yang dilengkapi dengan remote control sehingga tanpa disentuh dapat terbuka sendiri. Untuk menuju rumah tersebut harus melalui jalan setapak dari batu kira-kira 500 m dari jalan. Kalau orang yang baru datang tentu tidak mengira bahwa jalan tersebut menuju suatu villa cukup besar dan indah.

Kami duduk di ruang tamu, disuguhi minuman “black label”. Sebenarnya minuman tsb cukup keras bagiku, tapi karena hawa dingin dan suasananya cukup romantis, sedikit demi sedikit aku minum juga. Dan ternyata enak juga.

“Dod, kamu mau cara seperti apa agar kita sama2 puas untuk pertemuan kita malam ini?”

“Wah saya tidak tahu, tapi sering membuka internet, disitu ada sesuatu yang agak aneh kalau kamu tidak keberatan. Saya mau mencoba secara real sesuatu yang aneh2 tersebut, yang tidak umum dilakukan orang”

“Maksud kamu?”

“Maksudnya.. tidak seperti biasanya”

Entah kenapa, ketika sampai di sini saya agak gugup menjawab semua pertanyaannya, dan otak tidak bisa berpikir dengan cepat untuk menjawab.

“Ok saya ngerti kok.. maksud kamu lain dari yang umum dilakukan orang.. gitu kan?”

“Kurang lebih begitulah” Jawabku dengan agak gugup, tapi mataku selalu memandangi tubuhnya yang aduhai dengan busana sexy yang ia kenakan.

“Dod, itu namanya fetish. Ternyata kamu suka dengan cara itu.. dan kamu tahu.. cara tersebut memang kesukaan saya”, jawabnya dengan senyum yang mengundang dengan gerakan bahu yang sempat membuat goyang buah dadanya yang besar. Hal ini membuatku semakin gugup dan cukup menimbulkan berahi.

Ia sebuah buku tipis dan aku disuruh membacanya, setelah selesai buku tersebut diambil kembali dan ia membaca dengan suara yang merupakan suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh ku dengan Ya atau Tidak, selanjutnya ia akan mencontreng sebagai tanda saya menyatakan Ya dalam arti saya sudah setuju dengan apa yang akan dilakukan nanti. Ternyata dia memang sudah biasa dengan cara ini, makanya dia punya buku panduan.

“Nah Dod, sekarang saya bacakan yang harus kamu jawab Ya atau tidak atau punya pilihan dengan keterangan lebih detil, jadi akan lebih jelas apa yang menjadi fantasi kamu dan saya akan tawarkan yang paling berat dulu, ok?

* “Mau di dominasi dan menjadi sex slave selamanya? – Ya

* “Bersedia bila saya menjadi seorang wanita yang sadist? – Ya

* “Bersedia bila diikat sampai kamu benar2 tak bergerak? – Ya

* “Bersedia bila disumbat mulutnya sampai benar2 tidak ada suara – Ya

* ” pilih, 1.pump gag, 2.ball gag, 3.big penis gag, 4.cloth gag. 5.ring gag, 6.dentist gag, 7, tape gag, 8.my underpanties gag”, semua dengan head harnes atau ada pilihan?

* “Dod, boleh lebih dari 1” – Ya, hanya 1, 3,8, sebaiknya semua dengan head harnes.

* “Wow, jadi kamu benar2 ingin tidak bisa bersuara sama sekali? .. Wah, kamu akan menjadi slave idola saya. Tentunya saya tidak perlu kuatir kamu akan teriak, dan saya bebas menghukum kamu, NICE..!

* “Blind fold? – Tidak

* “Nose gag? – Wah, ini berat juga, tapi kalau sampai batas2 tertentu sih tidak apa.

* “Iya donk, saya kan tidak akan membuat kamu mati.

* “Leather collar? – Ya.

* “Wide atau?” – Wide juga boleh

* “Body harnes? – Ya

* “Hood? – Ya, tapi tidak dengan blindfold biar saya dapat melihat dan menikmati apa yang kamu kerjakan terhadap diri saya.

* “Transgender? – Tidak

* “Maid? – Tidak

* “Golden shower or Urination? – Ya, pasti kamu akan memaksa saya untuk swallow.

* “Tentu donk, memang itulah tujuannya agar kamu bisa merasakan bagaimana menjadi seorang cowo yang dihina wanita dan kamu harus merasakan taste dari kencing saya. Dan pasti minta lagi kalau haus dan harus menurut, tidak boleh menolak meski terpaksa melakukannya, kalau melawan tentu hukuman menunggu berupa siksaan yang berat, ok? – Ok deh.

* “Cambuk? – Ya

* “Berat? – Ya.

* “Tampar? – Ya, tapi kalau di muka jangan terlalu keras

* “Gantung dengan Suspension, spreadeagle? – Ya

* “Terbalik? – Ya, tapi lebih suka biasa saja.

* “Hard stock? – Ya, tapi bagaimana sih bentuknya kalau hard? – Tunggu saja nanti, kamu akan terkejut deh, ok? – OK.

* “Hard Xrack? – Ya, nah ini apalagi? – Pokoknya kamu rasakan nanti deh, sekarang jangan banyak tanya tau..! – Ya, ya..

* “Stretching body table? – Ya

* “Electric shock? – Ya

* “CBT – Ya, tapi tidak press ball, ok? – Ok.

* “But plug? – Ya

* “enema? – Ya

* “Full nude body? -Ya, kalau itu yang kamu mau – Tentu donk, kan tidak ada penghalang untuk saya saat mengerjai kamu.

* “Lick, suck pussy, asshole? – Ya, tapi bersih kan? – Tentu donk, jangan kuatir, tapi kalau sudah bilang ya, tidak ada lagi kata tidak mau, atau hukuman akan datang, ok?

* “Face sitting? – Ya

* “Trampling? – Tidak, badan kamu kayanya berat, nanti ada tulang yang patah.

* “Hard Tickle? – Ya, tapi ringan2 saja

* “Clam? – Ya.

* “Straitjacket? – Tidak

* “Very wide bar? – Ya

* “Tied with other slavegirl? – Ya, Wah ini yang saya tunggu, tentunya saya bisa merasakan himpitan dan gelutan seorang wanita yang sedang disiksa? – Tentu, kamu akan merasakan itu, karena saya juga akan menyiksa slavegirl dan ia senang kalau merasakan sakit dan teriak2. Suasana tersebut dapat membuatnya puas, ia bisex umurnya lumayanlah tapi lebih muda dari saya, namanya Tiara. Saya baik kan menawari kamu terikat bersama slavegirl?” katanya sambil senyum.

* “Strap on dildo? – Ya, tapi jangan yang terlalu besar, nanti berdarah – Ok, jangan kuatir, saya pasti akan menyesuaikan kemampuan kamu.

* “Diperkosa untuk melayani nafsu sex saya dalam keadaan terikat? – Ya, tapi kok harus masih terikat? – Tentu donk karena kamu telah menjadi slave saya selamanya, dan seorang slave harus selalu terikat agar tidak dapat melawan tapi harus bisa memuaskan saya. Kamu tahu, suasana seperti ini tentu akan membuat saya sangat terangsang dan harus kamu penuhi hasrat saya, atau tidak jadi sama sekali. – Ok, saya mau melayani kamu, melakukan semua perintah kamu demi kepuasan kamu. – Nah gitu dong.

* “Semua humiliation yang sifatnya private? – Ya.

* “Mau engga bila saya panggil seorang cewe lagi untuk membantu mendominasi kamu?” – “Ya, tapi bagaimana penampilannya?” – “Dijamin deh cantik, tinggi, bdnya cukup besar, pantat ok, putih, rambutnya coklat sepundak suaranya merangsang, umurnya baru 19 tahun dan dia juga senang mendominasi cowo dengan sadis, ia haus kepuasan dan kamu harus melayaninya untuk membuatnya puas dengan cara apapun. Tapi dia juga suka menjadi submissive saya dan dia bisex namanya Valerie”- “Ok, saya mau tapi bagaimana dengan bayarannya? – Ya, tentu menjadi tanggung jawab saya.

“Dod, karena tempat ini tidak memadai maka kita akan pergi ke suatu tempat yang lengkap dengan peralatan tersebut, tapi kita harus sewa dan agak mahal, dan saya untuk teman lama tidak usah bayar hanya bayar tempat dan teman saya saja”. Dia mengatakan ini di iringi dengan senyuman dan sepasang matanya tidak pernah luput memandangi saya.

Dalam hati, “Wah, pasti mahal.. aku harus ke ATM dulu untuk ambil uang”.

“Gimana Dod?”, tanyanya.

“Ya, ya..tapi berapa?”, kataku.

“Hanya satu juta kok”, sahutnya.

“Ok deh, ayo kita berangkat”, kataku

“Ayo, come on slave” katanya

Aku berangkat dengan mobilnya menuju suatu tempat, tapi sebelum aku mampir sebentar untuk mengambil uang. Setelah itu kami meneruskan perjalanan. Namun sebelum mobil jalan dia menutup mata saya dengan plester dan dipakaikan kacamata hitam agar tidak terlihat orang. Sedangkan tangan saya di borgol kebelakang agar tidak bisa membuka tutup mataku. Dia melakukan ini untuk safety karena tempat tersebut tidak boleh diketahui orang lain kecuali orang yang telah mendapat izin. Dia menerangkan bahwa yang punya tempat tersebut adalah seorang gangster, kalau orang yang telah mendapat izin sampai memberitahu orang lain yang belum mendapat izin, maka mereka akan mencari orang yang memberi tahu dan yang diberitahu tersebut, kemungkinan akan dibunuhnya.

Setelah sampai ditempat tujuan, dia membukakan semuanya dan kami masuk ke suatu rumah dimana semuanya di cat hitam, kesannya seram dan sepertinya semua tembok ada peredam suaranya sehingga bila orang teriak tidak terdengar dari luar. Kami masuk lift, tapi anehnya bukan naik keatas tapi turun satu tingkat ke bawah tanah.

Pintu lift terbuka, seorang wanita cukup cantik hanya memakai bikini kulit hitam menyambut kami.

“Hai, Gemini.. kok tumben membawa seorang cowo, biasanya cewe?”

“Hallo Sally, pa kabar? Wah.. body makin oke saja nih, dan BD kamu semakin besar saja, ukurannya berapa?”

“Ah biasa aja kok, cuma 39DD banyak susunya karena saya keguguran tapi produksi susu masih terus dan harus dibuang. Trus, itu siapa lagi?”

Ini lho, teman lama saya udah lama engga ketemu, eh.. ketika ketemu dia juga suka fantasi BDSM, jadi saya bawa ke sini. Biasa.. siksaan, tapi yang ini lain.. dia akan melayani saya dan memenuhi hasrat sex saya yang selama ini selalu dengan wanita. Entah kenapa, dengan yang ini baru ketemu saja nafsu saya sudah naik”.

“Wah asik juga nich, boleh nimbrung? Kalau boleh saya mau membuang susu di mulut dia agar diminum, sayang kan kalau dibuang percuma”.

“Jangan sekarang, saya udah janji dengan dia akan seorang cewe yang cirinya2 seperti yang saya bilang tadi sama dia. Oh ya, tolong call Velerie donk, suruh datang ke sini, ada cowo yang dapat memuaskan dia dan Tiara. Bilang sama dia semua bulu harus dicukur dan mandi yang bersih, ada teman lama saya sebagai slave yang membutuhkan slave girl seperti dia, karena saya tahu, teman lama saya ini suka dengan cewe yang bdnya besar dan tinggi. Dan jangan lupa memakai parfum yang merangsang, ok?”

“Ok, tapi tipnya mana?”

“Beres, nih 50 ribu, cukup?

“Wow, thank Liz, banyak amat?”

“Engga mau dibagi rejeki?”

“Ya mau donk,.. kamu mulai saja dulu, paling lama 1 jam mereka sudah ada di sini.

“Ok, dan saya minta ruang yang lengkap peralatannya karena saya akan gunakan sampai pagi bersama dia”

“Wow, asik juga.. aku boleh nimbrung deh?

“Lihat saja nanti, kalau dibutuhkan, ok?

“Ok Liz, sekali lagi thanks ya, tapi jangan lupa ya.. IKUTAN”.

Aku cukup terpana ketika dia bilang sampai pagi, jadi saya harus bergadang dan sekarang baru jam 10 malam. Ternyata dia seorang wanita bisex juga, mungkin karena itu ia belum kawin sampai sekarang.
Gemi menarik tangan saya, mengajak kesuatu ruang yang telah dia booking. Saya masuk bersamanya, setelah pintu dikonci kembali dia langsung duduk di sofa dan langsung memerintah saya:

“Sini Dod, jongkok di depan saya..?

Saya langsung jongkok dengan muka menghadap dengkulnya dekat sekali. Sambil senyum dia angkat kaki kanannya lalu dia taruh dimuka saya sambil menyuruh:

“Dod, buktikan bahwa kamu benar2 bersedia menyerahkan diri di bawah kekuasaan saya, coba jilatin telapak kaki saya, buatlah saya senang ok?”

Saya tanpa ragu2 menciumi telapak kakinya dan menjilat jilat seperti anjing diiringi senyum dari Gemi. Kaki yang satu lagi diletakan di atas kepala saya dan ditekan hingga kepala saya menuju keubin, tapi saya terus menciumi kakinya. Dia mainkan kakinya di atas kepala, sebenarnya saya merasa terhina diperlakukan demikian tapi saya sudah setuju menerima semua perlakuan yang hina darinya.

Sambil mengangkat muka saya dengan kakinya seraya berkata:

“Gimana Dod, senang kamu diperlakukan seperti ini?”

Saya hanya mengangguk.

“Sekarang lepas baju kamu semua, saya mau mulai mengikat kamu dalam keadaan telanjang bulat. Saya mau ganti baju dulu yang tentunya akan membuat kamu berdebar donk, mau kan? Tapi setelah baju kamu lepas semua, kamu tunggu saya kembali dengan kneel down”

Dia langsung meninggalkan saya sendiri sementara saya melepas baju semua dan kneel down menunggu dia kembali.

Ketika pintu terbuka kembali muncul Liza dengan busana yang sangat sexi, ia mengenakan bahan cotton tipis warna hitam yang melingkar di dadanya sekedar menutupi dan menahan bdnya yang mencuat besar dan rok ketat dari cottot hitam pula panjang sampai kekaki mulai pinggulnya. Terlihat seperti mudah merosot karena hampir kebawah melewati pinggul. Sedangkan bahan cotton tersebut mempunyai belahan samping sampai ke pinggul pula, sehingga kalau dia melangkah tercuatlah belahan pangkal paha yang putih itu. Kedua lenganya memakai sarung tangan kulit mengkilap sampai siku dan memegang long single whip kira-kira 2 meter panjangnya serta membawa sesuatu di tangan sebelahnya. Ia sambil tersenyum manis menghampiri saya dengan detak sepatu hak tingginya. Terlihat cantik, cruel dan harumnya semerbak, entah parfum apa yang digunakan sehingga tercium agak merangsang.

Ia duduk kembali sambil bertopang kaki di hadapan saya yang sedang kneel down dan berkata:

“Dod, sekarang sebelum terlambat saya mau tanya lagi sama kamu bahwa kamu benar2 akan menyerahkan diri sebagai slave saya malam ini?” Karena kalau hati kamu sudah bulat dan mengatakan “Ya”, maka selanjutnya kamu tidak bisa mundur lagi, tidak bisa kabur dan selalu harus mengerjakan perintah saya, gimana.. ini pertanyaan terakhir kali sebelum saya memakaikan collar ini di leher kamu sebagai simbol bahwa kamu adalah slave saya sepanjang malam ini? Jawab yang jujur dari hati kamu, jangan menyesal nantinya..?

“Ya..saya bersedia menjadi slave kamu malam ini, dan selalu akan menerjakan apa yang diperintahkan. Apabila ada kesalahan saya yang membuat kamu tidak suka maka saya bersedia menerima hukuman yang apapun tapi safe dari kamu”

“Good boy”.. “Nah, sini mendekat.. letakkan muka kamu dipangkuan saya saya akan memakaikan collar ini dan kamu boleh mengendus harumnya tubuh saya, ok?”

Sementara muka saya menempel pada gaun hitam yang ia gunakan dan berkhayal atas apa yang berada dibalik gaun tersebut menempel di muka saya, Liza memakaikan collar di leher saya dan ternyata collar tsb cukup lebar (4″) dari bahan kulit keras warna hitam sehingga saya tidak bisa lagi menekuk kepala untuk melihat kebawah. Liza memakaikan collar ini cukup ketat, serasa agak sulit menggerakkan kepala saya. Setelah selesai dia menguncinya dengan gembok kecil dan seutas rantai disangkutkan yang berguna untuk mengendalikan dan menarik bila saya melawan arah yang ditentukan Liza.

Saya disuruh berdiri dan dia mengambil tangan kiriku, kemudian dia melekat restraint kulit hitam kepergelangan tangan dan di konci dengan kuat oleh gesper besi, begitu pula yang sebelah kanan. Kemudian dia bergerak ke belakangku, setelah menyangkutkan dua utas tali di kedua pergelangan yang telah di restraint, di tarik kebelakang dan ditekuk silang ke arah leher dan ujung2 talinya di masukkan kegelang kecil yang ada di collar kemudian ditarik sampai tanganku bertekuk kearah leher silang. Setelah itu itu ujungnya diikatkan ke tangan2ku kembali, sangat ketat sekali sehingga benar2 saya tidak dapat menggerakkan tangan lagi

Saya hanya melihat saja tanpa bicara di ikuti senyum manisnya Liza, tapi entah apa dibalik senyumnya yang manis itu, mungkin sudah terlintas di benaknya siksaan apa yang akan dilakukan setelah saya benar2 tidak berdaya di bawah kekuasaannya.

Setelah dia merasa yakin bahwa ikatannya tidak bisa terlepas lagi, kemudian dia melanjutkan ke pergelangan kaki saya dengan memasangkan belengu kulit hitam dan diantaranya ada rantai menghubungkan kedua restraint tersebut kira-kira 10″ panjangnya. Saya tahu, dia menggunakan belengu kaki seperti itu agar saya tidak dapat lari menghindar darinya ketika dia berbuat sesuatu.

“Nah, Dod, sekarang kamu benar2 tidak berdaya kan? Kamu tidak akan bisa melawan dan menolak lagi atas apa yang akan saya perbuat terhadap kamu”. Katanya sambil menghimpit saya dengan pelukannya yang sangat erat yang cukup menaikkan nafsu berahi saya dan membuat si dul berdiri tegang karena parfumnya yang merangsang, sentuhan buah dadanya yang menghimpit dan terutama kata2nya seolah dia benar2 wanita yang telah menguasai hidup saya malam ini tanpa ada peluang untuk melawan, karena itu saya diam saja tidak bicara, hanya memandangi wajahnya dan tubuhnya yang aduhai.

Macam2 peralatan penyiksaan lagi yang aku tidak tahu penggunaannya, pasti untuk menyakiti orang. Wah, Liza benar2 menyewa ruang yang lengkap sekali, kalau harus mencoba semua mungkin memang sampai pagi dengan penuh rasa sakit.

“Nah Dod, kita sudah sampai, saya akan membuka sumbatan mulut kamu karena sebelum mulai, kamu harus membuat saya klimax dulu karena sudah dari tadi berahi saya tinggi melihat kamu bugil dan terikat seperti itu”. Dia membukakan sumbatan mulut saya dan menariknya ketempat tidur. Dia menyuruh saya jongkok sementara dia duduk di atas tempat tidur dan mulai membuka kakinya hingga lebar dan pahanya mulai mengangkang yang diiringi senyumnya. Dia mulai menyibakkan gaunnya yang cukup menutupi pussynya. Terlihat pussynya sudah dicukur dan masih bewarna merah muda tapi sudah agak lebar lobangnya. Mungkin Liza tidak di sunat karena terlihat jengernya cukup panjang tergantung.

“Dod, kamu harus menjilat pussy saya, dan menghisap kelentitnya, buat saya klimax, dan segala cairan yang keluar tidak boleh jatuh, kamu harus menelannya, mengerti?!!”.. “Ya, saya akan mengerjakan semua perintah dan patuh”

Saya mulai menjilat jilat seperti anjing dan menghisap hisap kelentitnya dengan keras yang membuat Liza berdesah keras serta menggoyang goyangkan pantatnya. Saya terus menjilat dan menghisap sampai terasa ada cairan mengalir dari lobangnya terasa sedikit asin dan bau kencing. Saya terus menghisap dan menelan apa yang keluar dari lobang tersebut diiringi desahan dan goyangan keras dari Liza.

“Terus Dod, jangan berhenti.. jangan coba2 berhenti atau saya akan mencambuk dengan keras..!!” Saya terus melakukan perintahnya tanpa suara dan gerak badan karena tangan saya masih terikat kebelakang tanpa daya. Tiba2 dia mencambak rambut ku dan berkata:

“Dod, sekarang saya mau kamu menjilat lobang pantat saya, tusuk2 dengan lidah kamu sementara saya mau hidung kamu juga menusuk lobang pussy saya.. hayo kerjakan..!

Dia mulai mengangkat kedua kaki keatas, memberikan peluang kepada saya agar mudah menjilat lobang pantatnya. Dia menarik rantai leher saya dan menunjuk kearah pantatnya agar dijilat dengan mata melotot tapi penampilannya tetap cantik.

Saya melakukan semua perintahnya meskipun sedikit ada bau tai dan semerbak pussy tercium jelas membuat si dul benar2 tegang tapi tanpa ada yang memanfaatkan. Dia terus menggelinjang dan saya tidak boleh berhenti sampai ada perintah darinya. Terus.. dan terus.. menjilat lobang tsb..

Terlihat pula Rack yang berbentuk tempat duduk dimana orang akan duduk dengan kaki terbuka dan ditempat pahanya terdapat belengu2 serta di bawahnya terdapat pula belengu untuk pergelangan kaki. Diatasnya ada belengu untuk leher, kepala, badan dan tempat merentang tangan lengkap dengan belengunya. Terlihat ada putaran pula yang berbentuk henjotan sepeda. Mungkin kalau di putar akan merentang kaki hingga melebar, pasti akan sakit rasanya.. ngeri..!

Sampai suatu saat, dia menjambak rambut saya lagi dan berkata:

“Sekarang saya mau kamu memfuck saya dengan mulut, ok?”

Di memakaikan sumbat lagi yang berbentuk penis cukup panjang dan besar, yang membuat mulut saya kembung. Tapi di depannya tersambung sebuah penis karet yang cukup panjang kira-kira 7 Cm dan bagian bawah agak kecil tapi sama panjang. Ternyata alat ini akan dimasukkan kedalam vaginanya dan duburnya kemudian saya harus melakukan blowjob mulut.

Alhasil suasanya ini membuat Liza berteriak teriak kenikmatan dan mencambak rambuta saya dengan keras cukup membuat rasa sakit di kepala saya.

“Terus Dod, jangan berhenti sampai ada perintah, buat saya menjadi puas.. terus Dod.. aahh.. ahh.. aahh. Ternyata dia sampai klimax dan dia buru2 melepaskan sumbat tersebut dan saya diperintahkan membersihkan vaginanya dengan mulut, karena dia bilang bahwa mulut saya saat ini adalah tissunya.

Setelah bersih, semua lendir yang keluar sudah saya telan, tiba-tiba dia berkata lagi:

“Dod, saya mau kencing dulu, tapi karena kamu malam ini adalah toilet saya maka kamu harus ikut ke kamar mandi.. ayo”. Dia menarik rantai leher saya lagi menuju ke kamar mandi.

Sampai di kamar mandi saya disuruh jongkok dengan kepala tengadah ke atas dan dia diri di atas saya sambil mengangkangkan vagina ke mulut saya. Kemudian terdengar suara desis air kencing yang keluar dari lobang vaginanya dan mengalir deras ke mulut saya tanpa tertahankan lagi. Dan saya tetap disuruh menelannya. Ketika air kencingnya mengalir mulai sedikit, dia menarik kepala saya dan saya disuruh membuka mulut lebar2, dia menekan mulut saya ke vaginanya. Saya disuruh menghisap sisa kencing tersebut sampai habis dan dijilatin hingga bersih karena dia tidak mau cebok lagi, cukup dengan jilatan saya saja. Setelah itu dia memandikan saya, kami mandi bersama tapi tangan dan kaki saya masih terikat sehingga dia dengan leluasa melakukan segala sesuatunya tanpa halangan. Dia juga membersikan lobang pantat saya karena itu akan diperlukan nanti dalam suasanaya selanjutnya.

Setelah selesai dia membawa saya keluar dan membukakan seluruh ikatan. Tapi dia membawa saya mendekati kerangkeng besi dan membukanya. Saya disuruh masuk. Dengan susah payah saya masuk dengan membungkuk, seperti sujut kemudiaan dia menekan pintunya dari atas untuk menutup. Memang agak sulit menutup pintunya karena kerangkeng tsb agak kecil, tapi dia memaksa menekan hingga benar2 bisa tertutup kemudian dia menggemboknya. Tinggal saya mengeluh ngeluh di dalam kerangkeng kecil tersebut yang terus dipandangi oleh Liza dengan baju basah kuyup hingga terlihat cetakan tubuhnya yang masih aduhai.

“Dod, kamu sudah cukup membuat saya puas tadi dan hadiahnya saya memasukkan kamu di kerangkeng kecil ini.. enak ‘kan?” Dia tertawa sambil memberikan jari2 kakinya ke jeruji besi menyuruh saya mengisapnya. Saya melakukan yang dia perintahkan meski yang bisa bergerak hanya mulut dan lidah, sementara semua badan tidak bergerak.

“Dod, tunggu sebentarnya didalam kerangkeng ini karena sebentar lagi dua orang teman saya akan datang dan saya akan mengganti baju basah ini dengan penampilan yang lain dan akan membuat kamu terpana lagi kok, betul deh.. tunggu ya”. Dia menghilang dibalik pintu, sementara saya terus meringkuk di dalam kerangkeng kecil ini menunggu, karena tanpa dibantu membukakan gembok, saya tidak lepas dari kerangkeng ini, sementara konci gembok dibawa oleh Liza.
“Sekarang saya mau mengajak kamu ke suatu ruang yang cukup jauh tempatnya dan kamu harus mengikuti saya, tidak boleh jatuh. Kalau jatuh tentunya kamu harus di hukum sampai kamu bangun kembali tanpa terdengan suara, ok?”

Dia mulai berjalan dengan menarik rantai yang menempel di collar saya dan saya mengikuti dengan susah payah dengan lari2 kecil karena langkah saya sangat pendek dan terhalang dengan restraint yang berantai sangat pendek. Dia melihat sambil tertawa dan terus berjalan serta menarik rantai tersebut. Sampai suatu saat saya terjatuh karena kalah langkah dengannya. Dia marah dan mulai mecambuk saya cukup keras yang membuat saya mengaduh dan berusaha berdiri.

“Saya sudah bilang tidak boleh jatuh dan bersuara, tapi kamu masih melawan”, katanya. “Saya tidak bisa mengikuti langkah kamu dalam keadaan seperti ini dan cambukan itu sakit”, kataku. “Wah, malah bicara.. berarti mulut kamu harus disumbat, ok?”

Tanpa bicara dia mengambil seutas tali lagi yang ada tergantung di tembok dekat situ dan dia membuka celana dalamnya kemudian menggulung gulung menjadi gumpalan.

“Buka mulut kamu yang lebar”, katanya. Saya diam saja memandang wajahnya. Sambil menampar mukaku dia memerintah lagi: “Saya bilang buka mulut kamu yang lebar, mau melawanya? Kamu tahu kan kalau melawan hukumannya akan lebih berat. Sekarang mau buka atau tidak? Saya tunggu 3 detik”.. Saya membuka mulut dan dia langsung memasukkan gumpalan celana dalamnya kemulut saya dan diikat dengan tali yang berlilit sampai tiga kali, kemudian diikatkan kebelakang kepala.

“Dod, sekarang biar kamu mau teriakpun tidak akan terdengar suara lagi. Kalau tidak percaya saya akan mengetesnya”. Dia mula mencambuk lagi ke badan dan saya hanya menggelinjang melompat lompat dengan teriakan yang tersumbat. Satu lagi, dia mulai mengitik ketiak, perut yang membuat saya geli dan tertawa tapi hanya suara kecil yang keluar dari mulut saya serta tidak bisa menghindar terlalu jauh karena langkah terhalang dengan belengu rantai yang pendek.

Sambil menjambak rambut saya dia berkata: “Bagaimana? Sekarang kamu mulai berjalan lagi ya, ok?” Dia mulai menarik lagi tapi ketika saya jatuh lagi dia mulai mencambuk lagi dan saya berusaha cepat berdiri tanpa suara tapi selalu diikuti muka yang meringis. Dia terlihat senang melihat adegan ini dan selalu berusaha mempermainkan saya. Sambil berlari-lari kecil dalam keadaan terikat dan bugil mengikuti langkah Liza yang disengaja jalannya agak cepat agar saya sulit mengikuti langkahnya.

Sampailah di suatu ruang yang tidak begitu besar dan agak redup karena lampu yang ada di situ hanya warna biru dan merah yang membuat suasana menjadi romantis tapi tegang karena di tembok tergantung segala macam peralatan BDSM dan semua terbuat dari kulit atau besi, serta terdapat pula bermacam macam cambuk, dari yang kecil sampai besar bentuknya. Terdapat pula sebuah tempat tidur yang disetiap sudut ada rantai dengan belenggu dan dibagian depannya ada seperti pedal sepeda. Mungkin untuk memutar agar rantai dapat ditarik.

Terdapat pula Xrack dari kayu hitam lengkap dengan belengunya, serta sebuah pasungan yang cukup aneh bentuknya. Ada beberapa rantai tergantung di atap, mungkin untuk menggantung dan di tembok terdapat putaran yang berbentuk henjotan sepeda pula yang dapat diputar untuk menaikkan rantai yang tergantung.

Terlihat dibawah rantai yang tergantung ada rantai dengan belengunya dua buah yang muncul dari dalam lantai. Itu juga mungkin bisa ditarik untuk meregangkan kaki karena letaknya cukup jauh kira-kira tiga meter dari lobang keluar rantai tersebut. Dan tak jauh di depannya muncul besi terpancang dari lantai kira 1 meter tinggi dan ujung atasnya seperti stir mobil. Mungkin alat untuk memutar dan menarik rantai yang keluar dari dalam lantai.

Terlihat pula seperti kerangkeng kecil, kalau dilihat dari bentuknya tidak muat untuk manusia. Mungkin kalau dipaksa sih pasti bisa tapi badan akan terhimpit menjadi kecil tanpa bisa bergerak lagi. “Wah mengerikan juga nih peralatan yang akan digunakan Liza kepadaku”, pikirku.
Meski terkurung dalam kerangkeng kecil ini, tapi aku dapat melihat sekitarnya di depanku. Tiba2 pintu2 terbuka, masuklah tiga orang wanita. Yang satu aku tahu bahwa itu Liza yang sudah berganti kostum.

Gemi muncul dengan gaun longdress tanktop dari bahan cotton hitam dengan membawa sesuatu ditangannya seperti collar. Ketiganya menghampiriku dan membukakan konci kerangkeng dan mengeluarkanku. Aku disuruh kneeldown menghadap mereka semua yang berjarak kira-kira 2 meter duduk disofa..

Gemi memperkenalkan teman2nya, yang bergaun hitam dari kulit bernama Valerie. Dialah wanita yang ia janjikan akan membantu mendominasi saya dan saya harus memberi pelayanan kepadanya. Seperti yang dikatakan Gemi, Valerie memang mempunyai tubuh yang indah meski baru 19 tahun dan mempunyai wajah yang sexy. Valerie memperkenalkan diri dengan tersenyum memberikan sebelah kakinya untuk dicium. Saya memegang kakinya dan mulai mencium. Setelah itu dia dengan menggunakan kakinya menginspeksi wajah saya sambil tersenyum manis.

“Wah Gem, boleh juga pilihan kamu, bodynya bagus dan ganteng lagi. Saya yakin bahwa dia pasti dapat memuaskan nafsu aneh saya. Sekali lagi trims ya di beritahu ada tangkapan seperti ini”.

“Tenang saja Vel, jatah kamu pasti ada dan mau seperti apa, pasti dia akan lakukan demi memenuhi hasrat kamu yang aneh itu, ok?

“Ok deh”

Gemi memperkenal temannya yang satu lagi bernama Tiara, dengan busana sexynya bewarna merah, tapi gaun panjang tersebut mempunyai belahan sampai ke pinggul dan cantik pula. Kalau dia lain lagi cara memperkenalkan diri, dia menyuruh aku menghampirinya, kemudian dia mencambak rambutku dan menekan mukaku ke pussy sambil berkata:”Hallo, saya Tiara, kamu harus kenal saya dengan harumnya pussy saya, ok? Mukaku digosok gosokkan ke pussynya diikuti dengan gelak tawa Gemi dan Valerie. “Dan kita akan menjadi slave bersama, terikat bersama, tersiksa bersama, tentu kamu suka, kan?”

“Ya saya suka”, jawabku sementara mukaku masih menempel di pussynya, dan tercium wangi parfum bercampur bau khas pussy. Hal ini membuat saya tegang kembali. Kemudian Tiara mendorong saya lagi agar kembali ke tempat.

Gemi berkata lagi: “Nah semua sudah berkenalan, jadi bagaimana kalau kita mulai saja slave game ini? Jangan buang waktu, sebaiknya banyak bekerja dari pada bicara, ok?

“Ok.. Ok.. Ok”

“Tiara.. tugas kamu sekarang cumbui dia seperti kamu sedang pacaran, cium dia dengan buas dan apapun yang terjadi jangan berhenti sampai ada perintah”. Bawa dia ke sebelah sana tepat dibawah rantai yang tergantung”.

“Ok Gem”

Tiara menarik tanganku untuk berdiri dan mengajakku sambil berpegangan pinggang menuju tempat yang dituju. Sementara sambil berjalan Tiara mulai menciumiku dengan buas. Mungkin pemandangan yang kontras sekali karena saya bugil dan dia lengkap dengan busana.

Sampai di tempat yang dituju, Tiara mulai memelukku dengan ketat dan menciumiku dengan buas dan aku membalas meciumnya dan memelukknya dengan ketat pula. Kami bermain lidah dibarengi suara2 desah sexy dari Tiara dan bukan dibuat buat, ini suara yang sebenarnya bahwa dia memang mulai terangsang. Saling bertukar ludah, berhimpitan, kadang dia memeras penisku yang sedang menegang. Terasa himpitan bdnya ke dadaku karena aku memeluknya dengan kencang.

Kejadian ini berjalan cukup lama dan tanpa terasa ada orang lain disekitar sini, dan tidak terasa bahwa kami sedang diperhatikan oleh Gemi dan Valerie yang sudah mendekat disebelah kami. Tapi saya tidak memperdulikannya karena sedang asik berciuman dengan Tiara yang belum pernah saya lakukan seperti ini buasanya terhadap wanita manapun.

Aku merasa ada tangan yang memegang kedua tanganku, ternyata itu adalah Gemi dan Valerie sementara Tiara makin mempererat pelukannya padaku dan terus berciuman. Kedua tanganku ditarik agar melepas pelukanku ke Tiara dan direntangkan. Terasa ada sesuatu yang membelengu kedua tanganku hingga tidak bisa lagi memeluk Tiara. Sementara Tiara terus memelukku dan aku terus berciuman karena tangan Tiara memegangi kepalaku. Ludah sudah membasahi semua mukaku tanpa terasa, begitu pula dia yang selalu dibarengi desahan Tiara tiada henti.

Terasa kedua tanganku mulai merentang, ternyata Valerie mulai memutar gulungan yang ada di tembok dan rantai mulai menarik kesamping samping atas kira-kira 120 derajat keatas, sementara aku tidak pernah dikasih kesempatan oleh Tiara untuk menengok dan terus berciuman.

Kemudian terasa ada tangan yang memegang kedua kakiku dan terasa ada belengu yang mulai menempel dikedua belah kakiku dengan ketat. Kemudian terdengar suara rantai berderit, ternyata Valerie mulai memutar stir yang ada di depanku dan kakiku mulai melebar tertarik hingga satu meter lebarnya tarikan tersebut berhenti. Akibat tarikan rantai di kakiku, tinggiku mulai menurun sampai mendekati bdnya Tiara. Dan Tiara mulai sedikit demi sedikit membuka penutup bdnya dan memaksa aku untuk menghisapnya. Aku mulai menghisap dengan kuat diiringi desahan Tiara yang tiada henti2nya. Tiara terus memegangi kepalaku agar aku tidak pernah berhenti melakukannya.

Tiba2 Tiarapun tingginya mulai menurun dan kami kembali bertemu muka, ternyata kaki tiarapun sudah dibelengu dan terentang sama denganku. Mereka mulai mengikat kakiku dan kedua kaki Tiara jadi satu sehingga aku dan Tiara tidak bisa lagi menggerakan kaki untuk menutup rentangan tersebut, tapi kami terus berciuman.

Mereka mulai melepaskan gaun Tiara satu persatu mulai dari tali dipundaknya dan gaun diturunkan ke bawah. Semua ikatan yang menahan gaun tersebut dilepas, maka terbuka semua membuat Tiara hanya memakai celana dalam saja dan sepertinya Tiara tidak perduli dengan semua itu, kami terus berciuman sampai ludah mulai menetes kebadan masing2.

Terasa ada yang melepas celana dalam Tiara hingga ia benar bugil seperti aku. Setelah itu mereka mulai memasangkan belengu dikedua tangan Tiara seperti dan disangkutkan dikedua pergelanganku maka sekarang lengkap lah bahwa aku terikat bersama Tiara dengan bentuk yang sama dengan badan yang menempel tapi sepertinya Tiara tidak perduli semua itu, kami terus berciuman.

Kemudian terasa tangan2 yang melumurkan minyak pelicin di dada, perut kami berdua, mungkin kalau bergesekkan agar tidak lecet.

Mereka mulai memasangkan collar di leher kami masing2 dan antara collar tersebut disangkutkan pengonci dengan rantai pendek, mungkin dengan maksud agar kami tidak bisa memundurkan kepala dan terus menempel mulut kami berdua agar terus berciuman.

Aku benar2 merasakan suasana ini dengan tegang dan nikmat, karena belum pernah mengalami hal seperti ini. Ternyata Gemi sudah lihai dengan cara2 seperti ini.

Akhirnya kami berhenti juga berciuman dan saling menikmati pemandangan atas perlakuan mereka terhadap kami berdua yang dilakukan oleh Valerie dan Gemini. Mereka mulai memasangkan belt kulit tipis agak lebar kira 2″ yang dilingkarkan dengan ketat ke kedua sikut kami, pangkal lengan dekat pundak setelah itu dikonci dengan gesper yang membuat badan atas mulai tidak bisa bergerak.

Kemudiaan mereka melingkarkan pula dada kami sehingga terasa BDnya Tiara menempel ketat ke dadaku, terasa kenyalan daging yang menghimpit dadaku.

Selanjutnya kedua dengkul kami dengan ketat. Gemi memegang penisku diarahkan ke lubang vagina Tiara. Mereka berusaha memasukkan penisku kelubang Vagina Tiara. Setelah masuk yang diiringi desahan Tiara, mereka mulai mengikatkan belt lagi dikedua paha kami, kemudian pengikatan beralih ke kedua pinggang kami. Maka lengkaplah ikatan tersebut membuat kami tidak bisa bergerak, sedangkan penisku bergerak gerak dalam vaginanya Tiara. Aku memandang muka Tiara, dia memejamkan mata dan berdesas seperti kenikmatan karena juga terasa kontraksi vagina Tiara yang memeras meras penisku. Hal ini cukup membuat aku mendekati klimax karena aku juga mulai memejamkan mata.

Mungkin Gemi dan Valerie menyadari keadaan ini seraya berkata ”

“Gem, lihat mereka berdua enak saja menuju klimax, cepat kita cambuk dia agar tidak jadi klimax”

“Ok Val, kamu sebelah sana ya, dan saya lebih senang memakai single tail ini, rasanya lebih perih”

Sambil mengeluarkan kata2 kotor mereka mulai mencabuk kami berdua dalam keadaan terikat seperti. Aku mengelinjang menerima cambukan keras itu, begitu pula Tiara karena terasa oleh gerakan gerakan tertahan oleh ikatan. Aku merasakan sakit atas cambukan2 tersebut sampai mengeluarkan suara begitu pula Tiara.

“Ouuch”.. Akhh.. Ouw”

Tiara menangis menahan rasa sakit tapi mulutnya terus menempel di mulutku dan menciumi lagi dengan buas, tapi ketika cambukan mampir dibadannya dia teriak juga tapi mulutnya tetap menempel bahkan ludahnya meleleh kemulutku.

Aku benar2 merasakan sesuatu yang aneh dan nikmat, sementara cambukan berlangsung, terasa bdnya Tiara mengeras, kontraksi vagina semakin terasa, usaha2 gerak pantat Tiara juga terasa.

Tiba2 cambukan berhenti, kami berdua menoleh kearah mereka, terlihat mereka berjalan menjauhi kami, Valerie ketembok, Gemi ke strir. Mereka mulai memutar, kami teriak2 kesakitan karena tangan mengencang naik keatas, kaki semakin melebar. Tapi herannya Tiara terus saja menciumiku meskipun ia teriak di mulutku.

Mungkin setelah mereka pikir sudah sampai limit dan kami benar2 tidak bisa membuat gerakan lagi meski sedikit, barulah mereka berhenti.

Mereka menghampiri kami lagi, masing2 membawa strap dildo. Bentuknya aneh, ada tiga buah dildo yang menempel distrap on itu, seperti gambar ini:

..Mereka mulai membuka baju semua sampai keduanya benar2 bugil. Ternyata keduanya memang masih mempunyai tubuh yang indah. Kemudian mereka mengambil botol yang berisi minyak pelicin, setelah memakai sarung tangan kedua mulai memeletkan minyak di semua dildo tersebut sampai sedikit tumpah karena kebanyakan. Kami berdua memperhatikan keduanya dengan tegang, terkadang kami berpandangan dengan tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.

Mereka mulai memakai strap on tersebut diiringi dengan desah2 mereka cukup keras tapi membuat suasana ruang ini menjadi ramai. Pertama mereka memasukkan dildo berbarengan ke lubang pantat dan lubang vagina, setelah itu mereka mengikatkan gesper di pinggang dan dikunci dengan gesper. Setelah selesai terlihat seperti tidak ada apa2nya atas hasil yang mereka kerjakan hanya terlihat mancung kedepan dildo yang bentuknya persis penis yang siap digunakan. Aku berpikir karena mereka memang bisex, mereka akan bercumbu. Ternyata TIDAK.

“Dod, Tiara.. kamu berdua siap klimax kan? Nah kita kita ini mau membantu agar klimax kamu terindah selama ini, terbuas, terenak dan selalu yang ter.. yaitu kami akan memfuck asshole kamu berdua”

Aku terperanjat: “HAH”, jadi mereka akan memfuck kedua pantat kami?

Mereka mulai membasahi lubang pantat kami dengan minyak yang telah diolehkan di jari2 mereka dan mulai menusuk nusukkan jarinya. Terasa olehku kebelet mau buang air, tapi hanya perasaan.

Berbarengan mereka mulai melakukan blowjob di kedua asshole kami diiringi teriakan desahan dsb hingga ruang ini jadi ramai.

Aku merasa sesuatu yang sangat lain, akibat blow job yang dilakukan mereka, terasa berahi mulai memuncak dan aku mulai berdesah keras. Ada perasaan nikmat dibarengi rasa sakit dari duburku karena dildo tersebut cukup besar dan cukup membuat regangan dubur. Darah mengalir semakin cepat dan tubuhku mulai bergetar, demikian pula yang aku rasakan atas tubuh Tiara yang menempel denganku.

Ternyata Tiarapun demikian. Mereka berduapun mulai berteriak teriak keenakan. Ternyata disamping mereka melakukan blowjob, mereka juga merasakan gerakan di dalam vagina dan dubur mereka atas dildo yang mereka masukkan kedalamnya dan dildo yang masuk ke vagina mempunyai vibra setelah mereka menyalakan tombolnya.

Oleh karena itu, suasana teriakkan teriakkan sexy memenuhi ruangan ini. Empat orang sedang merasakan kenikmatan menuju klimax. Sampai saatnya aku tidak tahan lagi maka muncratlah air maniku di dalam vagina Tiara dengan klimax yang tiada tara, dan Tiara merasakan itu dan merasakan kekerasana penis di dalam Vaginanya yang membuat ia teriak pula karena klimax tiada tara. Begitu pula Valerie dan Gemi, mereka berdua juga menggunakan vibra pada dildo tersebut yang membuat mereka klimax karena ketika klimax mereka memeluk kami berdua dengan kencangnya dibarengi dengan teriakkan yang tidak ada arti tapi itu teriak kenikmatan.

Setelah semua mencapai klimax kami berdua terus berciuman sedangkan mereka berdua mulai mengendurkan tarikan rantai di kaki dan tangan hingga tangan kami mulai menurun dan kaki kami dapat agak merapat. Tapi Penisku masih tersimpan di dalam vaginanya Tiara dan mulai mengeras kembali karena nyut nyutan di dalam vagina Tiara tidak berhenti, terus bergerak.

Mereka tidak berhenti sampai disitu, dengan cepat mereka membukakan semua ikatan kami, setelah terbebas mereka mengambil borgol berantai kira-kira 25 senti dan dipakaikan pergelangan kaki kami sedangkan tangan kami diborgol kebelakang. Selanjutnya kami digiring ke kamar mandi.

Sampai di kamar mandi aku disuruh membersihkan vaginanya Tiara dengan menjilat air mani yang aku keluarkan di dalamnya. Aku kneel down dan Tiara berdiri di atasku memberikan vaginanya agar dijilat olehku.

“Ayo Dod, itu kan air mani kamu sendiri, kamu harus ambil lagi dengan kata lain ditelan kembali karena nanti kami akan meminta lagi dari kamu jadi sekarang jangan dibuang. Ayo lakukan, hisap semua yang ada di dalamnya, LAKUKAN!!”

Aku mulai menjilat jilat dan menghisap, semua keluar meleleh ke mulutku dan aku menelannya. Tiara memandangiku dengan senang sekali dan terlihat dia mulai memejamkan mata lagi. Setelah selesai Tiara disuruh kneel sepertiku di sampingku, mereka berdua mendekati dan berdiri di atasku dan Tiara.

“Sekarang giliran kami yang harus dibersihkan dan sekalian kami mau kencing di mulut kalian dan harus ditelan, ok? Ayo bersihkan, jilatin sampai bersih dan siap2 menerima kencing kami dan siap2 menelan, jangan ada yang tumpah”

Kami mulai melakukan penjilatan dan penghisapan. Terlihat Tiara melakukan dengan buas seperti sedang mencium bibirku tadi. Melihat itu aku melakukan seperti dia juga. Ternyata hal ini sangat disenangi oleh Valerie dan Gemi. Mereka mulai menekan nekan pantatnya kearahku mulut kami berdua. Aku mulai merasa ada sesuatu yang akan keluar dari pisshole, aku menghisap lubang tersebut, terasa air kencing mengalir deras kemulutku dan aku berusaha menelannya agar tidak ada yang tumpah. Demikian pula yang dilakukan Tiara. Terasa cairan panas mengalir di kerongkonganku dan terasa bau pesing. Tapi bau pesing tsb membuat penisku tegang lagi. ANEH.. Perutku terasa kenyang oleh air kencing mereka, Karena sebelumnya aku sudah menelan dari Gemi sekarang dari Valerie. Aku tidak tahu apa jadinya perutku yang penuh dengan air kencing wanita2 ini.

Setelah selesai kami mandi berempat, mereka menyabuni kami berdua karena kaki tangan kami masih terborgol, jadi tidak bisa mandi sendiri. Bahkan mereka yang mengeringkan badan kami dengan handuk. Setelah selesai kami keluar dari kamar mandi.

Rupanya mereka sudah ada rencana lain terhadap diriku yang tentunya sesuatu mengenai penyiksaan dalam sex untuk kepuasan mereka.

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s