Keperkasaan Polisi Muda


Masih ingatkan denganku?Lihat lagi dong ceritaku dengan pegawai Telkom atau Tukang Bersih2. Ya, namaku Siti Maemunah, panggil saja aku Mae. Keluargaku cukup terpandang dengan gelar kebesaran mereka dari tanah Arabia, tapi masih kolot, apa-apa selalu dihubungkan dengan agama, huh… keluargaku adalah keluarga muslim yang teramat taat sehingga aku pun diwajibkan memakai baju kurung dan berjilbab sedari kecil. Namun segala sesuatu yang membuatku tidak bebas bergerak malah membuatku selalu ingin tahu dan aku sangat antusias bisa merasakan hal-hal baru di luar dunia kolot ini. Apalagi, ternyata aku tercipta menjadi seorang muslimah yang mempunyai hasrat nafsu sangat tinggi dan aku sangat bernafsu bila tubuhku dinikmati oleh banyak laki-laki, hal ini membuat lebih bersemangat. Mungkin aku jadi begini karena kehidupan sosialisasiku sangat terkekang semenjak kecil jadi ya beginilah, tahu enaknya di luar jadi susah ngilanginnya,he..he..he

Di kota ini aku lebih sering mengendarai motor bebekku, lebih gesit kalo mau pergi-pergi, kalau pengen naik mobil ya tinggal nebeng saja kan dengan lelaki. Gara-gara naik motor inilah, aku jadi punya lelaki cadangan untuk memuaskan dahagaku. Suatu hari aku harus ke tempat dosenku untuk menyerahkan tugas kuliahku yang belum kelar di daerah Kota Baru Jogja dan aku mengambil untuk jalan Tiro untuk lebih cepatnya dan saking terburu-burunya karena si Dosen mau pergi , aku nggak sengaja melanggar lampu merah padahal di perempatan Cik Di Tiro tersebut ada pos polisi,mampuslah aku.

Sampai di sebelah selatan Gramedia aku distop oleh seorang anggota polisi, kutaksir usianya masih muda, paling juga baru lulus dari Secaba di Purwokerto. Jadilah semua surat-suratku diperiksa dan seperti biasanya dengan Rp. 10 ribu serta bilang kalau anak kuliahan, loloslah aku, karena aku lagi ngejar waktu begitu ku kasih uang dan kuminta STNKnya aku langsung tancap gas tapi sepintas dia lumayan ganteng juga, tinggi dan tegap lagi, “Uu’uuhh… sial” batinku, gara-gara dosen gila aku jadi kehilangan tambahan cadangan kontol dah.

Fiiuhh.. untungnya si dosen masih keburu dan karena capek, aku langsung aja balik ke rumah. Sorenya, pas sehabis mandi lagi benerin jilbab karena mo jalan ada yang ngetuk pintu rumahku. “Kulonuwun… Assalamualaikum… ”, pikirku mungkin temen lelakiku ada yang dateng buat nagih jepitan dagingku, kebetulan banget aku lagi pengen di sodok-sodok, dengan masih memakai daster terusan kebanggaanku, aku buka pintu. “Maaf mbak Siti Maemunah, ini SIMnya tadi belum kebawa” kata lelaki berseragam itu. Uups, ternyata bapak polisi tadi yang datang. Kebetulan nih,aku lagi penasaran pingin ngrasain kontol berseragam dan kalau dipikir-pikir, ngapain polisi repot-repot nyari rumahku kalau nggak pingin mencoba yang lain? Aku jadi bergairah untuk menggodanya. “Oohh… trima kasih pak,maaf merepotkan” kataku, kutahu namanya Wibowo. P dari nama di seragamnya.

Ternyata dia lumayan tinggi, sekitar 170 cm-an, tubuh tegap dan ideal, kulit sudah mulai terbakar matahari dan wajahnya lumayan ganteng juga dengan kumisnya. “Panggil saja aku Mae” kataku supaya lebih akrab. Kita ngobrol banyak hal dan Bowo ternyata asik juga dibuat ngobrol walaupun gayanya yang tegas kadang kelihatan. Dan lebih kelihatan lagi saat matanya sering melirik tetekku dan aku sempat kaget saat aku sadar aku masih belum memakai bra jadinya bentuk tetekku lumayan tercetak di dasterku itu. Tapi itu membuatku jadi bertambah terangsang pingin dientotin sama kontol lelaki berseragam.

Tiba-tiba gerimis mulai turun dan karena kita masih di teras, aku ajak dia masuk ke dalam. Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pakaianku yang terusan tipis itu jadi agak tersingkap. Pahaku yang mulus kini sepenuhnya kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku.

“Sebentar Wo, saya ambil teh dulu,” kataku sambil bangkit dan berjalan ke dapur
“I..iya, Mbak..” jawab Pak Bowo agak tergagap karena lamunannya terputus oleh kataku tadi.
Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus berhasil menggoda Bowo, apapun caranya. Demikian tekad nakalku menari-nari dalam kepalaku.

Setelah mengambil minuman, aku duduk berhadap-hadapan dengan Bowo. Duduknya semakin gelisah melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.

“Eh.. anu, Mbak.. Boleh minta ijin ke kamar kecil, Mae.” , “Silakan, Wo.. Pakai yang di dekat dapur saja.” Kataku, “Baik, Mae… ” Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya.
Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa dipakainya. Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin deras saja.
Aku terkejut saat aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Piring bakpia hampir saja terlepas dari tanganku karena kaget. Rupanya aku salah menduga. Bowo yang kukira tidak mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

“Ma..maaf, Mbak.. say.. saya sudah tidak tahan… ” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.
Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kokoh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.
“Pak Bowo… apa-apaan ini” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Bowo yang semakin liar meremas tetekku dari luar gaunku.

“Ma..af, Mbaak.. say.. saya.. sudah tidak tahan lagi..” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting tetekku dari luar gaun tipisku.
Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan napsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Bowo yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.

Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri saat jilatan lidah Bowo yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Bowo hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Bowo beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku.
Aku semakin terangsang hebat saat tangan Bowo yang kasar menyusup celana dalamku dan meremas pantatku dengan gemas. Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.

Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi aku senang karena ini sensasi lain..!! Kasar dan liar… apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Bowo yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum… gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini.

“Aakkhhh….Bowoo… ooohh jaangg… aannhhhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.
Ya, harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Bowo. Bowo yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar dijilatinya dan dikecupnya punggungku di sana-sini sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis mulai menjilat-jilat pantatku.

“Aaa… … aakkkhh..Wo..aakhh..jang..aakkhhh”
Kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Bowo dengan rakusnya menggigiti dan mengecup kedua belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Bowo.
“Eemmmhh..pantat mbak indahh… ” kudengar Pak Bowo menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.

“Oouuucchhh… ssshhhhh… Aamm… … .ampunnhhh” aku mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus melindungi dan mengayomiku. Aku benar-benar pasrah total.

Liang memekku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Bowo menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium, menjilat dan menyedot-nyedot liang memekku dari arah belakang.
Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Aku sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini aku bermain gila dengan lelaki berseragam. Tapi aku tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi. Titik!
“Ooouuucchhh… sssshhhhh… tteerussshhhh.. Oohhh, Bowoooo… … oookkkhhhh… ”

Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Bowo menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Aku merasakan ada suatu desakan teramat dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku kelojotan menahan terpaan gelora kenikmatan.

Bowo semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan gelombang kenikmatan itu.
“Aaaa… … aakkkkhhh… Bowoooo… ooouucchhh aaakkkhhh… ”

Aku mendesis melepas orgasmeku yang pertama. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Bowo melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas sofa dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Bowo.
Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana seragamnya karena aku merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian aku merasakan benda itu menggesek-gesek belahan memekku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya kecoklatan.
Aku kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

“Hhhkkk… … hhhhhh… … sssshhh… … meeemm… … meeekkkkhhhh… Mbak… Mmaaee… …nni… benar-benar legithhhh… … ” Gumamnya di sela-sela napasnya yang memburu. Didesakkannya batang kemaluan Bowo ke dalam lubang kemaluanku. Ouhhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat…

Gila… Bowo menyetubuhiku di ruang tamu tempat aku biasanya belajar ngaji dengan Pak Fathoni dengan ibu-ibu disini! Dasterku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam sudah terbang entah kemana dilemparnya.
“Oooo… … uuukkkhhhh Bowoooo… … … aaaahhhh… .”

Aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Bowo mulai memompaku dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada sofa tamu, tubuhku disodok-sodok Bowo dengan gairah meluap-luap.

Tubuhku tersentak ke depan saat Bowo dengan semangat menghunjamkan kontolnya ke dalam jepitan liang memekku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadaku agak sesak menekan permukaan sofa! Tangan kirinya menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas pantatku dengan gemasnya.

Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Bowo. Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan kontol Bowo yang menghunjam dalam-dalam. Suara benturan pantatku dengan kontol Bowo yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Bowo semakin tajam tercium hidungku. Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar. “Oouuhhh… … mmmpphhhh… … terussshhh… … .. terushh… … yang kerass… ssshhh… … ” Aku menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat aku merasakan detik-detik menuju puncak.

“Ggooyyaaannggghhhh… … , Mmmhh… mmbaakkkhhh… kkkhhhheeemmm… … mmoothhinnhhh… … ”
Kudengar pula Bowo menggeram memberiku instruksi untuk memuaskan birahinya sambil meremas pantatku kian keras. Batang kontolnya semakin keras menyodok liang memekku yang sudah kian licin. Aku merasakan kontolnya mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.
Aku sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Mataku membeliak menahan nikmat yang teramat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara dasterku sudah basah oleh keringatku sendiri. Bowo semakin keras dan liar menghunjamkan kontolnya yang terjepit erat memekku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejang-ejang dan mulutnya menggeram keras.

“Aaarrrrggghhhh… terusshhhh, Mmbaakkhhh… goyangghhhh… … aaaarrrrggghhhhhh… .sshhhh… … ”
Kontolnya yang terjepit erat dalam memekku berdenyut kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku…

Ccrrroott… .ccrroottt… .crrrooottt… ..Serr.. serr.. serr… hhhaaaa… aaakkkhhhh… … ooouuucchhh… … ..
Beberapa kali air mani Bowo menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat-kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram dan menarik-narik jilbabku hingga aku merasa agak sakit dibuatnya. Tapi aku tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman kontolnya yang masih menyemprotkan sisa-sisa air maninya.

“Ooouuuccchhhh… aaakkkkhh.. terussshhh… … Bbhhoo… wwooo… ooookkkkkhhh… sssshhhhh… … ”
Tanpa malu atau sungkan aku sudah meminta Bowo untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya aku benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas aku dibuat oleh Bowo. Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Kontolnya kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan memekku. Perlahan namun pasti akhirnya kontol itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua.

Gila, banyak sekali Bowo mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan air mani yang menetes dari lubang kemaluanku ke lantai ruang tamu.

“Mbak benar-benar hebat… Saya jadi tergila-gila sama mbak… ” bisik Bowo di telingaku. Aku hanya diam merasakan batinku terpuaskan hasrat liarku. Ya, aku baru saja disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan muhrimku… Aku hanya bisa termenung tapi seluruh jiwaku sangat menikmati batang kontolnya. Persetan dengan aturan, toh yang membuat aturan adalah manusia juga. Yang kurasakan adalah bagaimana bisa merasakan permainan dunia dan aku sudah sering keluar masuk surga ini, aku teramat mencintai kenyamanan surga ini.
Kuremas tangan kekar Bowo yang sedang memeluk tubuhku. Bowo dengan mesra lalu menciumi tengkuk dan telingaku.

Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Bowo yang kekar. Lalu aku meninggalkan Bowo yang masih bugil dan lemas begitu saja untuk bergegas ke kamar mandi untuk membetulkan jilbabku yang awut-awutan, mencuci muka dan memekku yang teramat lembab oleh air mani kami tadi.

Aku keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan dasterku yang sebetulnya agak kotor kena keringat. Baru kusadari betapa kacaunya ruang tamuku! Meja tamuku sudah bergeser tak karuan. Sementara kulihat celana dalamku terlempar ke sudut ruangan dekat televisi. Bowo masih membetulkan celana seragamnya.

“Mbak, saya.. boleh numpang mandi, Mae… ” “Silakan, Wo.. Handuknya ada di dalam.” Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Bowo yang berceceran di lantai, kalau besok pagi Mbok Sarinem tahu bisa gawat aku. Sementara itu Bowo mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai..
Aku masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Bowo yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.
Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa ke meja makan di belakang ruang tamuku ini.

“Jangan di situ, Wo… ” bisikku, “Ke kamar tidurku aja… ”
Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan Bowo! Apalagi aku juga teramat menyukainya. Jadi aku menurut saja saat ia ingin menyetubuhiku lagi…
Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidurku. Kamar tidurku dilengkapi tempat tidur springbed, dan kamar mandi di dalam, serta AC! Tempat yang sama dimana aku juga sering menikmati kejantanan lelaki.

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Bowo menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.
Aku diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tipis terasa geli mengais-ngais hidungku. Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngais didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidahnya yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.
Aku sudah tak peduli kalau Bowo itu adalah seorang aparat yang harusnya melindungi dan mengayomi diriku dan walaupun aku baru mengenalnya sore tadi tapi dengan lelaki-lelaki yang masih asing bagiku justru ku dapatkan gairah yang meluap-luap. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Bowo mulai menyingkap dasterku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku yang masih berjilbab hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat tapi masih berjilbab!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mencuci memekku tadi. Lalu dengan sekali tarik Bowo melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!

Benar dugaanku! Ternyata kontolnya berwarna kecoklatan dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan senapan revolver yang biasa dibawanya ukurannya hampir sama besarnya!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang memekku menjepit benda itu!! Aku jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku padanya…

Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Bowo menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya meremas erat kepala berjilbabku. Aku merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Aku semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah tetekku yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!
Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Bowo mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh kucing lapar menemukan bandeng! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah tetekku secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut dan lidahnya.

Tanganku pun dibimbing Bowo untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.
“Oouucchhh… ssshhhhh… niikmaatthhhhh… ”
Mulutku tak sadar berbicara saat lidah Bowo yang panas dengan liar mempermainkan puting tetekku yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi tetekku, Bowo duduk di pinggir tempat tidur.
Dilepaskannya mulutnya dari tetekku dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Aku jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Bowo yang sudah duduk di kasur springbedku, aku jadi berdiri di atas kedua lututku. Tetekku yang kencang menjepit batang kontolnya yang kecoklatan dan keras itu!

“Hhhaaahhhh… sssshhh… .”

Bowo mendesis saat batang kontolnya yang besar dan kecoklatan itu terjepit tetekku. Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga tetekku semakin erat menjepit batang kontolnya. Aku merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Bowo yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal tetekku. Apalagi batang kontolnya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah tetekku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.

Aku tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Bowo yang kokoh menekan kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke arah kontolnya, sementara tangan satunya memegang batang kontolnya yang berdiri gagah di depan wajahku. Aku tahu ia menginginkan aku untuk mengulum kontolnya.

Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kontol Bowo yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.

“Aarrggghhhhh… … ter… … terushhh, Mbbaakkhhh… ”

Mulut Bowo mengoceh tak karuan saat kumasukkan kontolnya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kontolnya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangan Bowo terus memegangi dan meremas gemas kepalaku yang masih berjilbab seolah takut kalau aku akan menarik kepalaku dari selangkangannya.

Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan Bowo dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku yang masih berjilbab. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan kontolnya, mataku senantiasa menatap sendu mata Bowo. Sesekali aku pun melempar senyum genitku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh kontolnya. Dengan begitu, aku seolah ingin mengatakan padanya.

“Jangan khawatir. Aku tak akan menjauhkan kepalaku dari selangkanganmu. Aku akan terus memanjakan kontolmu yang besar dan panjang ini dengan mulut dan kedua tanganku… .”
Bowo pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh hasrat yang menggelora, bisa merasakan kontol seorang aparat penegak hukum.
Tidak puas bermain-main dengan batang kontolnya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kontolnya hingga ke pangkalnya. Bowo semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Bowo secara bergantian.

“Mmbb… mbaakk… … hheeb… … baathhh… ooohhh… sssshhh.. aakkkhhhhh… … ”
Aku semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Bowo yang ditumbuhi rambut. Bowo semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa memuaskannya.

Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Bowo dan dilemparkannya ke tempat tidur.
Aku masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Bowo. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis kontolnya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga kontolnya semakin ketat menempel di belahan pantatku.

Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyibak kain jilbabku dan menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.
Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Bowo kini mempermainkan lubang anusku. Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Aku hanya pasrah dan menikmati gairahnya…

Aku tahu Bowo melakukan itu karena aku pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Aku sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja aku sangat berterima kasih pada Bowo karena aku pun kini dapat menikmatinya.

Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.

Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, Bowo membalikkan tubuh telanjangku hingga kini aku terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan ia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.

Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Aku menggelinjang kegelian. Bibir Bowo dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu sambil sesekali menyentil, menggigit dan menarik-narik lembut kain jilbabku dengan giginya.
“Jang… jang… aannhh dimerah ya, Wwoo… ” erangku memohon padanya.
“Tidak.. Mbak… . saya cuma gemasss!!” desis Bowo sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.

“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot tetekku.

“Aaaauuwwww… … ” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

Rupanya Bowo dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua tetekku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Aku kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu.

Sementara itu tangannya terus bergerak liar meremas tetekku bergantian. Aku semakin mendesis liar saat mulutnyadengan liar dan gemas menyedot tetekku bergantian. Kedua puting tetekku dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang memekku berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangannya menguak labia mayoraku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang memekku yang sudah semakin licin.
Sensasi hebat kembali menderaku saat dengan liar mulutnya menggigit-gigit perut bagian bawahku yang masih rata. Perutku memang rata karena aku rajin berlatih kebugaran atau sekedar joging di sekitar kampusku.

“Aaakkkhhhh… Wwooo… ooouuucchhhhh… ssshhhh… .” Aku mendesis saat bibir Bowo menelusuri gundukan bukit memekku.

Lidahnya menyapu-nyapu celah di selangkanganku dari atas ke bawah hingga dekat lubang anusku. Lidahnya terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.
Tubuhku tersentak saat lidahnya yang panas menyusup ke dalam liang memekku dan menyapu-nyapu dinding kemaluanku. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar hingga wajah Bowo bebas menempel gundukan memekku. Rasa geli yang tak terhingga menderaku. Apalagi kumisnya yang tipis kadang ikut menggesek dinding lubang memekku membuat aku semakin kelojotan dibuatnya.
Tubuhku serasa kejang karena kegelian saat wajahnya dengan giat menggesek-gesek bukit memekku yang terbuka lebar. Perutku serasa kaku dan mataku terbeliak lebar. Kugigit bibirku sendiri karena menahan nikmat yang teramat sangat.

“Aaakkkhhh… … … Boo… woooohhhh… aakk… .kkkuuuuu… … oookkkhhhh… ssshhh… .”

Aku tak kuasa meneruskan kata kataku karena aku sudah keburu orgasme saat lidah Bowo dengan liar menggesek-gesek kelentitku. Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat. Aku tak bisa bergerak karena kedua pahaku ditindih lengannya yang kokoh.

Tubuhku masih terasa lemas dan seolah tak bertulang saat kedua kakiku ditarik Bowo hingga pantatku berada di tepi tempat tidur dan kedua kakiku menjuntai ke lantai. Bowo lalu menguakkan kedua kakiku dan memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.

Sejenak ia tersenyum menatapku yang masih terengah-engah tak berdaya di bawahnya. Sebuah senyum kemenangan karena ia telah berhasil mengalahkanku satu ronde! Aku pun tentu saja sangat senang diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki. Maka aku pasrah saja membiarkannya berbuat apa pun yang disukainya untuk melampiaskan nafsunya pada diriku sekarang.

Kemudian ia mencucukkan batang kontolnya yang sudah sangat keras ke bibir memekku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri.
Aku menahan napas saat Bowo mendorong pantatnya hingga ujung kontolnya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan liang memekku. Secenti demi secenti batang kontolnya mulai melesak ke dalam jepitan liang memekku. Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu memudahkan penetrasinya.

Rupanya Bowo sangat berpengalaman dalam hal seks. Hal ini terbukti bahwa ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh kontolnya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh kontolnya sudah terbenam seluruhnya ke dalam memekku.

Bibir Bowo memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan betapa kontol Bowo yang terjepit dalam memekku mengedut-ngedut.

Kami saling berpandangan dan tersenyum mesra. Tubuhku tersentak saat tiba-tiba Bowo menarik batang kontolnya dari jepitan liang memekku.

“Aaakkkhhhh… ” aku menjerit tertahan.
“Enak, Mbak… ?” bisiknya.
“Kamu nakal Woohhh… oohhh… ”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Bowo mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah ujung kontolnya menumbuk dinding rahimku di dalam sana.
Aku tidak diberinya kesempatan untuk bicara. Bibirku kembali dilumatnya sementara memekku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari kontolnya yang besar.

Setelah puas melumat bibirku, kini giliran tetekku yang dijadikan sasaran lumatan bibir Bowo. Kedua puting tetekku kembali dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut Bowo.

Tubuhku mulai mengejang… Gawat, aku hampir orgasme lagi. Kulihat Bowo masih belum apa-apa!! Ini tidak boleh dibiarkan… pikirku. Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga saat orgasme bisa merasakan kenikmatan yang penuh. Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga Bowo.
“Giliran aku di atas, Sayang… .”
Gila… ! Aku sudah mulai sayang-sayangan dengan polisi muda itu!
Bowo meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya. Lalu tanpa melepaskan kontolnya dari jepitan memekku, ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Kini aku sudah berada di atas tubuhnya.

Aku sedikit berjongkok dengan kedua kakiku di sisi pinggulnya. Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku. Mula-mula gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya goyangan para penyanyi dangdut. Kulihat matanya mulai membeliak saat batang kemaluannya yang terjepit dalam liang memekku kuputar dan kugoyang. Pantatnya pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.

“Ssshhh… oouuugghhh… terusshhh… Mmbaakk… aarrgghhhh… !”
Bowo mulai menggeram. Tangannya yang kokoh mencengkeram kedua pantatku dan ikut membantu menggoyangnya.

Gerakan kami semakin liar. Napas kami pun semakin menderu seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana. Cengkeraman tangan kekarnya semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk di atas kemaluannya. Kelentitku semakin kuat tergesek batang kontolnya hingga aku tak dapat menahan diri lagi.

Tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku tersentak-sentak ke belakang saat puncak orgasmeku untuk yang kesekian kalinya tercapai. Tubuhku mengejang kuat di atas perut Bowo. Ada semacam arus listrik yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Akupun menggeliat tak karuan.

“Aaaakkkkkhhhh… … … ooookkkkhhhh… ter… … rruussshhhhhh… , Wwooo… ooouukkkhhh… … aakhhh… aakkhh… aakkhh… … sssshhhhh… … ”

Aku menggelinjang dan menjerit melepas orgasmeku meminta Bowo untuk semakin kuat memutar pantatnya. Akhirnya aku benar-benar ambruk di atas perut Bowo. Tulang belulangku seperti dilolosi. Tubuhku lemas tak bertenaga. Napasku ngos-ngosan seperti habis mengangkat beban yang begitu berat.

Aku hanya pasrah saat Bowo yang belum orgasme mengangkat tubuhku dan membalikkannya. Ia mengganjal perutku dengan beberapa bantal hingga aku seperti tengkurap di atas bantal. Kemudian Bowo menempatkan diri di belakangku. Dicucukkannya kontolnya di belahan memekku dari belakang. Rupanya ia paling menyukai kalau aku menungging.

Setelah tepat sasaran, Bowo mulai menekan pantatnya hingga kontolnya amblas tertelan memekku. Ia diam beberapa saat untuk menikmati sensasi legitnya jepitan liang memekku. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Bowo mulai menggenjot memekku dari arah belakang.
Kembali terdengar suara beradunya pantatku dengan tulang kemaluannya yang semakin lama semakin cepat mengayunkan pantatnya maju mundur. Kurang puas dengan jepitan memekku, kedua pahaku yang terbuka dikatupkannya hingga kedua kakiku berada diantara kedua pahanya.

Kembali ia mengayunkan pantatnya maju mundur. Aku merasakan betapa jepitan memekku kian erat menjepit kontolnya. Aku bermaksud menggerakkan pantatku mengikuti gerakannya, tetapi tekanan tangannya terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja.

Aku benar-benar dibawah penguasaannya secara total. Tempat tidurku ikut bergoyang seiring dengan ayunan kontolnya yang menghunjam keras ke dalam memekku.

Nafsuku mulai terbangkitkan kembali. Perlahan-lahan gairahku meningkat saat kontolnya menggesek-gesek kelentitku.

“Uugghhh… uugghh… uuukkhhh… ”

Terdengar suaranya mendengus saat memacu menggerakkan pantatnya menghunjamkan kontolnya.

“Terusshhh… terusshhhh… .,Wwoo… geenjooothhh… yyaangg… … kkkhheerrr… .rrraasss… … ssshhhh… … aarrrrggggghhhhhh… aakkhh… aakkhh… .aakkhh… ooowwwhhhhh… … ssssstttthhhh… .sseerrr… .sseerrrr… ”

Kembali tubuhku menggelepar melepas orgasmeku. Kepalaku terdongak ke belakang, sementara Bowo tetap menggerakkan kontolnya dalam jepitan memekku sambil tangan kanannya menjambak jilbabku, meremasnya kuat-kuat sedang tangan kirinya meremas kuat tetekku. Kini tubuhnya sepenuhnya menindihku. Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur. Aku yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar pantatku untuk meraih kenikmatan lebih banyak.

Kami terus bergerak sambil saling berpagutan bibir dan saling mendorong lidah kami. Entah sudah berapa kali aku kelojotan mencapai orgasme selama bersetubuh dengannya. Hebatnya ia baru sekali mengalami ejakulasi saat ngentotin aku pertama tadi.

Tubuhku terasa lemas sekali. Aku sudah tidak mampu bergerak lagi. Bowo melepaskan kontolnya dari jepitan memekku dan mengangkat tubuhku hingga posisi terlentang.
Aku sudah pasrah. Dibentangkannya kedua pahaku lebar-lebar lalu kembali Bowo menindihku.
Memekku yang sudah sangat licin disekanya dengan handuk kecil yang ada di tempat tidur. Kemudian ia kembali menusukkan kontolnya ke bibir kemaluanku. Perlahan namun pasti, seperti gayanya tadi dikocoknya kontolnya hingga sedikit demi sedikit kembali terbenam dalam kehangatan liang memekku. Tubuh kami yang sudah basah oleh peluh kembali bergumul.

“Boowwooo… kkaammuu… hebatthhh..” bisikku.

Namun kami tidak dapat berbicara lagi karena lagi-lagi bibirnya sudah melumat bibirku dengan ganasnya. Lidah kami saling dorong-mendorong sementara pantatnya kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan.
Kulihat tonjolan urat di kening Bowo semakin jelas menunjukkan napsunya sudah mulai meningkat. Napasnya semakin mendengus seperti kerbau gila. Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakannya.

“Uuggh… ugghh… uuukkhhhh… ”

Dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di telingaku. Bibirnya semakin ketat melumat bibirku. Lalu kedua tangannya menopang pantatku dan menggenjot memekku dengan tusukan-tusukan gencar kontolnya. Aku tahu sebentar lagi ia akan sampai. Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku. Benar saja, tiba-tiba ia menggigit bibirku dan menghunjamkan kontolnya dalam-dalam ke dalam dasar liang memekku.

Ccrroot… crroott.. ccrrott… croottt.. cccrrroottt… “mmpphhh… ooookkkhhh… hhaahh… haahh… aaakkhhh… .” Desahnya. Ada lima kali mungkin ia menyemprotkan spermanya ke dalam rahimku. Ia masih bergerak beberapa saat seperti berkelojotan, lalu ambruk di atas perutku. Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi.

Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih. Kontolnya yang masih kencang tetap menancap erat ke dalam memekku. Keringat kami melebur menjadi satu. Akhirnya kami tertidur sambil tetap berpelukan dengan kontolnya tetap tertancap dalam liang kenikmatanku.
Hampir pagi ia membangunkanku untuk pamit pulang karena ia harus ikut apel pagi di kantornya. Sebelum pergi, Bowo sempat melumat hangat bibirku. Ohhh… nikmatnya kontol polisi muda ini, membuat aku ingin menikmatinya kembali.
III
Sudah hampir dua minggu sejak persetubuhanku dengan Bowo kami tidak melakukannya lagi. Selama itu aku kadang menikmati kontol-kontol teman kampusku tapi tidak ada yang membuatku menggelepar seperti Bowo. Duh,aku begitu bernafsu ingin merasakan kehangatan dan keganasan kontolnya kembali. Lama-lama aku merasa kangen juga dengan pistol gombyoknya (kontol,bhs prokem jogja.red). Aku sudah merindukan keliarannya, bau keringatnya dan juga kejantanannya.

Sabtu itu kuberanikan datang ke pos polisi dekat gramedia jogja untuk mencari tahu, tidak ada satupun polisi disitu yang menatapku heran karena aku memakai jaket angkatan yang bertuliskan almamaterku, kemeja panjang dengan tetap berjilbab jadinya kelihatan musilamah dan alim banget kan?ha..ha.. tetapi sayangnya dia lagi nggak bertugas di pos itu. Kata salah satu polisi tua disitu katanya saat ini dia lagi tugas jaga di pos Janti. Dengan mengucap terima kasih, akupun langsung meluncur ke pos jaga di Janti dan ternyata sesampainya di situ memang kulihat ada dua motor laki-laki. Aku pun langsung masuk ke dalam tetapi Cuma ada satu polisi yang sudah lumayan berumur. Dia mengatakan kalau Pak Bowo mungkin lagi istirahat di belakang pos karena sehabis tugas malam tadi, tanpa curiga karena dandananku yang kelihatan sholekah bapak itu menyuruhku langsung saja ke belakang. Pos jaga di sini memang menempel dengan rumah dibelakangnya yang oleh pemiliknya digunakan untuk titipan parkir mahasiswa yang mau pulang kampung dengan bus.

Bangunan itu nggak begitu besar, di ruang tamu dan terasnya sudah dijadikan tempat titipan motor terbukti banyak motor berbagai jenis yang ada di situ. Oleh penjaga disitu aku disuruh langsung ke belakang lewat celah samping rumah. Dengan penasaran aku masuk lewat samping rumah itu dan begitu aku menemukan pintu lagi aku masuk ke dalamnya yang ternyata sebuah ruang makan yang menyatu dengan dapur dan kamar mandi di sebelahnya dan sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak di sudut belakang rumah.

Kudengar suara parau mendendangkan lagu pop dengan suara fals. Itu suara Bowo yang sangat kukenal di telingaku. Ku duduk di salah satu kursi panjang di situ sambil minum air yang sudah kubawa dari rumah. Bowo yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku ada disitu. Tetapi kemudian dia tersenyum nakal mengetahui tujuan kedatanganku apalagi tiga kancing kemeja lengan panjangku sudah ku lepas dari tadi karena merasa agak gerah juga sehingga belahan dadaku lumayan mengintip dan rupanya memancing gairahnya.

Tanpa banyak kata Bowo berjalan menutup pintu kayu samping tadi dan menguncinya. Begitu pintu ditutup, Bowo langsung memeluk tubuhku dari belakang. Disibakkannya kain jilbabku lalu diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.
“Saya.. kangen sama Mbak Mae… ” bisiknya di telingaku.

Aku sendiri juga kangen dengan cumbuannya dan kangen dengan senapan revolvernya, bahkan birahiku sudah mulai meledak-ledak tadi saat melihatnya Cuma memakai handuk dan aku sudah nggak sabar untuk merasakan daging kerasnya lagi di dalam memekku.

Tangannya yang terampil segera melepas jaket angkatan yang ku pakai dan melemparkannya ke kursi. Mulutnya tak henti-hentinya menciumi tengkukku hingga membuatku menggerinjal karena geli. Ia tahu benar kelemahanku. Dijilatinya daerah belakang telingaku lalu tangannya melepas sisa kancing baju kemejaku satu demi satu dan dilemparkannya ke kursi tempat ia melempar jaketku tadi.

Begitu punggungku terbuka, dengan serta merta dicumbunya punggungku dengan jilatan-jilatan dan gigitan-gigitannya yang membuatku kangen. Kemudian dengan mulutnya digigitnya kaitan bra ku hingga terlepas. Tangannya yang kekar menyusup ke dalam kutangku dan meremas isinya yang penuh. Jari-jarinya dengan lincah memainkan dan memilin-milin kedua puting tetekku.
Setelah puas, dilepasnya kutangku dan dilemparkannya jadi satu dengan kemejaku tadi. Kini aku hanya mengenakan celana panjang sementara tubuh atasku sudah terbuka sama sekali. Jilbabku sama sekali tidak dilepasnya karena menurutnya membuatku lebih kelihatan cantik dan itu membuatnya sangat bergairah bisa bercinta dengan perempuan yang masih berjilbab.
Jilatan lidahnya terus merangsek seluruh punggungku dengan ganas. Seolah-olah orang yang sedang kelaparan mendapatkan makanan lezat. Kumisnya yang tipis dan jarang terasa geli menggesek-gesek kulit punggungku.

“Jangan di sini, Wwoo… oohhhhh… ”

Aku yang sudah mulai terangsang masih mampu menahan diri untuk tidak disetubuhi di dapur yang keliahatan jarang dibersihkan itu.
Tanpa banyak bicara didorongnya tubuhku masuk ke kamar satu-satunya yang ada di ruangan itu. Di situ tidak ada tempat tidur seperti di rumahku. Yang ada hanya kasur yang sudah agak kumal yang terhampar di lantai yang dilapisi karpet plastik serta meja kecil untuk tempat minuman, mungkin ruangan ini digunakan jika para polisi itu mengantuk atau membawa gadis-gadis yang pengen mereka nikmati waktu tugas jaga malam. Tubuhku didorong hingga punggungku memepet tembok tanpa plester di kamar itu. Kali ini bibirku langsung disosornya dengan ganas. Dilumatnya bibirku dan disisipkannya lidahnya masuk ke dalam mulutku mencari-cari lidahku.

Aku semakin gelagapan mendapatkan serangan-serangannya. Apalagi kedua tetekku diremas-remas dengan ganas oleh tangannya yang kasar. Bibirnya mulai merayap turun dari bibirku ke dagu lalu leherku dijilat-jilatnya dengan ganas. Aku semakin menggelinjang. Napasnya yang mendengus-dengus menerpa kulit leherku membuat seluruh bulu romaku berdiri. Dari leher, bibirnya terus turun ke bawah dan berhenti di dadaku. Sekarang giliran tetekku yang dijadikan bulan-bulanan serbuan bibirnya. Kumisnya terasa geli menyentuh dan mengilik-ngilik tetekku. Aku merasa semakin terangsang dengan ulahnya itu.
Dengan masih berdiri memepet tembok, celanaku dilucuti oleh tangan terampilnya. Aku membantunya melepas celana panjangku dengan mengangkat kaki dan menendang jauh-jauh. Tanganku pun tak tinggal diam, kutarik handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia telanjang bulat didepanku. Rupanya ia tidak mengenakan celana dalam!! Kontolnya yang panjang, besar dan berwarna kecoklatan gagah nampak tegak berdiri. Benar-benar jantan kelihatannya.

Tanpa disuruh, tanganku pun segera menggenggam kontolnya dan meremas serta mengurutnya.
“Oouugghhh… ssshh… terusshhhh, Mmaaee… ” desahnya, kini ia berani memanggil namaku saja.
Bowo mendengus keenakan saat kuremas-remas gemas dan kuputar-putarkan tanganku di kontolnya yang membuat aku tergila-gila.

“Aaakkkhhh… oouuccchhhhhh… .”

Kini giliranku yang mendesis kenikmatan saat kurasakan tangannya menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas-remas gundukan memekku yang sudah basah. Tidak Cuma itu… jarinya mengorek-ngorek ke dalam celah memekku dan mempermainkan tonjolan kecil di celah memekku. Aku semakin liar bergoyang saat jari-jarinya semakin masuk ke dalam liang memekku. Rasanya liang memekku semakin basah oleh cairan akibat rangsangannya itu.
Aku agak kecewa saat tiba-tiba ia menghentikan rangsangan di selangkanganku. Tangannya kini bergerak ke belakang dan meremas buah pantatku. Sementara itu mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek pusarku membuat aku kembali terangsang hebat. Tiba-tiba Bowo melepaskan tanganku dari batang kemaluannya dan bersimpuh di depanku yang masih berdiri. Serta-merta digigitnya celana dalamku dan ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku. Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku selain jilbabku tentu saja dan menendangnya jauh-jauh.

Kini mulutnya sibuk menggigit dan menjilat daerah selangkanganku. Dikuakkannya kakiku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa menggarap selangkanganku. Dengan bersimpuh Bowo mulai menjilati labia mayoraku sementara tangannya meremas pantatku dan menekannya ke depan hingga wajahnya lebih ketat menyuruk ke bukit kemaluanku.
Aku hanya bisa merintih saat lidahnya menyeruak ke dalam liang memekku yang sudah sangat licin. Ditekankannya wajahnya ke selangkanganku hingga lidahnya semakin dalam menyeruak ke dalam memekku. Aku semakin menggelinjang saat lidah Bowo dengan nakalnya mempermainkan kelentitku. Sesekali ia menyedot kelentitku dan menyentil-nyentil kelentitku dengan lidahnya. Gila… tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk karena harus menahan kenikmatan.

Bowo sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan nikmat. Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan tonjolan di ujung atas liang memekku. Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai birahi yang melandaku. Tubuhku berkelojotan. Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuhku melayang…

“Aaaaakkkhhh… .hhhhh… … teerrr… … ruusssshhhhhh… ssshhhh… … aakkhh… aaakkhhhh… … ”

Tubuhku terus berkejat-kejat sampai titik puncaknya dan kurasakan ada sesuatu yang meledak di dalam sana. Tubuhku melemas seolah tak bertenaga. Aku hanya bersandar dengan lemas ke dinding kamar tanpa mampu bergerak lagi.
Bowo lalu berdiri di hadapanku.

“Bagaimana, Mae..?” bisiknya di telingaku.

“Oohhh… luar biasa… kamu hebbb … bathh,” desahku.

Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding, Bowo menyergap bibirku lagi. Bowo menempatkan dirinya di antara kedua pahaku yang terbuka lalu dicucukkannya batang kontolnya ke lubang memekku yang sudah sangat basah. Dengan tangannya Bowo menggosok-gosokkan kepala kontolnya ke lubang memekku. Tubuhku kembali bergetar. Aku mulai terangsang lagi, saat kepala kontolnya menggesek-gesek tonjolan kecil di memekku.
Dengan perlahan Bowo mendorong pantatnya ke depan hingga kontolnya menyeruak masuk ke dalam liang kenikmatanku.

“Hhmmmhhhh… … hhhhhhhhh… … ”

Hampir bersamaan kami mendengus saat kontolnya menerobos memekku dan menggesek dinding liang memekku yang sudah sangat licin. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong dan saling melumat. Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan pantatnya. Bowo terus menekan dan mendorong pantatnya menghunjamkan kontolnya ke dalam memekku dengan posisi berdiri.

Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman, tiba-tiba Bowo mencabut batang kontolnya yang terjepit liang memekku. Ia membalikkan tubuhku menghadap dinding dan ia sekarang berdiri di belakangku. Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan kedua tangan menopang tembok. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar, lalu ditusukkannya kontolnya yang keras itu ke memekku dari belakang. Kali ini gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.

Kedua tangannya meremas dan memegang erat pantatku sambil mengayunkan pantatnya maju mundur. Kontolnya semakin lancar keluar masuk liang kenikmatanku yang sudah sangat licin.

“Ughh… .uugghhh… uuugghhhh… … ” Kudengar Bowo mendengus-dengus seperti kereta sedang menanjak.

Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantatnya dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor.

Napasnya semakin menderu saat kulakukan gaya ngeborku. Kontolnya seperti kupilin dalam jepitan liang memekku. Nafsuku yang sudah terbangkit semakin mengelora. Desakan-desakan kuat di dalam tubuh bagian bawahku semakin menekan. Kugoyang pantatku semakin liar menyongsong sodokan gencar kontol Bowo.

“Terusss… Mmaaee… terusshhh… ” Bowo mendesis-desis dan tangannya semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.

“Aaarrrgggghhhh… … aarrrgghhhhhh… . aakkkhhh… … ssay… .sssaayaaa… … .keluaaarrrrhhh,Mmaaee… … eessssshhhhh… .Hhhhhhhh… … ”

Kudengar Bowo menggeram saat kontolnya mengedut-ngedut dalam jepitan memekku. Aku pun merasa sudah di ambang puncak kenikmatanku. Kugoyangkan pantatku semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong tusukan Bowo hingga kontolnya melesak sedalam-dalamnya seolah-olah menumbuk mulut rahimku. Aku seperti melayang begitu puncak kenikmatan itu datang mengaliri sekujur tubuhku.
“Oooouuuccchhhh… .ssshhhhhh… .aakhh… aakkhh… aaakkkhhhh… .” Baru saja aku menikmati orgasmeku, kurasakan ada semburan cairan hangat dari kontolnya di dalam liang memekku.

Ccrrraattt… crrooott..crrrruutt… cccrroooottt..crott..!! “Uughhh… ugghh… hhaahhh… hahhh… aaaahhhh… ”

Banyak sekali cairan sperma Bowo yang tersembur menyiram rahimku, hingga sebagian menetes ke karpet plastik kamar tidurnya.

Kami tetap terdiam sambil mengatur napas. Tangannya memeluk dadaku dan kontolnya masih mengedut-ngedut menyemburkan sisa-sisa air mani ke dalam liang memekku. Akhirnya kami berdua menggelosor ambruk ke kasur kumal itu.

Kami berbaring dengan Bowo masih memeluk tubuhku dari belakang. Kontolnya yang sudah terkulai menempel di belahan pantatku. Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku dari kontolnya. Aku tak tahu dengan kain apa Bowo menyeka memekku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes dari labia mayoraku. Aku terlalu lemas untuk memperhatikan. Akhirnya aku tertidur kelelahan setelah digempur habis-habisan olehnya.

Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur itu. Aku tersadar saat ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku. Saat kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi adalah kontolnya yang sudah setengah ereksi.

Ternyata ia sedang berjongkok dengan mengangkangi mukaku. Tangannya memegangi batang kontolnya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku. Begitu melihat aku terbangun, serta-merta Bowo memegang bagian belakang kepalaku yang masih berjilbab dan mencoba memasukkan kontolnya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang kontol laki-laki!! Gila. Aku pun tak mempunyai pilihan lain kecuali menyambutnya dengan mulut terbuka… Walaupun sedikit gelagapan, tentu saja aku melakukannya dengan setulus hati. Sedikit demi sedikit batang kontol itu semakin mengeras dalam kulumanku.

Beberapa saat kemudian Bowo membalikkan posisinya. Kontolnya masih kukulum dengan liar kemudian ia menundukkan tubuhnya dan wajahnya kini menghadap selangkanganku.

Dibentangkannya kedua pahaku kemudian lidahnya mulai bekerja menjilat dan melumat gundukan memekku. Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian diselangkanganku sementara mulutku tersumpal kontolnya yang mulai membesar dan mengeras.

Aku ikut menyedot kontolnya saat Bowo menyedot kuat memekku. Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami masing-masing dengan posisi wajah Bowo menyeruak ke selangkanganku dan wajahku dikangkanginya.

Aku semakin menggelinjang liar saat lidahnya mengais-ngais lubang anusku dengan menekuk kedua pahaku ke atas. Aku sangat terangsang dengan perlakuannya itu. Apalagi saat lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke lubang memekku. Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal kontolnya yang teramat besar dan keras.

Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku. Bowo dengan ganas menjilat-jilat tonjolan kecil di lubang kenikmatanku dengan kedua tangannya membuka lebar-lebar labia mayoraku ke arah berlawanan. Aku tak mampu bertahan lama atas perlakuannya itu. Tubuhku mengejan dan kelojotan seperti cacing kepanasan. Lalu tubuhku tersentak selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Aku mengalami orgasme lagi dengan cepatnya.

“Mmmmhhhhhh… … eeehhhhhmmmm… … ”

Bowo masih membiarkan kontolnya menyumpal mulutku sambil sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding vulvaku. Setelah aku mulai dapat mengatur napasku, Bowo menggulingkan tubuhnya ke samping dan menarik tubuhku agar naik ke perutnya. Ia bergeser ke arah dekat dinding dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya kini setengah duduk.

Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu diangkatnya pantatku dan dicucukannya kontolnya ke lubang memekku. Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kontolnya secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang memekku. Aku menahan napas menikmati gesekan batang kontolnya di dinding lubang kemaluanku. Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh kontolnya ke dalam memekku.

Kini aku duduk di atas perut Bowo yang setengah duduk dengan punggung diganjal bantal. Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan. Sementara itu tangannya mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku naik turun, mulutnya sibuk menetek dan memilin-milin putting tetekku, tak ketinggalan lidahnya disentil-sentilkannya dengan teratur pada putingku yang semakin mengeras.
Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku. Karena dengan posisi ini aku dapat mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku dengan kontol laki-laki yang menancap keras di memekku.

“Aaaa… … aaakkkkhhhhh… sssshhh… teerrr… rruuushhh… … Wwooo… ooouucchhhh… .hhhhhkkk… ”

Aku mendesis-desis saat Bowo ikut mengimbangi goyanganku sambil kedua tangannya menekan kedua tetekku hingga kedua putingku masuk ke dalam mulutnya. Kedua putingku dijilat-jilat dan disedot-sedot secara bersamaan hingga membuat nafsuku meningkat secara cepat. Aku semakin liar menggerakkan pantatku di pangkuannya. Tubuhku kembali menggelinjang-gelinjang tak karuan dan kelojotan seperti terhantam aliran listrik.

“Terusshhh… … teee… rrrusshhh … oooouuuccchhh… … aaauuuhhhh… … aaaaakkkkhhhhhhh… … hhhooohhh… ”

Aku semakin liar mendesis saat kurasakan sesuatu meledak-ledak, kuremas kuat rambutnya. Ssseerrrrrr… … “Hhhh… hhaahhhh… hhhaaahhh… … mmmhhhhh… .aaaahhhhhh… .oookkhhh… .yyyaaaa… .. sssshhhhhh… … .” Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu akhirnya aku ambruk di dada Bowo.

Bowo lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan memekku. Bantal yang tadi mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga gundukan memekku semakin membukit. Aku yang sudah lemas kembali dijadikan bulan-bulanan genjotan kontolnya yang teramat keras.
Bibirnya tak henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa kontolnya, menusuk-nusuk memekku dengan cepatnya. Kedua tangannya mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat dalam menumbuk rahimku.

“Uugghh… ugghhh… putarrrhhh… Mmaaee… eeekkhhh… … puttaa… … aarrrhhh… uuugghhhhh… ”

Kudengar Bowo mendengus memerintahku memutar pantatku.

Aku mematuhi perintahnya memutar pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

“Terruuussshhhhh… … terrusss… … ssshhhhh… teerrr… oouugghhhh… … .!!”

Akhirnya dengan diiringi dengusan panjang tubuh Bowo berkelojotan. Tubuhnya tersentak-sentak dan hunjaman kontolnya serasa menghantam sangat dalam karena didorong sekuat tenaga olehnya. Jilbabku diremas dan digenggamnya dengan kuat. Batang kontolnya berdenyut-denyut cepat dalam jepitan liang memekku.

Crottt… crott..crott… sseeerrrrr… … “Aaaarrgggghhhhh… … aaaakkhhh… aakkhh… aakkhh… hhhhhhh… … ”

Kontolnya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam memekku. Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Tubuhnya masih berkelojotan untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam.

“Oouughhhh… Mbbaakkh… Mmaa… aaee… .hhhh… hebattthhhh… ” bisiknya di telingaku dengan napas yang masih ngos-ngosan.

Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku. Kontolnya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan liang memekku. Kami berdua sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih.

Hari sudah semakin siang saat aku bangun dari kasur. Aku kaget saat mau kupakai celana dalamku ternyata sudah basah oleh lendir yang masih menempel. Rupanya tadi Bowo menyeka lubang memekku dengan celana dalamku! Sialan juga, terpaksa aku tidak memakai celana dalam.
Dengan memakai celana dan baju kemejaku aku keluar ke kamar mandi dan cebok membersihkan lubang kemaluanku dari sisa-sisa lendir sehabis persetubuhan dasyat tadi.

Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku saat tiba-tiba Bowo yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar mandi. Belum selesai membenahi celanaku lagi-lagi Bowo merangsekku di kamar mandi yang kelihatan kuno itu.

Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku dari belakang. Bibirnya dengan ganas dan rakus menyibak jilbabku, menjilat dan mencumbu daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.

Melihat aku sudah dalam genggamannya, dilepasnya lilitan handuknya hingga ia telanjang bulat. Batang kontolnya yang sudah setengah keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku sengaja menekan pantatku mundur hingga menggencet batang kontolnya semakin terbenam di antara kedua belah buah pantatku. Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi.

Setelah keras, dicucukkannya kontolnya ke celah-celah sempit di gundukan bukit kemaluanku lalu digesek-geseknya ujungnya ke alur sempit itu yang sudah mulai basah.
Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku sebatas lutut dan Bowo menggenjotku lagi dengan posisi berdiri. Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari gentong tanah sambil setengah nungging sementara Bowo menggenjotku dari belakang sementara tangan kanannya dengan liar meremas-remas tetek kananku dan tangan kirinya menarik dan menjambak kuat kain jilbabku sambil sesekali jari-jari tangannya dimasukkan ke dalam mulutku, aku menghisap jari kekar itu dengan kuat sambil lidahku aku mainkan sama seperti waktu aku mengenyot kontolnya.

Dengan cepat ia menyodok-nyodokkan kontolnya yang besar itu ke dalam memekku , sambil kedua tangannya meremas dan memlintir kedua tetekku yang sudah menegang. Aku yang sudah diamuk birahi yang teramat dalam hanya bisa mengelinjang tak karuan. Akupun mendesah hebat tiap kali sodokan kontolnya yang begitu besar menghantam rahimku yang terdalam. Aku Cuma bisa mengerang kenikmatan sambil menggigit bibir bawahku, saking cepatnya sodokan kontolnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan yang mulai datang menderu dan untuk kesekian kalinya aku menggerinjal, tubuhku melengkung dan kepalaku yang berjilbab terdongak ke atas. Nikmat sekali. Ssserrrr… … ssseerrrrr… …

“Aaaaaa… … aaakkhhhhhhh… … aaakkuuu… kkkeeell… … llluuuaaarrrr… …
wooo… Okkkhhhhh… … akh… akh… aakkhhh… … ssshhhhhhh… hhhhhhhh… … ” Lolongku panjang

Melihatku berkelojotan dan mendesah-desah, membuat Bowo semakin bergairah mempercepat tusukan kontolnya, kontol itu menghujam rahimku lebih cepat dan akhirnya kesekian kali ia tusukkan teramat dalam kontol panjangnya ke dalam rahimku sembari menekankan pinggulku kuat-kuat ke arah pinggangnya. Ccrrooottttt… … croooooot… ccrroott…

“Uuugghhhhhhh… … hhaaahhhhh… … aaakkhhhh… … leeggiitthhhh… bbaaanggeetthhh… Mmaaee… mmee… meekmuu… uuuukkhhhhh… …
hhhhhhhhhhh… … hhhh… … aakkhhh… aaahhhhhh… ”

Ceracaunya dan rahimku benar-benar tersiram air kenikmatan yang teramat hangat. Tiba-tiba setelah tiga kali semprotan ke dalam rahimku, kontolnya yang panjang itu ia cabut dan sembari mengocok dengan tangan kanannya ia semprotkan kembali spermanya yang hangat itu ke mulut dan wajahku sambil tangan kirinya mendorong kepalaku yang berjilbab untuk menelan dan mengemuti kontolnya yang ternyata masih mengeluarkan sisa-sisa sperma yang ada. “Hhaagghh… hhaahh… haahhh… hhhhhh… … ”. Dengan gelagapan aku yang masih diamuk birahi kenikmatan langsung melumat dan mengenyot kontolnya sambil tanganku ikut mengurut batang kontol Bowo yang masih mengacung dengan kerasnya. Kujilat dan kutelan sampai habis semua spermanya, kusedot-sedot kuat kepala kontolnya sampai Bowopun menggelinjang geli dan nikmat. Iapun ikut menyeka sperma-sperma yang berceceran di jilbabku saking kuat dan banyaknya dan memberikannya kepadaku untuk aku jilati. “Uuuummmmhhh… Mae… kamu meem… bbuatkuu… melayang… mem… meek kamu… nnikk..mmaatthh… bangeettt… ” Pujinya kepadaku sambil ngos-ngosan.

“Kontol kamu juga bikin aku selalu kelojotan Wo, manteb banget” Balasku sambil masih menjilat-jilat kontolnya yang sudah mulai lemas tapi masih keras itu.
“Kapanpun kamu mau, aku siap melayani kamu” Katanya menirukan slogan kantornya.
Setelah diam sejenak kamipun bergegas merapikan baju masing-masing dan tak lupa sedikit kubasuh dengan sabun jilbabku yang terkena tembakan peluru kenikmatannya tadi. Kemudian Bowo mengantar aku keluar sampai Pos Jaga di depan. Sebelum menaiki motorku pun ia sempat meremas gemas pantatku.

Gila. Polisi muda satu ini memang gila! Bagaimana tidak ia sanggup membuat aku merem-melek keenakan dengan kontolnya yang gagah itu! Aku pun jadi teramat ketagihan dibuatnya dan semenjak itu ia menjadi salah satu kontol cadanganku di saat aku membutuhkan semburan kehangatan lelaki…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s